"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"
Showing posts with label ADVENTURE. Show all posts
Showing posts with label ADVENTURE. Show all posts

Tuesday, June 12, 2018

TEKNIK DASAR MENDAKI GUNUNG UNTUK PEMULA

    Bulan Juni dan Juli ini adalah bulan yang paling ideal untuk melakukan perjalanan liburan yang banyak dimanfaatkan para pecinta alam untuk mendaki gunung. Selain memasuki masa liburan sekolah dan semester untuk pelajar dan Mahasiswa juga bulan ini sangat baik melakukan adventure di alam liar karena kondisi cuaca sangat mendukung. Di Indonesia Bulan Juni ini juga memasuki musim kemarau dalam arti cuaca cerah yang dapat dimanfaatkan menyalurkan hobi yang satu ini sambil menikmati panorama alam yang indah tiada duanya di gunung-gunung Pulau Jawa. Apabila anda melakukan hiking di Gunung-gunung di Jawa ini  juga bersamaan dengan masa mekarnya bunga Edelweis yang menciptakan pemandangan indah mempesona. Sekedar bernostalgia Alun-alun Mandalawangi di gunung Pangrango dan Alun-alun Suryakencana di gunung Gede adalah tempat favorit Admin Blog melakukan refresing sambil menulis  puisi dan lagu balada Lestarikan alam dan Setangkai Edelweis (1985-1986) yang menggambarkan keindahan menakjubkan lembah ini dengan hamparan bunga Edelweis yang sedang bermekaran. Namun untuk TN Gunung Gede Pangrango beberapa dekade terakhir selama bulan Juni sampai dengan Agustus pendakian di kawasan ini ditutup sementara untuk pemulihan ekosistem.
   Walaupun demikian, dibalik indahnya gunung kita tetap harus memiliki dasar-dasar ilmu mendaki gunung, untuk berjaga karena alam yang semula bersahabat bisa berubah 180 derajat menjadi ancaman bagi nyawa apabila misalnya cuaca tiba-tiba berubah drastis dengan datangnya badai, karena diatas Gunung kita tidak tahu pasti kondisi cuaca yang bisa berubah  sewaktu-waktu. Belum lagi kondisi kountur gunung yang terjal , jurang-jurang yang dalam, dan tebing curam yang harus dipanjat maupun menembus hutan tropis yang lebat dan mungkin hadangan jenis hewan buas dan berbisa yang tidak bisa kita prediksi. Belajar dari pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan kita, banyak sekali memberikan manfaat serta pelajaran - pelajaran penting mengenai kehidupan. Belajar tidak harus lewat buku atau media lainnya, tetapi belajarlah dari Alam karena disanalah gambaran kehidupan yang sesungguhnya.
    Sebagai Pecinta Alam semua dididik dalam bagaimanapun keadaan, situasi dan kondisi. Dari situlah kita mengenal survive. Kali ini admin akan memberikan sedikit Tips melakukan Pendakian Gunung, karena jangan salah, dalam Pendakian Gunung kita tidak boleh sembarangan apa lagi sampai Asal-asalan, karena banyak para pendaki yang sok tahu yang ujung - ujungnya malah dicari ( karena tersesat) .


   Untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan adanya kendala dan ancaman musibah, baik yang disebabkan oleh situasi dan kondisi alam maupun oleh kelalaian manusianya sendiri, maka perlu disusun rencana pendakian, minimal tidak mengabaikan faktor-faktor sebagai berikut :
1. Informasi jalurmedan dan cuaca. Menghimpun informasi dari berbagai sumber akan dapat membantu kelancaran dan keamanan perjalanan pendakian. Sumber informasi didapat antara lain :
a. Pendaki yang sudah berpengalaman.
b. Tulisan tentang pendakian di media massa.
c. Berita musibah dalam pendakian.
d. Instansi terkait (PHPA/Taman Nasional/BKSDA)
e. Aparat desa/kecamatan setempat dan penduduk yang terdekat dengan lokasi pendakian.
2. Keselamatan dan kondisi fisik.   Mendaki gunung bukanlah kegiatan darmawisata, tetapi cenderung merupakan olahraga petualangan di alam bebas dan menguras tenaga. Oleh karena itu, setiap orang yang akan melakukan pendakian harus sehat jasmani dan rohani serta prima secara fisik. Jangan sekali-kali memaksakan diri jika kesehatan dan kondisi fisik memang sedang lemah, karena akan berakibat fatal dalam pendakian. Bagi calon pendaki wanita yang sedang haid/menstruasi sebaiknya tidak melakukan pendakian demi keamanannya. Berdasarkan catatan Pengelola TN Gede Pangrango mayoritas pendaki wanita yang meninggal pada tahun 2013 hingga 2015, disebabkan karena sedang haid. Data April-Mei 2015 terdapat 25 wanita dievakuasi dari kawasan TNGGP, dan 20 diantaranya sedang haid sehingga tidak sanggup untuk melakukan pendakian. Alasannya karena pada saat sedang haid, seorang wanita sedang mengalami kekurangan darah, sehingga berpotensi mengalami kejang perut dengan sakit luar biasa pada perut, punggung, pinggul, dan menurunnya nafsu makan. Akibatnya mereka akan kekurangan energi untuk metabolisme, dan kurang energi untuk menjaga suhu tubuh hingga akhirnya mengalami hipothermia.
3. Biaya perjalanan. Untuk mencapai lokasi pendakian, tidak terlepas dari sarana transportasi. Perjalanan dari dan ke tempat tujuan yang harus menggunakan jasa angkutan umum, memerlukan biaya yang tidak sedikit. Bagi pendaki yang merasa dirinya sudah sebagai “anak gunung” yang terbiasa hidup dalam segala cuaca dan tahan bantingan, tidak akan menjadi masalah kalau ternyata harus bermalam di terminal/stasiun. Mereka tidak perlu bermalam di hotel atau penginapan. Akan tetapi dalam menghadapi tarif angkutan umum yang sudah pasti dan tidak bisa ditawar lagi, maka akan menjadi masalah apabila tidak membawa dana yang cukup. oleh karena itu, dalam merencanakan pendakian, pos pengeluaran untuk biaya transportasi harus dikalkulasi secara benar.
4. Kelengkapan identitas diri. KTP, kartu pelajar/mahasiswa atau identitas lainnya dan beberapa lembar foto copynya harus dibawa, karena akan diperlukan ketika melapor/meminta izin kepada pihak berwenang. Sehingga apabila terjadi musibah, akan memudahkan mendapat pertolongan dan identifikasi. Bila memungkinkan, sebaiknya pendaki memakai kalung identitas yang terbuat dari logam. 
   Selanjutnya setelah anda mengetahui faktor-faktor yang harus anda ketahui dalam merencanakan pendakian gunung,  tahapan yang harus diperhatikan adalah memenage seluruh pelaksanaan kegiatan pendakian tersebut. Disini akan di bahas mulai dari Persiapan pendakian sampai persiapan turun pendakian, mudah - mudahan saja bermanfaat.

