"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"

Friday, September 22, 2017

SELAMATKAN BADAK JAWA DAN BADAK SUMATERA

    Menyambut peringatan Hari Badak Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 September 2017 ini, Admin mengangkat topik tentang Mamalia Darat terbesar kedua setelah Gajah yang populasinya dari tahun ke tahun semakin berkurang, yaitu Badak : Mamalia berkulit tebal dan memiliki cula dibagian depan moncong kepala yang menjadi senjata bela diri hewan ini namun juga menjadi incaran para pemburu yang ingin mengambilnya dan memperjualbelikannya di pasaran gelap. Dalam banyak kasus untuk mendapatkan Cula Badak para pemburu tidak segan-segan membunuh dan membantai hewan ini sehingga populasinya semakin berkurang bahkan punah lokal di beberapa habitatnya di dunia.
Ayah, Ibu dan Anak Badak Putih Afrika bermain
    Kini tersisa 5 Jenis Badak yang masih bertahan di dunia padahal satwa yang diperkirakan sudah bermukim di bumi sejak 60 juta tahun yang lalu ini awalnya berjumlah 30 jenis, namun seiring waktu secara perlahan beberapa subspesies mengalami kepunahan. Dari ke 5 jenis Badak yang tersisa di dunia, 2 subspesies ada di Indonesia yaitu Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) yang bertahan hidup di TN Ujung Kulon Pulau Jawa dan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang hidup di Pulau Sumatera dan Kalimantan. 
   Badak merupakan satwa berkuku ganjil (Perrisodactyla) yang masuk dalam anggota super-famili Rhinoceratoidea, keluarga super yang menghimpun seluruh spesies badak termasuk seluruh fosil keluarganya. Bila dirunut, badak berasal dari rumpun Hyracodontidae (badak yang suka berlari) dari zaman Eocene hingga keberadaannya melimpah di zaman Oligocene yang ditandai dengan berbagai jenisnya.
    Ciri istimewa lainnya adalah badak memiliki pertulangan yang hampir menyerupai gajah yaitu memiliki sistem tulang belakang dengan neural spines yang panjang dengan tulang rusuk yang banyak. Secara bersama, tulang tersebut membentuk satu ikatan pemikul beban yang bertumpu pada bahu depan sebagai pengimbang beban kepalanya yang berat. Uniknya, semua jenis badak yang ada saat ini memiliki tiga jari pada kaki-kakinya, sebagai hal yang membedakan dengan pendahulunya dengan empat jari pada kaki-kakinya.
 Badak Hitam Afrika (Diceros bicornis)
     Seiring evolusi dan kepunahannya, kini, badak tersisa di dunia hanya 5 jenis yang persebarannya hanya di Benua Afrika (2 jenis) dan Asia (3 jenis). Jenis tersebut adalah badak india (Rhinoceros unicornis), badak jawa (Rhinoceros sondaicus), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan dua badak di Afrika yaitu badak hitam (Diceros bicornis) dan badak putih (Ceratotherium simum).
    Indonesia boleh berbangga memiliki 2 subspesies Badak yang masih bertahan kelestariaannya hingga saat ini, namun kebanggaan ini jangan membuat kita lengah tanpa ada upaya konservasi yang ketat disertai regulasi hukum buat pelaku pemburu badak yang masih ada terutama di Pulau Sumatera yang cakupan hutannya cukup luas sehingga memungkinkan para pemburu cula badak mencari celah dari aparat penagak hukum dan melakukan perburuan satwa langka kebangggan Indonesia ini. 
Badak Sumatera dan Anaknya
   Dalam sejarahnya Badak Sumatera mempunyai habitat dengan distribusi yang luas mulai dari Assam (India)Myanmar, Thailand,Indo-china, Malaysia dan Kalimantan (Sabah/Malaysia). Namun saat ini Badak sumatera tidak lagi ditemukan di daerah-daerah tersebut. Populasi terakhir di Malaysia punah tahun 2015, sehingga populasi Badak sumatera hanya tersisa di Indonesia. Namun populasinya terus menurun dan hanya ditemukan di Taman Nasional Leuser, Bukit Barisan Selatan, dan Way Kambas di Pulau Sumatera. Sedangkan di Kalimantan yang awalnya dianggap punah ternyata secara mengejutkan ditemukan populasi kecil sekitar 8 ekor badak bertahan di TN Kutai Barat.
    Tidak berbeda dengan Badak Sumatera, nasib Badak Jawa juga mengalami hal sama, bahkan populasi Badak Jawa yang dulu ditemukan di daratan Asia dari India, Indo-china, semenanjung Malaya dan Pulau Sumatera saat ini distribusinya terbatas di satu tempat sebuah Taman Nasional kecil yaitu Ujung Kulon. Badak Jawa terakhir di daratan Asia dinyatakan punah setelah pelestari terakhir ditembak pemburu di TN Cat Thien, Vietnam sehingga TN Ujung Kulon merupakan satu-satunya tempat di dunia tempat bertahannya populasi Badak Jawa, hewan paling langka di dunia.
   Tragis memang nasib Badak Jawa, setelah hampir seabad lebih menjelajah hutan hujan di Pulau Jawa, kini mereka tersudut pada habitat sempit di ujung barat pulau Jawa yang sangat rentan dengan bencana. Perlu ada upaya relokasi sebagian Badak Jawa ke habitat yang lebih aman dengan memperluas TN Ujung Kulon kearah Timur dan menyambung dengan koridor hutan yang tersisa ke TN Gunung Halimun-Salak hingga kekuatiran bencana Tsunami apabila Anak Krakatau meletus dahsyat tidak sampai merenggut populasi Badak Jawa yang tersisa di Ujung Kulon.
Badak Jawa di Cigenter, Ujung Kulon
   Admin ingat dan paham benar bahwa ancaman populasi Badak selain faktor alam adalah faktor manusia. Masyarakat Badui di Lebak masih begitu kental dan dekat dengan sosok Badak Jawa yang berarti kepunahan Lokal Badak Jawa di daerah itu belum begitu lama. Demikian pula bila kita mendaki gunung Gede-Pangrango maka kita akan menjumpai pos pendakian Kandang Badak yang berarti mamalia ini dalam sejarahnya pernah mendiami kawasan ini. Adanya Populasi Badak Jawa di kawasan ini sempat disaksikan Junghun Botanis Jerman pada tahun 1839 ketika mendaki gunung Gede-Pangrango saat dua badak Jawa dilihatnya berendam di sungai kecil di kawasan ini. Sedangkan Badak Jawa terakhir di luar Ujung Kulon sengaja ditembak di daerah Tasikmalaya tahun 1934 oleh aparat Belanda dengan dalih mamalia ini tinggal tersisa sendirian, dan akhirnya ditembak mati untuk mengakhiri penderitaannya. Keputusan ini diambil karena Badak Jawa Jantan ini sejak tahun 1914 kehilangan pasangan betinanya yang mati ditembak pemburu. Untuk menyelamatkannya dari pemburu dan usianya yang sudah tua maka Badak Jawa Jantan ini akhirnya ditembak mati di daerah Sindangkerta, Tasikmalaya guna kepentingan Ilmu Pengetahuan. Spesimen Badak Jawa jantan yang ditembak ini bisa kita lihat awetannya di Museum Zoologi, Bogor.
   Untuk mengetahui bagaimana kondisi perkembangan terakhir populasi Badak Sumatera dan Jawa, adimin mengutip artikel yang ditulis di Laman Mongabay, situs lingkungan yang berpusat di Amerika Serikat namun sangat peduli dengan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia dengan tulisannya yang cerdas, informatif, detail, akurat , lengkap dan dapat dipercaya.

Badak Sumatera
    Badak bercula dua ini posturnya paling kecil bila dibandingkan dengan jenis badak lainnya, tingginya sekitar 120 cm-135 cm dengan panjang tubuh 240-270 cm. Pemberian nama Dicerorhinus sumatrensis oleh Fischer pada 1814 dianggap paling tepat yang hingga kini tetap dipertahankan meskipun pernah juga diberikan nama berbeda seperti Ceratorhinus sumatrensis (sumatranus) maupun Rhinoceros lasioti.
    Widodo S. Ramono, Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia (YABI) menyatakan, populasi badak sumatera saat ini cenderung menurun. Bila tahun 1993 jumlahnya diperkirakan sekitar 200 individu, saat ini susut menjadi 100 individu. Keberadaan badak ini tersebar di Taman Nasional gunung Leuser, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, hingga di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Sedangkan di Kerinci Seblat, diperkirakan sudah tidak ada lagi. “Sejak para ahli menyatakan badak sumatera yang ada di hutan Malaysia punah, Agustus 2015 ini, praktis keberlanjutan hidup badak tersisa bergantung pada keberhasilan dan upaya konservasi kita semua,” ujarnya saat gelaran World Rhino Day di Jakarta, Minggu (27/9/15).
 Badak Sumatera di TN Way Kambas
     Menurut Widodo, populasi besar badak sumatera sekarang terbatas, sekitar 30-35 individu. Sisanya, sangat sedikit sekali. Sehingga, semakin kecil populasi badak semakin rentan pula menuju kepunahan. Habitat badak yang tergerus akibat perambahan hutan dan pembalakan liar turut mempercepat proses kepunahan. “Ini juga ditambah dengan adanya tumbuhan spesies yang sifatnya mengganggu tanaman pakan badak. Misalnya, di Bukit Barisan Selatan ada tanaman merambat dari keluarga ubi jalar sedangkan di Way Kambas, bahaya muncul dari tanaman kayu putih yang menutupi padang rumput.”
    Agar kelestarian badak sumatera terjaga, lanjutnya, upaya utama yang harus dilakukan  adalah menjaga keberadaan badak agar aman dari berbagai ancaman. Terlebih perburuan. Langkah berikutnya, bila memungkinkan mengembalikan kembali populasi badak seperti sediakala. “Ini juga kalau bisa.”
   Terkait keberadaan badak sumatera dengan populasi kecil, sekitar 8 individu yang teridentifikasi di Kalimantan Timur, Widodo menuturkan, bila dibiarkan, badak tersebut tidak akan selamat. Pertolongan pertama yang harus dilakukan adalah melakukan agregasi agar badak-badak itu lebih sering bertemu untuk berbiak. “Badak sumatera tidak mudah untuk breeding, dalam satu periode estrous antara 20-25 hari hanya ada 4 hari badak betina mau didatangi badak jantan. Untuk itu, populasi badak yang berjumlah besar harus dilindungi sedangkan populasi kecilnya harus dipersatukan.”   
Senada, Haerudin R. Sadjudin, ahli badak yang telah berkecimpung empat dasawarsa dalam program konservasi badak di Indonesia menuturkan, kondisi badak sumatera memang sangat mengkhawatirkan. Ini ditandai dengan jumlahnya yang hanya 100 individu dan berada di empat tempat berbeda. “Tahun 1980-an, sebarannya masih ada di Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Tahun 1990 hingga 2000-an, masih terlihat juga di Sabah dan Serawak, Malaysia. Kini, badak sumatera tersisa hanya ada di Indonesia yang diharapkan dapat dijaga dan dikembangkan populasinya.”
    Terkait populasi badak sumatera yang ada di Kalimantan, Haerudin menuturkan, bila dilihat dari catatan zoogeography, persebaran badak dari Sumatera, Semenajung Malaysia, dan Kalimantan, menunjukkan badak merupakan satwa yang berada di bagian Oriental. Awalnya, disatukan dengan Sunda Land. Saat badak sumatera masih tersebar di Tiongkok, India, Bangladesh, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaysia, termasuk Kalimantan dan Sumatera, badak ini diklasifikasikan dalam tiga subjenis berdasarkan persebarannya.
    Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis berada di Sumatera, Malaysia, dan Thailand. Dicerorhinus sumatrensis harrissoni wilayah Kalimantan. Sementara Dicerorhinus sumatrensis lasiotis tersebar mulai dari Myanmar bagian utara hingga Assam dan Pakistan bagian timur. “Artinya, bukan badak sumatera yang ada di Sumatera “merantau” ke Kalimantan atau Malaysia. Namun, semua itu disatukan tata namanya oleh Linnaeus (1786) yang mendapatkan spesimen awal badak dari Sumatera,” jelas Haerudin.