A. Persiapan Pendakian

Perlengkapan pakaian dan logistik.
 a. Perlengkapan pakaian - T-shirt dan jaket yang dapat menyerap keringat. Untuk memudahkan identifikasi dalam pencarian bila terkena musibah, sebaiknya pilih yang berwarna kontras.
- Usahakan jangan memakai celana jeans karena akan menyerap dingin dan akan menjadi berat jika basah. Sebaiknya memakai celana kain model tentara yang banyak kantongnya.
- Sepatu gunung dan sandal gunung, kaos kaki panjang, sarung tangan wol, topi kupluk, celana pendek, kemeja flannel, kain sarung, handuk kecil, sabun mandi dan sikat gigi beserta pasta gigi.
- Sleeping bag dan matras, ponco/jas hujan dan plastik lembaran.
- Lampu senter (cadangan batrai jangan lupa), beberapa gulung tali pramuka, pisau lipat serbaguna.
- Kompor gas, mesting/panci masak tentara, korek api gas dan lilin, piring plastik beserta cangkir dan sendok makan.
- Obat-obatan P3K.
- Tenda, dum/bivak, peta topografi, kompas dan peluit.
- Perlengkapan survivor seperti jarum jahit, benang, silet, gunting, karet ban mobil, mata kail dan kailnya,
- Pakaian cadangan, baterai dan kamera dimasukan ke dalam kantong plastik agar tidak lembab terkena embun hujan.
b. Perlengkapan logistik
- Makanan dan minuman yang biasa sering dibawa pendaki gunung antara lain : mie kering, roti, biskuit, telur asin, minuman serbuk kemasan, gula pasir, gula aren, garam dapur, minyak ikan, madu, abon dan susu.
- Air minum kemasan botol plastik. Apabila sudah kosong botolnya bisa dimanfaatkan lagi untuk tempat air.
- Kalau bisa membawa beras, asalkan bisa mendapatkan air yang cukup untuk memasaknya.
Catatan :
1. Bawa logistik secukupnya sesuai dengan lamanya pendakian.
2. Jangan membawa makanan yang mudah basi.
3. Logistik jangan dipusatkan pada satu orang saja.
4. Untuk seorang pendaki rata-rata membutuhkan 400 – 500 kalori per hari.
5. Hindari minuman beralkohol agar tidak lepas kontrol dan hilang keseimbangan.

B. Teknik Packing

   Packing adalah menyusun perlengkapan ke dalam ransel. Kenyamanan dan efisiensi ransel menempel pada tubuh selain ditentukan secara langsung oleh desain ransel juga ditentukan oleh cara penyusunan barangnya. Yang menjadi dasar Packing adalah keseimbangan beban. Ini bergantung kepada cara kita menumpukan berat beban pada tubuh sedemikian rupa, sehingga kaki dapat berjalan secara efisien.
   Dalam batas batas tertentu, rangka yang dimiliki oleh ransel banyak memberikan kenyamanan. Rangka ini membuat posisi tubuh lebih nyaman saat menggendong beban. Namun bagaimanapun canggihnya desain ransel yang kita miliki, akan sedikit artinya apabila kita tidak mampu menyusun barang dengan baik.
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Tempatkanlah barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin ke badan. Barang barang yang relatif ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan di bagian bawah.
2. Letakkan barang barang yang sewaktu waktu diperlukan (ponco, alat P3K, kamera,dll) pada bagian atas atau pada kantung kantung luar ransel.
3. Kelompokkan barang barang dan masukkan ke dalam kantung kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur atau pakaian cadangan, kertas kertas, buku, dll.
4. Masukan benda benda yang mudah pecah ke dalam wadah yang kuat dan diisi juga dengan benda benda yang dapat menahan goncangan, seperti kertas, kain, busa, dll.
5. Matras tidur yang dimasukkan kedalam ransel dapat membantu mempertahankan bentuk ransel dan mempermudah penyusunan barang ke dalam ransel, sehingga menjadi padat, rapi dan efisien.
6. Bila perlu bawalah tas tambahan yang lebih memudahkan kita untuk menjangkau barang barang yang diperlukan, seperti tas pinggang, tas sandang, dll

C. Pendakian

Nah..disinilah intinya pada saat Pendakian, banyak yang harus diperhatikan oleh anda semua. Beberapa hal yang harus di simak antara lain :
1. Ketahanan mental dan percaya diri
Jalur pendakian bukanlah jalan raya bebas hambatan, tetapi merupakan jalan setapak dengan kondisi bervariasi dan terkadang membingungkan dan membosankan. Belum lagi harus melewati hutan hujan tropis yang masih jarang dilewati yang penuh dengan semak belukar, padang alang-alang, sabana yang luas, batang pohon yang tumbang dan menutup jalur, jembatan batang pohon di atas jurang, melewati tebing, dan jurang yang terjal. Terkadang juga dihadang oleh medan lereng pasir dan batuan vulkanik yang labil, tanah berdebu, jalur licin dan rawan longsor, tiupan angin yang kencang serta perubahan cuaca panas dan dingin yang menyengsarakan.
   Beruntung bila selama pendakian tidak dihadang oleh binatang buas, seperti harimau, macan tutul, ular, babi hutan dan monyet/beruk. Untuk mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu, tentu saja harus diimbangi dengan mental yang kuat, semangat tinggi dan rasa percaya diri serta tidak lupa berdo’a memohon perlindungan kepada Tuhan YME. Usahakan selama perjalanan pendakian jangan banyak mengeluh dan banyak bertanya jauh dekatnya lokasi tujuan. Hal tersebut secara psikologis dapat menurunkan semangat dan menimbulkan rasa putus asa serta tidak percaya diri, terutama bagi pendaki wanita dan pemula atau pendaki yang baru pertama kali melakukan pendakian di gunung tersebut.
2. Disiplin dan konsentrasi
Di setiap gunung yang menjadi sasaran pendakian, pada umumnya terdapat jalur setapak dengan kondisi yang bervariasi. Pemandu arah atau jalur adalah rambu-rambu pada pohon yang telah dibuat oleh para pendaki terdahulu, OPA atau petugas PHPA. Rambu-rambu arah dalam hutan bisa berupa tanda panah yang terbuat dari guntingan seng, torehan cat atau goresan pada batang pohon ataupun ikatan tali raffia pada dahan pohon. Berjalanlah pada jalur resmi atau yang sudah sering dilewati oleh pendaki lain. Buat tanda jejak dengan ranting pohon bila menemui jalur yang meragukan, seperti jalur yang bercabang atau sudah tertutup semak, sehingga jika ingin kembali pada jalur awal tidak akan kehilangan jejak. Kalau selama pendakian tidak ingin tersesat sebaiknya jangan coba-coba membuat jalur baru atau jalur pintas sendiri. Kecuali bagi pendaki senior yang telah berpengalaman dan memiliki pengetahuan tentang SAR (search and resque).
3. Memelihara kekompakan
Rasa kebersamaan dan kekompakan sesama pendaki dalam suatu pendakian mutlak diperlukan. Toleransi dan keakraban tidak terbatas dengan sesama teman satu tim/rombongan sendiri, tetapi juga dengan para pendaki di luar rombongannya sendiri. Solidaritas perlu diciptakan karena berada dalam kawasan alam bebas dan rawan bahaya, sama-sama akan menghadapi masalah yang tidak jauh berbeda, seperti sakit, kekurangan makanan/minuman, Hypothermia, kecelakaan dan bisa mungkin kematian.
4. Berjalan dan langkah kaki
Bila melakukan pendakian secara berombongan, rombongan dibagi menjadi beberapa regu. Tiap regu (7-10 orang) dipimpin oleh senior atau orang yang sudah mengenal jalur dan medan sebagai pemandu. Dalam setiap regu pendaki wanita dan pria dicampur. Pada jalur yang sempit atau punggung jurang harus ekstra hati-hati, langkah kaki diperlambat tidak saling mendahului dan berjalan mengikuti jalur resmi yang sudah ada. Ingat konsentrasi harus terpusat pada jalur dan kondisi medan sekitar terutama dalam pendakian di malam hari.
Untuk mengatur kondisi fisik dari kelelahan dalam melakukan perjalanan menanjak, sebaiknya setiap 1 jam berjalan, berhenti sejenak tidak lebih dari 10 menit. Pada saat itu dimanfaatkan untuk menambah kalori dengan memakan makanan ringan dan minum air sehemat mungkin. Irama langkah kaki selama dalam pendakian hendaknya disesuaikan dengan kebiasaan langkah sendiri. Jangan memaksakan mengikuti langkah teman pendaki yang lain, apalagi yang langkahnya cepat dan panjang. Berjalanlah dengan perasaan senang dan optimis. Tujuan utama akan sampai dipuncak dan kembali turun dengan sehat dan selamat.   Ketika berjalan di medan berpasir menuju puncak seperti gunung Semeru, kaki sering melorot dan ambles ke dalamnya. Adapun tekniknya adalah begitu kaki bergerak akan melorot, segera buka kearah luar kedua belah telapak kaki dan injaklah batuan vulkanik yang diperkirakan kuat dan tidak akan longsor.
5. Membawa beban dalam ransel
Pergunakanlah ransel yang ukurannya tidak terlalu tinggi bila sudah diisi penuh perbekalan. Hal ini akan menyulitkan serta menghambat perjalanan bila harus lewat di bawah batang pohon tumbang. Untuk menjaga keseimbangan dan memusatkan titik beban di kedua belah pundak, sebaiknya titik berat beban jatuh di bagian atas punggung.
6. Pendakian rombongan
Membawa rombongan dalam suatu pendakian akan menghadapi banyak kendala, baik yang datang dari dalam rombongan sendiri maupun yang disebabkan oleh kondisi alam. Apalagi bila diantara anggota rombongan belum ada yang mengenal kondisi medan dan jalur. Usahakan untuk sekurang-kurangnya menguranngi kendala yang akan terjadi, yaitu dengan terlebih dahulu mengadakan survey dan orientasi medan oleh beberapa anggota rombongan. Maksudnya untuk mendata situasi dan kondisi medan, jalur, lokasi untuk kemah, lokasi sumber air, dan memberi rambu-rambu arah serta tanda bahaya. Dengan memperhitungkan waktu tempuh, maka dapat memperkirakan persediaan logistik dan perlengkapan yang diperlukan. Demikian juga mengenai transportasi dan biaya perjalanan.
7. Waktu pendakian
a. Pendakian bisa dilakukan pada siang atau malam hari. Bagi seorang pendaki pemula yang belum mengenal medan dan jalur sebaiknya melakukan pendakian pada pagi hari atau bila malam hari bisa bergabung dengan pendaki lain yang sudah berpengalaman.
b. Bila terjadi kabut tebal, hujan maupun badai sebaiknya menunda pendakian atau membatalkannya, terutama pendakian ke puncak gunung yang lerengnya didominasi pasir dan batuan vulkanik atau pada jalur yang rawan longsor.
c. Selama perjalanan pada malam hari, jagalah selalu kewaspadaan dan konsentrasi pada jalur dan kondisi medan sekitarnya. Terkadang pendaki yang tidak konsentrasi akan kehilangan jalur, sedangkan keluar dari jalur resmi akan berakibat fatal, tersesat dan mungkin juga bisa masuk jurang.

D. Teknik berjalan di gunung

Pada dasarnya, teknik berjalan yang benar adalah untuk menjaga kesimbangan tubuh. Keseimbangan ini diperlukan terutama untuk mengontrol semua gerakan langkah kita agar lebih kuat dan kokoh. Ini akan memberikan kenikmatan, kebebasan, serta keluwesan bagi pendaki gunung.
1. Metode Lock-Knee      Cobalah berdiri di anak tangga dengan kedua kaki, lutut didorong ke belakang, sehingga anda dalam posisi tegak. Langkahkan kaki kanan anda ke anak tangga berikutnya. Waktu mengangkat badan, saat kedua kaki dalam posisi sama tinggi, kaki kanan anda yang sedang menahan berat badan langsung anda kunci dengan cara menekan lutut ke belakang. Lalu teruskan dengan kaki kiri ke anak tangga berikutnya.
Praktekanlah metode di atas saat anda melakukan perjalanan. Berjalan dengan metode Lock-knee dengan sendirinya medorong tubuh untuk selalu tegak. Hal ini sangat menguntungkan di medan yang miring. Posisi tubuh yang tegak menambah mantap pijakan kaki serta menjaga keseimbangan badan. Tetapi jika tubuh berkurang tegaknya, Ini memudahkan terpeleset, terutama di medan berkerikil.
2. Berjalan Pelan

   Berjalan pelan tetapi dengan langkah yang kuat dan sedikit beristirahat akan lebih baik daripada berjalan terlalu cepat tetapi sering berhenti untuk beristirahat. Seorang anggota yang baik akan berjalan dalam waktu yang lama tanpa istirahat – bisa dua sampai tiga jam.