Badak jawa
    Setali tiga uang, kondisi badak jawa juga memprihatinkan. Sejak dinyatakan punah di Vietnam pada 2010, saat ini badak jawa hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Berdasarkan catatan Balai TNUK 2015, jumlahnya diperkirakan sekitar 60 individu. Bila dilihat persebarannya dahulu, badak jawa berada di wilayah yang luas yaitu Bengal hingga Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Jawa.
 Video Badak Jawa Di Ujung Kulon
    Sunarto, Wildlife Specialist WWF-Indonesia menilai, populasi badak jawa saat ini masih stagnan sehingga perlu strategi untuk mengembangkan populasinya. Pengembangan populasi ini, nantinya tidak hanya untuk menambah jumlah saja melainkan juga untuk menyelamatkan mamalia besar ini dari kepunahan.
    Strategi yang dimaksud adalah melalui ‘kloning” dengan individu lain, mengingat jumlah badak yang ada di Ujung Kulon sekitar 60 individu, termasuk dengan tiga kelahiran bayi badak juga. “Usaha dan upaya mengembangkan populasi badak dengan individu lain ini sayangnya menghadapi kendala ketersediaan habitat. Padahal, badak jawa akan lebih terancam bila populasinya hanya terdapat di satu wilayah saja. Apalagi, wilayah ini makin terancam,” ucapnya saat peringatan Hari Badak Internasional di Jakarta, belum lama ini.
    Menurut Sunarto, WWF-Indonesia saat ini sedang melakukan survei habitat dengan melihat kesesuaian biofisik. Tentunya, ada beberapa faktor yang harus pertimbangan dalam penentuan habitat baru tersebut. Diantaranya, ketersediaan pakan, kubangan untuk reproduksi, biaya pemindahan, dan risiko pemindahan. “Sejumlah lokasi alternatif yang berada di sekitar TNUK merupakan prioritas untama konservasi badak jawa yang harus dilakukan.”
    Selain strategi “kloning” dan penyediaan habitat alternatif, Sunarto juga menyebut, harapan lain untuk mengetahui populasi badak jawa melalui penggunaan kamera jebak. Kamera ini disebar dan dipasang di habitat badak. Data yang diperoleh dari jepretan itu diolah untuk mengembangkan peta persebaran atau jelajah individu badak yang dipantau. Tujuannya, untuk mempersiapkan individu yang akan dipindahkan.
   “Data yang dikumpulkan dari kamera jebak tersebut seperti penampakan individu, wilayah jelajah, jenis kelamin, waktu kemunculan, dan keaktifan individu. Tentu saja untuk mendapatkan data-data ini jumlah dan kapasitas kamera jebak harus dioptimalkan. Saat ini, terdapat 120 kamera jebak di TNUK.”
 35 Individu Badak Yang Terekam Kamera Trap Di TN Ujung Kulon
    Sunarto menambahkan, kamera jebak yang ada saat ini masih dioperasikan manual. Sehingga, harus dicek berkala, apalagi kamera masih terkendala dengan ketersediaan sumber daya (baterai). Jika bisa tersambung dengan solar panel dan nirkabel, tentu akan lebih memudahkan. Meski begitu, kamera yang ada ini masih bisa dioptimalkan fungsinya. Contohnya bisa memindai tingkah laku badak, hormon, atau jenis individunya.
Tatang Mitra Setia, pengajar di Fakultas Biologi Universitas Nasional menuturkan, badak sering disebut binatang pemalu terhadap manusia. Namun, badak bukan pemalu, tetapi karena penciumannya sangat sensitif terhadap manusia.
    Tatang pun menjelaskan mengapa badak suka berendam dan berkubang di lumpur. Ini dikarenakan untuk melindungi dirinya, selain sebagai ajang pendekatan individu jantan dan betina. “Kubangan itu tempat “pedekate” mereka sebelum mereka melakukan perkawin.”
    Persebaran badak jawa yang berada di TNUK saat ini masih dibatasi oleh ketersedian air, potensi pakan, kondisi tofografi, dan gangguan baik dari alam maupun manusia. Berdasarkan catatan penelitian, badak jawa terakhir yang hidup di Myanmar pada 1920, mati ditembak untuk koleksi British Museum. Badak Jawa terakhir juga ditembak mati di Perak Malaysia tahun 1932 juga untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan koleksi Museum, Sedangkan badak jawa yang berada di Sumatera, diperkirakan mulai punah pada pertengahan 1940-an setelah 12 ekor ditembak pemburu belanda antara tahun 1925-1930. Sedangkan badak jawa terakhir di daratan Asia, ditembak mati oleh pemburu di Taman Nasional Cat Thien, Vietnam pada bulan Aprl 2010. Saat ini harapan bergantung pada Indonesia, sebagai satu-satunya negara yang masih memiliki populasi Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Mari kita bersama-sama menjaga, melestarikan dan bahu-membahu mengamankan Badak Jawa sampai titik darah penghabisan.
   