   Jika kita melakukannya dan tidak merasa capai, itu menandakan bahwa stamina kita baik. Tetapi semuanya memerlukan latihan dan pengalaman. Jika kita beristirahat setiap setengah jam kurang, tandanya kita terlalu capai dan memaksakan diri. Atau dalam satu jam kita sering berhenti untuk istirahat berarti kita berjalan terlalu cepat. Jika anda perlu istirahat, pilihlah tempat yang nyaman, indah serta leluasa. Ini akan membantu mengurangi rasa lelah.
3.Perjalanan Turun
  Sebelum melakukan perjalanan turun, terutama pada medan yang terjal, sebaiknya tali sepatu diikat lebih kencang. Ini akan membantu menahan bagian belakang kaki kita sehingga bagian depan kaki dan jari-jari tidak sakit oleh tekanan bagian depan sepatu kita. Perjalanan turun benar-benar akan menguji kekuatan otot-otot kaki, terutama jika membawa beban yang berat. Lakukan dengan hati-hati karena ada kecenderungan dorongan ke arah depan akibat beban yang kita bawa yang bisa memudahkan jatuh atau terguling.   Pada saat melangkah, jejakkan kaki sehingga seluruh tapak sepatu menyentuh permukaan tanah. Usahakan badan selalu tegak dan condong ke arah depan berarti menghilangkan keseimbangan dan mengurangi kekuatan pijakan kaki. Pilihlah jalan yang landai, jangan memotong lewat lereng yang terjal. Beristirahatlah setelah melakukan perjalanan turun yang panjang untuk menghindari cedera otot.
4. Berjalan dalam kelompok
Disarankan dibentuk oleh lebih dari 3 orang anggota. Hal ini berdasarkan anggapan bahwa jika salah satu mendapat kecelakaan atau hal yang tidak diduga lainnya, maka yang dua orang lagi dapat menolongnya. Anggota yang terlalu banyak juga menambah persoalan tersendiri, mulai dari ukuran-ukuran perlengkapan yang dibawa sampai pada variasi irama jalan dan variasi kemauan setiap orang yang berbeda-beda. PIlihlah ketua regu jika hal ini dianggap penting. Buatlah keputusan secara demokratis. Sebaiknya sebuah regu tidak berpencar, kalaupun terpaksa perhatikan selalu pembagian perlengkapan dan bahan makanan. Kegiatan-kegiatan di alam bebas biasanya penuh bahaya dan resiko, karena itu berjalan seorang diri sebaiknya dihindari. Tak seorangpun tahu pasti apa yang akan terjadi pada dirinya.

Bahaya Dan Resiko Turun Gunung 

  Secara statistik kita tahu, pembunuh utama para pendaki, bukan terpeleset di jurang, bukan tergantung di tebing, bukan dipatuk ular berbisa, bukan kena gas beracun, dll. Pembunuh utamanya adalah hypotermia. Sebuah kondisi, ketika suhu tubuh menurun melewati ambang batas minimal yang diperbolehkan. Ketika kelaparan, baju basah, sehingga suhu tubuh turun akibat “terhisap” udara dingin disekeliling. Saat gigilan otot waktu kedinginan berhenti, lalu diganti kantuk yang luar biasa. Dan saat tertidur, maka sang malaikat maut kan menjemput.
   Umumnya semua diawali dengan tersesat. Bukan waktu naik gunung, namun saat turun gunung. Skenario kronologis yang sangat umum adalah, ketika pendaki keluar jalur. Yang tadinya dipunggungan, terbelokan masuk ke lembah. Baik tak sengaja, akibat kehilangan kesiagaan diri. Atau disengaja, karena mendengar iming-iming suara gemercik air, ditengah kehausan luar biasa yang melanda. Tanpa makan orang bisa bertahan sampai 3 minggu, namun tanpa air, paling hanya bisa hidup selama 2 – 3 hari saja, akibat dehidrasi dan heat-stroke.
Evakuasi Pendaki Gunung Yang mengalami Kecelakaan
  Dulu, ditahun 70 an awal, sempat berkembang pemikiran, jika tersesat digunung, masuk lembah saja, dan temukan sungai. Sungai pada suatu saat akan mengalir masuk ke kampung, dimana bantuan pertolongan tersedia. Nampak sebuah argumentasi logis, namun tidak pada faktanya.
   Lembah yang bersungai, cenderung tergerus sisi-sisinya, menyisakan tebing curam, yang bisa jadi jebakan. Bisa dituruni, namun tidak untuk dinaiki kembali. Gerusan itu kadang harus melompat, menyediakan sekian banyak air terjun, yang licin dan curam. Sungai di lembah cenderung lembab berlumut, akibatnya pakaian dengan mudah menjadi basah. Lalu suhu tubuh melorot, api tak nyala karena basah, ketika malam tiba, bahaya hypotermia sudah tepat di pelupuk mata.
  Khusus gunung berapi, gas racun lebih berat dari udara, sehingga dengan mudah mengendap di daerah lembah. Sekali terhisap anda bisa lewat. Saat ini, semua sepakat, seluruh pendaki gunung, naik dan turun harus tetap dipunggungan. Jangan pernah sekali sekali masuk ke lembah, jika tidak ingin dikenai resiko musibah falal. Namun hal ini akan berdampak pada seluruh kemampuan, perencanaan, persiapan, pelaksanaannya dilapangan.
Seperti contoh berikut :
1. Berjalan dipunggungan
Caranya lihat kiri dan kanan. Jika sebelah kiri / kanan gelap, maka anda berjalan dilereng menuju lembah. Jika kedua sisi gelap, artinya anda sudah didalam lembah. Jika kedua sisi terang artinya anda aman dan tetap dipunggungan. Saat dilereng, bisa saja ada sejenis paku yang merambat ( pakis) Tertutup humus sehingga nampak seperti tanah, tapi saat diinjak anda bisa terjeblos pada jurang dalam dibawahnya.
2. Tetap dipunggungan
Jika terjadi sesuatu, tetap mengambil posisi dipunggungan. Team SAR manapun akan memulai penyisiran dari punggungan, sebagai string-line baku. Keberadaan anda disana, memudahkan anda untuk segera ditemukan. Selain itu, punggungan akan lebih memudahkan untuk melakukan komunikasi.
3. Hemat Air
Ingat, aliran air hanya ada dilembah, dan jarang ditemukan di punggungan. Akibatnya anda harus membawa perbekalan air yang cukup. Setidaknya 1/3 dari berat ransel anda adalah air. Yaitu untuk minum dan masak. Kalau kebetulan menemukan genangan air, segera penuhi kembali jarigen air yang anda bawa, sehingga selalu 1/3 berat ransel adalah air. Jangan pernah tergoda dengan ringannya ransel, akibat air berkurang.
4. Air selama berjalan
Selama berjalan, usahakan agar tidak banyak meminum air di velples jika tak perlu. Khawatir tak mampu menahan diri, untuk meminum kebanyakan, yang bisa membuat anda justru sulit bergerak. Sebagai pengganti, cari air di lapangan. Bisa dari oyot pohon, batang pisang, kentang tanah, lumut, dll.
5. Dll
Yang paling berbahaya adalah sebuah pemikiran.
Saat puncak gunung di gapai, maka tantangan terberat lewat sudah, sekarang tinggal pulang dengan santai. Biar ransel ringan, lalu makanan dihabiskan, cadangan air minum terbuang-buang.Padahal, jauh lebih berbahaya turun gunung ketimbang naik gunung
Jauh lebih memakan korban saat turun, ketimbang waktu naik.

Teknik Istirahat
Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.
 Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut.
   Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh. Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.
   Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah. Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat. Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.
Medan 
Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya. Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan.
   Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini.  Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya. Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.
   Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja. Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.
   Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan pendakian gunung maupun perjalanan petualangan di alam bebas tersebut. Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya sekaligus mensyukuri atas semua nikmat dan karunia yang diberikan Allah, Tuhan Yang Maha Esa kepada kita.

Sumber Referensi : Wapala TGA, Swetadwipa.Blogspot.Com,GreenCampusOutdoor.Com

Wednesday, July 12, 2017

PANJAT TEBING MENGUJI ADRENELIN DI KETINGGIAN TEBING GUNUNG

                                         
   Panjat Tebing atau istilah asingnya dikenal dengan Rock Climbing merupakan salah satu dari sekian banyak olahraga alam bebas dan merupakan salah satu bagian dari mendaki gunung yang tidak bisa dilakukan dengan cara berjalan kaki melainkan harus menggunakan peralatan dan teknik-teknik tertentu untuk bisa melewatinya. Pada umumnya panjat tebing dilakukan pada daerah yang berkontur batuan tebing dengan sudut kemiringan mencapai lebih dari 45° dan mempunyai tingkat kesulitan tertentu. 

Peralatan Panjat Tebing

   Jumlah setiap peralatan yang digunakan akan dipengaruhi oleh jumlah pemanjat, tehnik pemanjatan maupun medan pemanjatan. Macam peralatan akan dipengaruhi oleh kesiapan pemanjat, baik kemampuan maupun antisipasinya.
Berikut beberapa peralatan dasar yang digunakan untuk memanjat tebing:
• Helm, pada pemanjatan tebing berfungsi kurang lebih sama dengan helm pada umumnya yaitu untuk melindungi kepala dari benturan. Helm digunakan untuk pemanjatan pada tebing alam, selain untuk menghindari benturan kepala pada tebing juga untuk mengurangi risiko jika tertimpa banda jatuh. Untuk pemanjatan artifisial (terutama saat kompetisi) penggunaan helm tidak lazim.
• Kernmantle rope/Tali kernmantle, merupakan peralatan pengaman utama bagi pemanjat dari kejatuhan dengan jarak ketinggian tertentu. Panjang Kernmantle rope rata-rata adalah 70 meter. Jenis kernmantle untuk pemanjatan terbagi menjadi dua: dinamik dan statik. Tali dinamis biasa digunakan untuk pemanjatan dengan teknik lead (rintisan) karena ketika pemanjat terjatuh akan mempunyai elastitas yang cukup baik sehingga menghindari terjadi cedera dalam (khususnya tulang belakang). Tali statik pun tidak sarankan untuk digunakan mengingat elastitasnya yang sangat rendah yang berbahaya pada energi yang terpaksa harus diterima oleh tubuh jika terbebani saat pemanjat terjatuh.
• Climbing Shoes/Sepatu Panjat untuk panjat tebing maupun panjat dinding memiliki kesamaan fungsi, yaitu untuk membantu pemanjat untuk berpijak pada permukaan vertikal, dan melindungi kaki dari tajamnya bebatuan maupun gesekan bebatuan yang kasar.
• Chalk bag/Kantung kapur, merupakan sebuah tas kantung untuk menampung bubuk magnesium klorida, yang membantu pemanjat mengurangi kelembapan pada telapak tangan ketika melakukan pemanjatan, sehingga dapat membuat pegangan pemanjat tetap stabil.
• Sling, sangat bermanfaat pada panjat tebing maupun panjat dinding, sling dapat digunakan sebagai runners, back up maupun menjadi bagian pengaman lainnya. Sling dibagi menjadi dua macam, sling prusikdan sling webbing, untuk panjang dan diameter sling memiliki banyak variasi.
• Full Body harness, merupakan peralatan panjat yang dikenakan pada tubuh. Body harness biasa digunakan untuk dunia kerja, rescue dan flying fox. Body harness membantu penggunanya untuk tetap dalam posisi duduk.
• Seat harnes, selain Full Body harness dikenal juga seat harness. Untuk pemanjatan sport dan petualangan (mounteineering) lazim digunakan seat harness, karena simple. Sedangkan full body harness digunakan di dunia industri. Perbedaan full-body dan seat-haness adalah saat pemanjat jatuh full body harness akan mempunyai kemungkinan yang sangat besar pemanjat akan jatuh dengan posisi kaki dibawah, sedangkan seat-harness mempunyai kemungkinan kepala berada dibawah ketika terjatuh. Sehingga untuk dunia kerja yang sangat menghindari risiko, seat harness tidak dibenarkan untuk digunakan.
• Sarung tangan, akan melindungi tangan bagi belayer ketika mengamankan pemanjat maupun rapler dari bahaya gesekan telapak tangan dengan tali pengaman.
• Hammer/palu, sangat dibutuhkan untuk pemasangan pengaman buatan berupa piton pada panjat tebing, cara membawa hammer akan lebih mudah bagi pemanjat jika tali pada hammer disilangkan pada bahu pemanjat.
• Carabiners, diciptakan untuk menggabungkan berbagai jenis peralatan. Carabiners memiliki banyak bentuk dan variasi, umumnya carabiners dibagi menjadi dua jenis, yaitu carabiner non screw gate dan carabiner screw gateCarabiners biasa dihubungkan pada tali maupun pengaman untuk pemanjatan, carabiner sangat kuat karena sebuah nyawa disandarkan pada carabiner ketika dilakukan suatu pemanjatan dari bahaya jatuhnya pemanjat dari ketinggian.
• Quickdraw/runner, merupakan gabungan antara prusik dan dua buah carabiner. Biasanya digunakan untuk menjadi bagian penyambung antara chocksfriendstricamsbolts ataupun pitons terhadap tali carnmantel.
• Hand ascender, merupakan peralatan yang digunakan untuk membantu pemanjat dalam menaiki tebing dan bertumpu pada bantuan tali, secara otomatis hand ascender maupun jenis ascender lainnya akan mencatut tali jika diberi beban dan akan mudah digeser jika tidak memiiki beban.
• Ascender handle, juga merupakan jenis ascenderAscender handlemerupakan pengembangan dari hand ascender dengan fungsi yang dimiliki kurang lebih sama.
• Rigger plate, berfungsi sebagai plat conector dari anchor point ke lintasan, karena dalam beberapa kasus dibutuhkan beberapa lintasan dalam satu anchor point fixRigger plate terdiri dari sebuah plat yang memiliki beberapa lubang, yang dapat di tempati oleh lebih dari 2 pengaman.
• Edge Rollers, Merupakan pelindung tali yang didesign untuk mencegah terjadinya gesekan antara tali dengan sudut bidang, dinding batu, dan sebagainya.
• Padding, berfungsi untuk memberi perlindungan pada tali dari gesekan benda tajam, seperti gesekan tali dengan sudut tebing, dinding,dll. Padding terbuat dari bahan terpal, canvas, matras, karet tebal yang tahan terhadap gesekan.
• Cams/ friends/ spring loaded camming device (SLCD)Friends merupakan salah satu jenis pengaman sisip yang digunakan dalam panjat tebing, anda dapat menarik tuas baja yang membuat bagian ujung friendsmenyempit dan melepaskannya pada celah yang diinginkan. Friends sangat fleksible, karena dapat digunakan pada berbagai ukuran celah/rongga.
• Pitons, merupakan pengaman yang ditancapkan pada rongga-rongga tebing, piton memiliki empat jenis yaitu Bongs, Bugaboons, Knife-blades dan Angle.
• Nuts/Chock friends merupakan jenis pengaman sisip yang dimana cara penggunaannya dengan menyelipkan nuts pada sebuah rekahan yang sesuai. Nuts/Chock friends memiliki ukuran yang berbeda-beda untuk itu nuts biasanya tersedia dalam set.
• Hexes/chock hexentris, memiliki fungsi yang sama dengan nuts tetapi hexes berbentuk tabung segi enam. Hexes tetap memiliki kekuatan yang baik walaupun agak sulit dalam penggunaannya. Hexes tersedia dalam beberapa ukuran.
• Tricams, merupakan pengaman sisip selanjutnya. walaupun berbeda bentuk, tetapi fungsinya sama dengan nuts dan hexes. Pemakaiannya relatif sulit, tidak dianjurkan dipakai untuk pemula.
• Figure eight/figur delapan, peralatan ini termasuk salah satu Descender adalah alat bantu yang digunakan untuk menuruni medan vertical dan tali sebagai jalur. Bentuknya menyerupai angka 8, ukuran dan bentuknya bermacam-macam, rate strange 3000 kg., menggunakan alat ini menyebabkan puntiran pada tali salah satu kelemahan alat ini ketika digunakan.
• Autostop, berfungsi sebagai desender dan ini di-design untuk pengereman automatis, system kerja pengereman automatis akan bekerja ketika handle kita lepaskan. Selain itu alat ini dapat juga digunakan sebagai alat belay (belay device) untuk menurunkan korban dari ketinggian, atau dapat juga kita gunakan untuk ascending dengan tambahan kombinasi ascender. 