Sumber Referensi : Mongabay Indonesia, WWF Indonesia

Thursday, September 21, 2017

BUMI : PLANET BIRU YANG DIHUNI KEHIDUPAN

Bumi adalah salah satu dari Delapan planet dalam sistem Tata surya kita yang terletak pada urutan ketiga dari matahari. Meskipun hanya berupa bagian yang sangat kecil dari alam semesta, namun Bumi menjadi rumah bagi semua mahluk hidup. Bahkan menurut pengamatan sejauh ini, bumi merupakan satu-satunya planet di alam semesta yang dihuni oleh mahluk hidup.
    Diantara delapan planet yang terdapat pada Tata surya, bumi termsuk planet terbesar ke lima. Diameter bumi mencapai 13.000 km. Seperti planet-planet yang lain, bumi mengelilingi matahari dalam orbitnya. Jarak rata-rata bumi dari matahari sekitar 150 juta km. Orbit bumi tidak berbentuk lingkaran sempurna, tetapi agak oval. Jarak terdekat antara bumi dan matahari terjadi pada bulan Januari, yaitu sekitar 147,3 juta km, sedangkan yang paling jauh terjadi pada bulan Juli, yaitu sekitar 152,1 juta km. Bumi memerlukan waktu 365,25 hari untuk menyelesaikan satu kali revolusi putaran mengelilingi matahari. Adapun untuk berotasi berputar pada porosnya, bumi memerlukan waktu sekitar 24 jam.
Bumi dari Satelit
Susunan Bumi
    Bumi tersusun atas beberapa lapisan. Lapisan teratas pada permukaan bumi disebut kerak bumi. Ketebalan kerak bumi berbeda-beda. Di bawah benua ketebalannya mencapai sekitar 70 km. Adapun dibawah lautan ketebalan kerak bumi hanya sekitar 6 km. Sekitar 3/4 bagian dari kerak bumimengandung silika, yaitu campuran antara unsur selikon dan oksigen. Temperatur di bagian bawah kerak bumimencapai 1.000oC.
    Di bawah kerak bumi terdapat lapisan yang disebut mantel bumi. Mantel bumi merupakan lapisan batuan yang tebalnya sekitar 2.900 km. Di bawah mantel bumi terdapat inti bumi. Inti bumi terdiri dari 2 lapisan, yaitu lapisan inti luar dan inti dalam. Lapisan inti luar yang tersusun atas besi cair memiliki ketebalan sekitar 2.000 km. Temperaturnya mencapai 2.200oC. Lapisan inti dalam yang terletak dipusat bumi berupa sebuah bola yang berdiameter 2.740 km. Bagian ini tersusun atas unsur besi dan nikel padat. Temperatur inti dalam mencapai 4.500oC.
    Selain itu bumi juga diselimuti oleh lapisan udara yang disebut atmosfer. Lapisan udara setebal 2.000 km ini mengandung sekitar 78% nitrogen, 21% oksigen dan sisanya berupa argon dan sejumlah kecil gas lainnya. Lapisan atmosfer berfungsi untuk menjaga bumi agar tidak terlalu dingin sekaligus melindungi mahluk hidup di bumi terhadap radiasi sinar ultraviolet dari matahari.

Rumah bagi mahluk hidup
   Menurut pengamatan para ahli astronomi sampai saat ini, bumi merupakan satu-satunya planet di alam semesta yang menjadi tempat berlangsungnya proses kehidupan. Hal ini disebabkan karena bumi memiliki oksigen dan air, dua komponen penting yang menunjang kehidupan. Tumbuhan, hewan, dan organisme yang lain dapat hidup di permukaan bumi., karena bumi memiliki jarak tertentu dari sinar matahari sebagai sumber energi. Apabila bumi berada terlalu dekat dengan matahari, maka bumi akan menjadi terlalu panas untuk ditinggali. Adapun jika terlalu jauh dari matahari, maka bumi akan menjadi terlalu dingin. Selain itu mahluk hidup juga memerlukan air yang banyak tersedia terdapat di Bumi. Sekitar 70% air di bumi dapat ditemukan di laut, sungai dan danau.
 Planet Bumi
 Struktur lapisan Bumi
Bagian inti Bumi

Wednesday, September 20, 2017

HARIMAU JAWA MUNCUL KEMBALI DI UJUNG KULON , BENARKAH ?