Teknik Panjat Tebing

Tehnik-tehnik pemanjatan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan seluruh medan tebing, antara lain:
• Face Climbing, Yaitu pemanjatan pada permukaan tebing yang memanfaatkan tonjolan batu(point) atau rongga yang memadai yang digunakan sebagai pijakan kaki, pegangan tangan maupun penjaga keseimbangan tubuh.
• Friction / Slab Climbing, Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal di atas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik, sehingga pemanjatan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
• Fissure Climbing, Teknik pemanjatan dengan fissure climbing ini lebih memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan untuk melakukan panjatan.
Dengan cara demikian, maka beberapa pengembangan dari fissure climbing, dikenal teknik-teknik dengan tehnik sebagai berikut ;
a. Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari tangan, kaki, ataupun bagian-bagian tangan hingga bahu pemanjat dapat dimanfaatkan sebagai tehnik untuk memanjat dengan cara memanfaatkan crack/retakan pada tebing untuk melakukan pemanjatan. Peralatan yang digunakan secara mayoritas adalah pengaman sisip.
b. Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar pada tebing(chimney). Badan masuk di antara celah, dengan punggung menempel dan mendorong di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke tebing yang berrada dibelakang pemanjat. Kedua tangan diletakkan menempel pada tebing. Kedua tangan membantu mendorong ke atas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.
c. Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies).Tehnik ini menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua permukaan tebing. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.
d. Lay back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan kekuatantangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan posisi badan membeban ke belakang dan menempel kesisi tebing, untuk memperkuat pegangan pemanjatnya. kedua kaki berpijak dan mendorong pada tepi celah yang berlawanan untuk menghasilkan daya angkat.
e. Hand traverse, Teknik memanjat pada tebing dengan gerak menyamping (horizontal). Hal ini dilakukan bila pegangan yang ideal sangat minim dan untuk memanjat vertical sudah tidak memungkinkan lagi. Teknik ini sangat rawan, dan banyak memakan tenaga karena seluruh berat badan tertumpu pada tangan, sedapat mungkin pegangan tangan dibantu dengan pijakan kaki (ujung kaki) agar berat badan dapat terbagi lebih rata.
f. Mantelself, Teknik memanjat tonjolan-tonjolan (teras-teras kecil) yang letaknya agak tinggi, namun cukup besar untuk diandalkan sebagai tempat berdiri selanjutnya. Kedua tangan digunakan untuk menarik berat badan, dibantu dengan pergerakan kaki. Bila tonjolan-tonjolan tersebut setinggi paha atau dada maka posisi tangan berubah dari menarik menjadi menekan untuk mengangkat berat badan yang dibantu dengan dorongan kaki.
   Strategi sangat diperlukan dalam setiap pemanjatan tebing, selalu sensitif membaca keadaan, baik terhadap kemampuan diri maupun keadaan medan yang ada, sensitif dengan keketerbatasan-keterbatasan yang mungkin timbul dan selalu dapat mengambil keputusan untuk memnfaatkan kemampuan diri maupun alat semaksimal mungkin, me-manage semua sumber daya sebaik mungkin untuk dapat meraih tujuan pemanjatan. 

Jenis Pemanjatan Berdasarkan Pemakaian Peralatan

Berikut jenis-jenis pemanjatan berdasarkan peralatan yang digunakan dalam pemanjatan tebing:
a. Free Climbing, Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang tepat. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.
b. Artificial (Aid) Climbing, Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti pitonbolt, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai. Tujuan dari aid climbing adalah untuk menambah ketinggian.
c. Free Solo Climbing, Merupakan bagian dari free climbing, tetapi si pendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri. Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan dan keputusan untuk pergerakan pada rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghafalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya. Teknik pemanjatan ini sangat tidak disarankan mengingat risiko yang dihadapi adalah tertinggi dari teknik pemanjatan lain.

 Etika Panjat Tebing

Menurut KUBI, etika berarti nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Pelanggaran terhadap suatu nilai biasanya tak akan mendapatkan sanksi yang legal. Dan antara suatu masyarakat dengan masyarakat lain sering kali mempunyai etika yang berbeda terhadap suatu hal yang sama.
  Di antara masyarakat pemanjat, juga terdapat etika yang kerap berbenturan. Suatu contoh adalah ketika Ron Kauk membuat suatu jalur dengan teknik rap bolting di kawasan Taman Nasional Lembah Yosemite, Amerika Serikat. Kawasan pemanjatan ini terkenal sebagai kawasan pemanjat tradisional dan mempunyai peraturan konservasi alam yang ketat. Pembuatan jalur dengan cara demikian tak dapat dibenarkan oleh para pemanjat tradisional di kawasan ini, di antaranya adalah John Bachar. Bachar menganggap bahwa semua jalur yang ada di Yosemite harus dibuat dengan cara tradisional, yaitu sambil memanjat (leading). Kasus ini menjadi besar karena sampai menimbulkan perkelahian di antara kedua pemanjat yang berlainan aliran itu. Kasus tersebut menggambarkan bagaimana etika sering menimbulkan perdebatan. Kasus ini hanya salah satu dari berbagai masalah yang kerap timbul di sekitar pembuatan jalur.
 Sebetulnya ruang lingkup etika dalam panjat tebing terdiri dari :
a. Masalah teknik pembuatan jalur
Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini banyak dianut, yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Pembuatan jalur secara tradisional pada prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena lintasan yang akan dilewati sama sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba terlebih dahulu. Teknik tradisional ini berkembang di Eropa sampai tahun 70-an, namun kini masih dianut oleh pemanjat tradisional Amerika. Sementara itu pembuatan jalur secara modern terdiri dari dua cara yang banyak digunakan. Cara pertama adalah dengan teknik tali tetap (fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting pada fix rope yang telah terpasang terlebih dahulu. Cara kedua mirip dengan cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetap melainkan menggunakan top rope. Kelebihan cara ini, pembuat jalur dapat membuat perencanaan arah jalur dan penempatan pengaman lebih presisi karena gerakan pemanjatan dapat diketahui terlebih dahulu.

b. Masalah penamaan jalur
Siapa yang berhak memberi nama pada suatu jalur, si pembuat jalur atau pemanjat pertama yang menuntaskan jalur, juga tidak ada aturannya. Biasanya si pembuat jalur bersikeras untuk menjadi orang pertama yang menuntaskan jalur tersebut. Kadang-kadang mencapai waktu berbulan-bulan untuk membuat sekaligus menuntaskan suatu jalur baru. Tapi ada kalanya jalur yang dibuat terlalu sulit dan jauh di luar kemampuan si pembuat jalur itu. Di Indonesia biasanya nama jalur merupakan suatu kesepakatan saja dari seorang atau sekelompok pembuat jalur.
c. Masalah keaslian jalur
Masalah keaslian jalur biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah pengaman tetap yang ada dalam jalur tersebut. Suatu jalur, misalnya dengan jumlah bolt sebanyak 7 buah akan tetap 7 dan tak boleh bertambah atau berkurang lagi karena dalam kode etiknya, ini sudah resmi menjadi sebuah jalur. Yang menjadi masalah, apakah suatu jalur dengan jarak antar bolt yang sangat jauh tak dapat ditambah dalam batas-batas yang wajar? Juga sebaliknya, apakah jalur yang jarak antar boltnya terlalu rapat tak dapat dikurangi? Tradisi di Yosemite, bila seseorang berhasil memanjat suatu jalur yang cukup mudah, katakanlah setinggi 15 meter, dengan hanya 2 bolt saja, hal ini berlaku bagi semua pemanjat yang akan menggunakan jalur tersebut tanpa penambahan bolt lagi. Tradisi ini memang mendapat protes dari banyak pemanjat pemula yang merasa sanggup menuntaskan jalur tersebut, namun tak mau mengambil resiko dengan hanya menggunakan 2 bolt saja. Contoh lain adalah jika seseorang pemanjat merasa suatu jalur dengan jumlah bolt yang wajar terlalu mudah, berhakkah ia mengurangi jumlah bolt yang ada? Sampai sejauh mana kita bisa menghargai prinsip pemanjatan pertama? (sampai yang paling ekstrim)
d. Pengubahan bentuk permukaan tebing

Untuk masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal itu haram untuk dilakukan, baik itu menambah kesulitan maupun membuat jalur tersebut menjadi lebih mudah. Walaupun begitu sebagian kecil dari seluruh kawasan pemanjatan yang ada (hanya sebagian kecil) yang menerima hal ini, namun hanya pada permukaan yang tanpa cacat sama sekali (blank/no holds) agar kesinambungan jalur sebelum dan sesudahnya dapat terjaga.

Gaya didalam Panjat Tebing

Pengertian gaya didalam panjat tebing menyangkut metode dan peralatan serta derajat petualangan dalam suatu pendakian. Petualangan berarti tingkat ketidakpastian hasil yang akan dicapai.
Gaya harus sesuai dengan pendakian. Gaya yang berlebihan untuk tebing yang kecil, sebaik apapun gaya tersebut akhirnya menjadi gaya yang buruk. Mendaki secara alamiah dengan bantuan teknis terbatas adalah gaya yang baik. Kita harus bekerja sama denga tebing, jangan memaksanya. Kita dapat menggunakan point-point alamiah seperti batu, tanduk (horn), pohon, atau pada batu yang terjepit didalam celah (Chockstone). Akhirnya kita sampai pada pendakian sendiri, tanpa menggunakan tali, Maksudnya adalah menyesuaikan gaya dengan pendakian dan kemampuan diri. Gaya yang baik adalah persesuaian yang sempurna - penapakan dari dua sisi yang baik antara ambisi dan kemampuan.