    Berita mengejutkan dilansir oleh Laman Inilah.Com dan dipublish juga melalui chanel Youtube tentang munculnya kembali Harimau Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Berita yang dilansir berdasarkan pengakuan Petugas Jagawana TN Ujung Kulon Muhammad Ganda Putra yang mengaku melihat sosok kucing besar loreng mirip Harimau ketika sedang bertugas mendata populasi Banteng Jawa pada tanggal 25 Agustus 2017 hampir sebulan lalu. Ia baru berani menceritakan kesaksiannya pada pers tanggal 13 September lalu, setelah yakin yang dilihatnya benar-benar kucing besar mirip Harimau Jawa.
Admin Blog menduga itu Pasti Macan Tutul, bukan Harimau Jawa seperti Gif diatas
    Seperti kita ketahui Harimau Jawa sudah dinyatakan punah oleh WWF sejak tahun 1980-an dan diperkuat oleh pernyataan punah oleh lembaga Konservasi Dunia IUCN pada tahun 1990-an dan CITES pada tahun 1996. Namun Pemerintah Indonesia sendiri sampai saat ini belum memberikan pernyataan punah resmi terhadap satwa kharismatik dari Tanah Jawa ini, kecuali LIPI pada tahun 1989. Pernyataan punah baru dinyatakan oleh pihak konservasi asing, sedangkan dari pihak indonesia sendiri masih meyakini keberadaan subspecies Harimau terbesar yang dimiliki Indonesia ini berdasarkan pengakuan masyarakat sekitar hutan, pecinta alam, petugas kehutanan, maupun petugas konservasi lainnya bahwa Panthera Tigris Sondaicus ini masih eksis walaupun bukti fisik berupa foto tidak pernah ditemukan.
  Dari beberapa monitoring dan penjelajahan di hutan-hutan tempat Harimau Jawa terlihat terakhir seperti di TN Meru Betiri, Gunung Slamet, Alas Purwo oleh para peneliti anak negeri seperti yang dilakukan Bapak Didik Haryono dan Eko masih dijumpai bekas cakaran di pohon, maupun fases yang setelah diteliti milik Harimau Jawa bukan Macan Tutul. Demikian pula bekas bulu yang menempel dan air seni di dedaunan yang menjadi bukti daerah homerange atau teritorinya juga masih ditemukan oleh Tim Peduli Karnivor Jawa, namun sayang bukti fisik foto yang diharapkan dari beberapa kamera Trap yang dipasang tidak satupun yang berhasil mengambil gambar sosok Harimau Jawa ini.
   Berikut ini kutipan pengakuan petugas Jagawana yang admin kutip dari Inilah.Com
 Inilah Cerita Penemuan Terduga "Harimau Jawa"
14 Sep. 2017 13:52

INILAHCOM, Ujung Kulon - Harimau Jawa yang telah dinyatakan punah oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1989 silam diduga kembali ditemukan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Pegawai Balai TNUK, Muhammad Ganda Putra adalah yang pertama kali menemukan seekor 'kucing besar' yang diduga adalah harimau Jawa yang telah dinyatakan punah tersebut. Ssaat dia tengah melakukan inventarisasi Banteng pada 25 Agustus 2017.
"Waktu itu jam 11 siang saya liat ada kucing besar, tapi ada lorengnya bukan kaya macan tutul. Tapi saya nggak bawa kamera dan agak takut-takut jadi nggak dideketin," kata Ganda di Ujung Kulon kemarin, Rabu (13/9/2017).
Dari ciri-ciri yang dia amati saat itu, Ganda menambahkan, ciri yang dimiliki itu sangat cocok dengan harimu Jawa yang sudah tidak ditemukan lagi sejak 28 tahun yang lalu. Ditambah lagi dengan ukuran tubuhnya yang lumayan besar sehingga lorengnya terlihat jelas.
Berselang beberapa jam kemudian tepatnya pukul 17.20, beruntung Ganda kembali melihat jenis yang sama saat tengah berada di padang penggembalaan Cidahu. "Ada satu ekor, tapi lebih kecil dari yang siang, lagi makan bangkai banteng. Kali ini saya semakin yakin kalau bukan macan karena keliatan banget ekornya melingkar dan loreng di badannya," jelas dia.
Dugaan ini diperkuat lagi oleh Ganda ketika ia dan timnya mendengar suara auman yang lumayan keras mirip suara harimau.
Kepala Balai TNUK, Mamat Rahmat membenarkan apa disampaikan oleh timnya ini. Dia menambahkan bahwa dugaan ini semakin kuat karena beberapa kali ada masyarkat yang melaporkan melihat sesosok kucing mirip harimau.
"Iya sempat ada beberapa kali masyarakat yang lagi ziarah lapor kalau liat kucing besar. Cuma saya masih belum berani bilang kalau itu harimau Jawa," kata Rahmat.
Rahmat mengatakan bahwa pihaknya akan membentuk tim ekspedisi Harimau Jawa untuk membuktikan apa yang telah disampaikan oleh tim ini dan pernyataan masyarakat ini.
Foto terduga Harimau Jawa di TN Ujung Kulon
  Membaca berita kemunculan Harimau Jawa mengingatkan kembali Admin Blog ini ketika melakukan observasi dan penjelajahan lokasi di desa Darmasari, Lebak Banten yang berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1990, dimana saat itu Tim mendapat pengakuan kesaksian dari warga bahwa mereka masih melihat sosok Harimau Jawa ini di hutan Lindung yang menjadi koridor lintas satwa dari TN Ujung Kulon dengan TN Halimun Salak. Namun kemunculan Harimau loreng yang diduga Harimau Jawa itu jarang terjadi hanya saat tertentu terutama pada musim kemarau. Menurut warga selain Macan tutul,Sosok yang diduga Harimau Jawa ini ikut turun mencari sumber air dekat pedesaan. Saat itu konsentrasi admin adalah mencari lokasi KKL dengan sasaran Sosial Budaya Masyarakat yang masih berkerabat dengan suku badui bukan meneliti kondisi flora faunanya dan sebagai bagian salah satu persyaratan pemenuhan kuliah di jurusan Pend.Geografi IKIP Jakarta.
 Persepsi yang sering keliru Macan Tutul disamakan dengan Harimau Jawa
   Oleh karena itu kesaksian masyarakat kita abaikan, karena selama ini yang sering admin alami adalah persepsi yang keliru dari masyarakat dengan menyamakan Macan Tutul Jawa dengan Harimau Jawa. Yang mereka lihat sebenarnya adalah Macan Tutul namun diakui sebagai Harimau Jawa, dan ini juga yang admin rasakan dengan kesaksian para pendaki gunung yang katanya melihat Harimau Jawa namun sebenarnya yang mereka lihat adalah Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas). Namun Admin ragu apakah dari sekian banyak kesaksian adalah salah persepsi ? Apakah Mahasiswa yang berpendidikan tinggi tidak bisa membedakan Macan tutul dengan Harimau Jawa ? Jawabannya Iya. Seorang guru Biologi yang jelas berlatar belakang sciene alam saja masih tidak bisa membedakan macan Tutul dengan Macan Loreng.Ini dialami admin di sekolah yang harus berdebat dengan guru biologi hanya disebabkan peryataan admin bahwa Macan tutul Jawa masih banyak ditemukan di Gunung Salak dibantah beliau dengan mengatakan tidak mungkin ada Macan Tutul di gunung Salak, karena daerah jelajahnya terlalu sempit. Kalaupun ada Macan Tutul itu di kebun binatang termasuk harimau Jawa masih ada di kebun-kebun binatang termasuk Taman Safari... begitu alasan beliau. 
    Bayangkan, seorang guru Biologi menganggap harimau Jawa masih ada dan banyak dipelihara di kebun binatang ? Aneh !! Akhirnya saya menjelaskan : Bu, Harimau Jawa sudah lama punah , yang di Kebun binatang dan Taman Safari itu adalah Sub spesies Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae). Benar Home range atau daerah jelajah Harimau Jawa itu luas paling tidak membutuhkan 20 Km2 per ekor, jadi sulit buat Harimau Jawa bertahan di pulau yang begitu padat dan hutannya sudah terfermantasi menjadi petak-petak kecil. Namun Macan Tutul Jawa masih ada dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan baik terutama di hutan-hutan pegunungan Jawa. Dengan mata kepala saya sendiri melihat beberapa kali berpapasan dengan Macan Tutul Jawa ini ketika masih aktif mendaki gunung dulu. Macan tutul dan Macan Kumbang itu sama satu subspesies dengan nama latin Panthera Pardus Melas, perbedaan warna dan corak tutul dan hitam hanyalah variasi genetika tapi mereka masih satu jenis dan sering saya lihat Macan tutul dan Macan kumbang bersama-sama istirahat atau bermain.
Dari ukurannya, sebenarnya jelas yang difoto adalah Macan Tutul seperti ini
   Saya menjelaskan, Harimau Jawa sudah dinyatakan punah oleh IUCN dan WWF dan rasanya kalaupun ada beberapa populasi kecil Harimau Jawa yang tersisa di Taman Nasional Meru Betiri tahun 1980-an, rasanya sulit berkembang biak. Harimau yang terisolasi di sebuah habitat Hutan sempit akan mengalami kesulitan berkembang biak. Akan rawan terjadi kasus Inbreeding dimana perkembangbiakan mereka terbatas pada populasi sisa yang masih satu darah, dan ini akan menyebabkan kegagalan perkembangbiakan karena mereka kawin dalam satu gen.
   Ternyata pendidikan tidak menjamin mereka memahami dan menguasai pengetahuan tentang fauna, dan ini juga yang saya ragukan dengan pernyataan Petugas Jagawana TN Ujung Kulon. Benarkah yang dia lihat adalah sosok Harimau Jawa ? Jangan-jangan yang dilihat adalah Macan Tutul. Namun melihat pengakuan yang dirilis di berita online Inilah.com dan Youtube bahwa dia sudah lama mengontrol dan patroli TN Ujung Kulon dan bisa membedakan Macan Tutul dan Macan Loreng keraguan saya sedikit hilang, namun apakah pengakuan ini bisa dipercaya ? Apakah petugas ini berbohong ? Atau berita ini Hoax belaka ? Mudah-mudahan ini berita benar sehingga penantian panjang tentang kepastian masih eksisnya Harimau Jawa bisa terjawab.
Nah ini baru Harimau Jawa melintas di Taman Nasional Ujung Kulon Tahun 1938
   TN Ujung Kulon adalah tempat perlindungan terakhir bagi Badak Jawa, dan potret terakhir Harimau Jawa yang masih hidup juga didapat di Taman Nasional ini. Pengakuan warga masyarakat sekitar Taman Nasional Ujung Kulon yang melihat sosok kucing besar mirip Harimau Jawa setahun terakhir juga bisa menjadi pegangan terutama Kepala BKSDA Banten dan Ujung Kulon untuk segera menindak lanjuti laporan ini tentunya dengan melakukan ekpedisi pembuktian keberadaan Harimau Jawa dengan memasang Kamera Trap di lokasi yang menjadi kesaksian terakhir Bpk.Muh.Ganda melihat sosok harimau loreng ini. Dan tentunya ini akan menjadi berita besar buat dunia bukan hanya Indonesia tentang kembalinya lagi Harimau Jawa Sub spesies Panthera Tigris yang sudah dinyatakan punah . Kita berharap keajaiban ini benar-benar terjadi bukan berita hoax memalukan yang membuat malu Indonesia di dunia Internasional.
  Penasehat senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Profesor San Afri Awang mengatakan harimau Jawa disebut punah salah satunya karena sudah jarang ditemui secara langsung. Besar kemungkinan foto yang diduga harimau Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) adalah harimau Jawa.
   "Kalau di hutan hewan itu secara umum kalau populasinya sudah sedikit kan susah untuk diketahui. Kalau populasinya banyak, nah sering dijumpai orang. Tapi harimau Jawa itu sudah jarang dijumpai, tidak berarti yang kita sebut punah itu punah betul," ujar San Afri kepada detikcom, Rabu (13/9/2017).
    Menurut Afri perlu suatu metode untuk membuktikan bahwa harimau Jawa masih ada di kawasan TNUK. Salah satunya dengan menggunakan kamera jebakan (trap) yang biasa dipakai untuk mendeteksi berbagai jenis hewan di alam bebas.
     "Dengan kamera trap itu biasanya ketangkap hewan-hewan yang aneh, yang lewat, yang langkah, nah itu kan dianalisis. Sehingga dari hasil analisis itu kriterianya atau karakternya bisa jadi mendekati karaker Harimau Jawa yang dianggap punah itu. Kan kemungkinan-kemungkinan tetap ada, bahwa yang tertangkap kamera trap itu Harimau Jawa, ada kemungkinan," kata mantan Kepala Balitbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI ini.
Bila Foto dari jarak dekat jelas Terduga Harimau Jawa adalah sosok Macan Tutul Seperti ini
     Peneliti harus menunggu peredaran dan pergerakan dari hewan yang diduga harimau Jawa itu jika ingin membuktikan eksistensi kucing besar loreng itu. Butuh waktu yang lama dan sabar untuk menunggunya.
    "Kalau wildlife itu susah, ada cara kalau kita mau betul yakin kita pakai pembiusan, ditembak bius. Tapi itu kita harus tunggu betul, misalnya setiap tiga hari sekali dia lewat di kamera trap, ya sudah tiga hari kita tunggu. Setelah dibius, dari karakter luar saja kita sudah tahu. Kan kita sudah tahu Harimau Jawa itu seperti apa, tampak luarnya seperti apa, cukup dengan begitu (tampak luarnya) saja kita akan katakan ini harimau Jawa," jelasnya.
    Afri mengatakan daerah jelajah (home range) dari harimau Jawa bisa mencapai 100 kilometer. Ada dugaan harimau itu berasal dari wilayah lain yang ada di pulau Jawa.
     "Kalau dugaan saya dia nggak soliter (sendiri), mesti ada temannya. Kalau kita mendengar cerita harimau Jawa ini kan di Merapi kita masih dengar cerita dia masih dijumpai, kemudian cerita di Gunung Wilis, Jawa Timur itu juga masih dijumpai masyarakat, kemudian di Gunung Lawu juga ada cerita yang sama, bisa saja ini home range semakin jauh, tetapi pasti dia nggak sendirian," ungkapnya.
     Selain itu, daya tahan hidup harimau Jawa bisa mencapai 40 tahun. "Jadi kalau kita bilang punah setelah 10 tahun ya itu karena ketidaktahuan kita saja. Cuma populasinya sudah terlalu kecil sehingga kamera trap tidak bisa lagi menangkap," sebutnya.
     Harus ada upaya melestarikan kembali harimau Jawa yang diduga di Ujung Kulon jika terbukti benar. Salah satu yang dilakukan adalah mempelajari home range dari hewan tersebut. Namun KLHK terlebih dahulu akan membuktikan dan memastikan kebenaran spesies harimau Jawa di TNUK.
 I'am Leopard, No Tiger Profesor !!
    "Yang pertama habitat dia jangan diganggu, ruang hidup dia itu kan hutan, pakan dia tentu harus tersedia. Itu yang kita usahakan untuk tetap ada," jelas mantan Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan ini.   
Panthera tigris sondaica, demikian nama ilmiah harimau endemik Pulau Jawa, sudah dinyatakan punah. The Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam situs resminya menjelaskan harimau Jawa sudah dinyatakan punah sejak dekade 1970-an. Penyebab kepunahan adalah perburuan, kehilangan hutan sebagai habitat, dan kehilangan mangsa.
    Harimau Jawa juga dipastikan punah lewat rapat Convention on International Trade in Endangered Species di Florida, Amerika Seerikat, pada 1996. Akankah temuan di Taman Nasional Ujung Kulon bisa mematahkan status kepunahan harimau Jawa?
Sumber Referensi : Detik.Com, Inilah Com