    
Tidak ada pendakian yang sama. Standar yang baik selalu dapat diterapkan dan juga memungkinkan penyelesaian menjadi kepribadian masing-masing rute. Itulah prinsip pendakian pertama kita tadi. Prinsip tersebut dapat membimbing kita dalam masalah gaya dan etika. Kita telah memiliki standar minimum yang telah siap dan tersedia untuk dijadikan sasaran. Penerimaan terhadap prinsip ini memungkinkan kita untuk meniadakan pertentangan pendapat tentang gaya umum. Keuntungan lain adalah gaya dari pendakian pertama adalah gaya yang layak, dan memberikan keuntungan psikologis kepada pendaki-pendaki berikutnya bahwa rute tersebut, paling tidak, pernah dicoba. Dengan menghargai orang-orang yang menyelesaikannya, dan memperlihatkan bahwa kita paham akan nilainya, serta menganggap pendakian mereka sebagai suatu hasil karya, maka pendakian meraka bukanlah sesuatu yang harus dikalahkan.
   Dalam bukunya How to Rock Climb: Face Climbing, John Long menguraikan dan membuat klasifikasi yang lebih sempit mengenai beberapa gaya yang ada, di antaranya adalah :
a. Onsight Free Solo
Istilah onsight berarti memanjat suatu jalur tanpa pernah mencoba dan juga belum pernah melihat orang lain memanjat dijalur tersebut. Jadi jalur tersebut dipanjat tanpa informasi apa-apa. Sedangkan solo berarti tanpa tali. Jadi onsight free solo berarti pemanjatan tali untuk pertama kali bagi seorang pemanjat tanpa informasi apa-apa.
b. Free Solo
Pemanjatan suatu jalur tanpa menggunakan tali, tapi pernah mencoba walaupun belum hapal benar jalur tersebut.
c. Worked Solo
Pemanjatan tanpa tali dengan sebelumnya pernah mencoba berkali-kali sampai benar-benar hapal mati seluruh bentuk permukaan tebing.
d. Onsight Flash / Vue
Memanjat suatu jalur tanpa pernah mencobanya, melihat pemanjat lain dijalur yang sama, juga tak pernah mendapat informasi apa-apa. Memanjat dengan menggunakan tali sebagai perintis jalur (leader) dan memasangpengaman (running belay). Pemanjat juga tidak sekalipun jatuh dan tidak mengambil nafas/istirahat disepanjang jalur.

e. Beta Flash
Pemanjatan tanpa mencoba dan melihat orang lain memanjat dijalur tersebut, namun telah mendapat informasi tentang jalur dan bagian-bagian sulitnya (crux). Pemanjat kemudian memanjatnya tanpa jatuh dan tanpa istirahat sepanjang jalur.
f. Déjà vu
Seorang pemanjat sudah pernah memanjat suatu jalur sekian tahun sebelumnya dan gagal menuntaskannya. Setelah sekian tahun itu, dengan
kemampuan memanjat yang lebih baik , ia kembali dengan hanya sedikit ingatan tentang jalur tersebut dan berhasil menuntaskan jalur pada percobaan pertama.
g. Red Point
Memanjat suatu jalur yang telah dipelajari dengan sangat baik, tanpa jatuh dan memanjat sambil memasang pengaman sebagai perintis jalur.
h. Pink Point
Sama dengan red point hanya semua pengaman telah dipasang pada tempatnya.
i. Brown Point

Ada beberapa macam untuk kategori ini, misalnya seorang pemanjat merintis suatu jalur, lalu jatuh dan menarik tali, kemudian meneruskan pemanjatan dari titik pengaman terakhir ia jatuh (hangdogging). Pemanjatan dengan top rope juga termasuk dalam kategori ini. Lalu ada lagi pemanjatan dengan bor pertama dipasang terlebih dahulu. Sebenarnya masih banyak lagi yang masuk dalam kategori ini. Seluruh kategori ini menceritakan berbagai taktik, strategi, atau trik untuk mempelajari sekaligus mencoba menuntaskan suatu jalur.
Setelah begitu banyak melihat gaya pemanjat dalam menuntaskan jalur,kita dapat dapat membandingkan mana yang lebih sulit. Dengan begitu dapat pula dibandingkan perbedaan kemampuan seorang pemanjat.

 Pertimbangan lain didalam Panjat Tebing



Gunakan Chock dan Runners (titik pengaman) Alam. Pendakian tebing adalah sesuatu kesatuan yang harus ditangani secara hati-hati. Yang harus diperhatikan adalah masalah penggunaan runners alam dan chockstone buatan, karena alat tersebut membiarkan tebing tetap utuh. Pengunaan piton (paku tebing) dalam suatu pendakian masih menimbulkan cacat pada tebing. Kerusakan yang ditimbulkannya adalah karena :
a. Mempersulit atau mempermudah rute dengan merubah sifatnya.
b. Menimbulkan noda-noda goresan yang tidak sedap dipandang.
c. Dapat melepas belahan batu besar atau serpihan-serpihan batu.
Jadi walaupun dalam kasus-kasus dimana pendakian pertama menggunakan piton, kita harus berusaha memperkecil penggunaan piton karena sifatnya yang merusak
Sampah, jika kita membawa kaleng makan dalam suatu pendakian, injak kaleng tesebut dan bawalah keatas. Lebih baik lagi jika membawa makanan yang tidak dalam kaleng. Kulit jeruk sebaiknya disimpan kembali karena tidak dimakan oleh binatang dan sangat lambat pembusukannya.


Struktur Gunung
Dengan mengetahui struktur suatu gunung, akan lebih mudah bagi kita untuk merencanakan sebuah rute yang akan didaki. Merencanakan tempat untuk berhenti istirahat, dan sebagainya. Faktor lain yang memiliki kaitan erat adalah musim dan cuaca terutama arah angin. Akan lebih sulit apabila kita mendaki dinding selatan pada saat angin bertiup kencang dari arah selatan daripada kalau angin bertiup dari utara. Sebelum seseorang memanjat tebing, seperti juga pada Hill Walking, maka diperlukan pengetahuan rute yang akan diambil. Di negara-negara maju disediakan buku petunjuk rute suatu tebing dengan tingkat kesulitannya. Pendaki dapat memilih rute yang akan didaki dengan memperhitungkan kemampuannya.

Daftar Istilah Dalam Panjat Tebing

  1. Kawasan panjat tebing adalah wilayah pemanjatan yang terdiri minimal dari satu tebing alam pemanjatan.
  2. Tingkat Kesulitan Jalur Pemanjatan adalah skala subjektif untuk mengukur seberapa sulit sulit suatu jalur pemanjatan. Tingkat kesulitan diukur oleh para pemanjat yang mencoba suatu jalur, berdasarkan percobaan itu ditentukanlah tingkat kesulitan. Di dunia dikenal berbagai sistem pengukuran. Yang banyak digunakan di Indonesia adalah skala pengukuran US Yosemite System yaitu menggunakan notasi 5.xx (5.1 - 5.15). Jalur tersulit yang ada di Indonesia adalah di tingkat 5.13b yaitu jalur Si Berat di Tebing 125, Kawasan Pemanjatan Citatah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Sedangkan kebanyakan tingkat kesulitan pemanjatan di Indonesia adalah berkisar di 5.9-5.10.
  3. Tebing artifisial adalah fasilitas dinding panjat yang dibuat manusia.
  4. Tebing