Tuesday, September 12, 2017

MERKURIUS : PLANET TERDEKAT DENGAN MATAHARI

Merkurius adalah planet yang terletak paling dekat dengan matahari. Jarak rata-rata planet ini dari matahari adalah sekitar 58 juta km atau 0,39 kali jarak rata-rata bumi dari matahari. Merkurius mengelilingi matahari sekali dalam 88 hari dan berotasi cukup lambat. sekali dalam 58,7 hari atau dua pertiga dari periode revolusinya. Diameter planet ini berukuran sekitar 4.878 km atau dua perlima dari diameter bumi. Karena berukuran cukup kecil dan berjarak sangat dekat dengan matahri, Merkurius agak sulit dilihat dari bumi tanpa menggunakan teleskop. Merkurius hanya dapat diamati sesaat di langit barat sesudah matahari terbenam atau di langit timur sebelum matahari terbit.

Permukaan Merkurius
    Permukaan Merkurius mirip dengan permukaan bulan, terdiri atas dataran yang rata dan luas, jurang yang cukup curam, dan kawah-kawah seperti di bulan. yang terbentuk akibat adanya meteorit atau komet kecil yang menabrak planet tersebut. Merkurius kering dan sangat panas hampit tidak berudara. Sinar matahari yang memancar ke planet ini tujuh kali lebih kuat daripada ke bumi. Merkurius juga tidak memiliki cukup gas di lapisan atmosfernya untuk mengurangi jumlah panas dari sinar matahari. Karena itu, suhu di permukaan Merkurius sangat bervaiasi, bisa mencapai 430oC pada siang hari dan -170oC pada malam hari.
Rotasi Merkurius
Selubung Merkurius
    Merkurius diselubungi oleh lapisan gas yang terdiri dari helium, oksigen, dan sodium dalam jumlah yang sangat sedikit. Tumbuhan dan hewan yang dapat hidup di bumi tidak akan bisa bertahan di Merkurius karena kurangnya oksigen di planet ini dan temperatur yang sangat tinggi. Para ahli meragukan adanya bentuk kehidupan di Merkurius.

Mariner 10
    Pesawat ruang angkasa milik Amerika Serikat Mariner 10,merupakan pesawat ruang angkasa pertama dan satu-satunya hingga kini yang pernah mencapai Merkurius. Pesawat tanpa awak ini dua kali mendekati Merkurius dan terbang hingga mencapai jarak 740 Km dari Merkurius pada tahun 1974 dan kembali mendekati planet ini pada tahun 1975. Selama penerbangan tersebut, Mariner 10 berhasil mengambil gambar permukaan Merkurius yang tampak seperti bulan. Mariner 10 juga berhasil mendektesi adanya medan magnet di planet ini. Merkurius merupakan satu-satunya planet selain bumi, yang memiliki medan magnet. Akan tetapi medan magnet di Merkurius tidak sebesar di bumi, dan hanya mencapai 1% kekuatan medan magnet di bumi. Walaupun demikian adanya medan magnet di Merkurius merupakan penemuan di luar dugaan mengingat planet ini berotasiamat lambat.
    Di masa mendatang, penyelidikan mengenai Merkurius masih akan terus dilanjutkan dan diharapkan ada pesawat ruang angkas yang dapat memasuki orbit Merkurius atau bahkan dapat mendarat di planet ini. Namun usaha untuk mengekplorasi planet ini diperkirakan tidak akan mudah mengingat temperatur permukaan Merkurius yang sangat ekstrem.
 Perbandingan struktur dalam Planet Merkurius dengan Bumi
Planet Merkurius

Monday, September 4, 2017

INVERTEBRATA : KELOMPOK HEWAN TAK BERTULANG BELAKANG

    Invertebrata adalah kelompok hewan yang tidak bertulang belakang. Jumlah anggota invertebrata lebih banyak daripada vertebrata, yaitu sekitar 2 juta spesies atau 98% dari seluruh kerajaan hewan (kingdom Animalia). Dalam rantai makanan, invertebrata berperan sebagai konsumen primer dan sekunder serta pengurai (dekomposer). Meskipun terkadang merugikan, invertebrata seperti cumi-cumi, kerang dan kepiting memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi manusia.
    Secara garis besar, invertebrata mencakup delapan filum, yaitu Porifera, Coelenterata atau Cnidaria (selenterata), Platyhelminthes, Nemathelminthes, Annelida, Mollusca, Arthropoda dan Ekinodermata. Akan tetapi para ahli zoologi juga memasukkan tiga kelompok Chordata, yaitu subfilum Hemichordata, Urochordata atau Tunicata, dan Cephalochordata ke dalam invertebrata. Anggota invertebrata memiliki dua bentuk dasar tubuh, yaitu radial simetri dan bilateral simetri. Radial simetri adalah bentuk tubuh yang bulat dengan mulut di bagian tengahnya, sedangkan biateral simetri adalah bentuk tubuh yang dapat dibagi menjadi dua simetri sama besar.

 Ubur-ubur (jelly fish) termasuk kelompok invertebrata

Habitat dan Cara Hidup
    Semua habitat yang ada di permukaan bumi dihuni oleh invertebrata. Laut merupakan tempat yang paling banyak didiami oleh invertebrata seperti porifera, selenterata dan ekinodermata. Kelompok tersebut hidup secara soliter (menyendiri) maupun berkelompok atau berkoloni. Kelompok spons dan koral merupakan contoh invertebrata sesil yang menetap atau menempel pada suatu subsrat. Adapun kelompok udang dan kepiting merupakan contoh invertebrata yang bergerak.

Kelompok Filum Invertebrata
Respirasi dan Reproduksi
    Respirasi invertebrata berlangsung dengan berbagai cara. Kelompok invertebrata air mengadakan proses respirasi melalui membran semipermeabel di permukaan tubuhnya. Secara difusi, oksigen akan masuk ke tubuh invertebrata, sedangkan karbon dioksida akan dilepaskan ke lingkungan. Kelompok invertebrata seperti moluska dan krustasea, menggunakan inang sebagai organ respirasi. Adapun kelompok invertebrata yang hidup di darat, seperti labah-labah dan serangga, menggunakan paru-paru buku dan trakhea untuk bernafas.

8 Filum Hewan invertebrata

    Reproduksi invertebrata berlangsung secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual seperti pembelahan diri, pembentukan tunas, dan partenogenesis, dapat terjadi pada invertebrata tingkat rendah, seperti porifera dan selenterata. Adapun reproduksi seksual umumnya ditandai dengan proses fertilisasi gamet jantan dan gamet betina. Peristiwa fertilisasi tersebut dapat terjadi di dalam tubuh (internal) atau di lluar tubuh (eksternal) invertebrata. Hasil fertilisasi yang berupa telur kemudian mengalami beberapa tahap perkembangan sampai menjadi hewan muda. Kelompok serangga umumnya mengalami tahap-tahap metamorfosis, sedangkan krustasea, ekinodermata dan moluska akan mengalami beberapa tahap perkembangan larva sebelum menjadi dewasa.

Porifera, termasuk filum Invertebrata
Sumber Protein
    Invertebrata laut, seperti udang, lobster, kepiting, cumi-cumi, dan kerang banyak dimanfaatkan oleh manusia sebagai bahan makanan sumber protein. Kelompok serangga, seperti lebah madu, ulat sutera, dan kupu-kupu sering dibudidayakan oleh manusia karena menghasilkan produk yang bernilai ekonomi tinggi. Selain itu, manusia juga mendapatkan manfaat yang besar dari aktivitas invertebrata secara tidak langsung, misalnya beberapa kelompok serangga yang membantu proses penyerbukan tanaman berbunga dan kelompok cacing yang menguraikan sampah organik menjadi zat hara. Selain menguntungkan, kelompok invertebrata, seperti nyamuk anopheles dan cacing hati Fasciola hepatica, merugikan manusia dan hewan lain. Invertebrata yang bersifat parasit tersebut dapat menyebabkan kematian pada inangnya.

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar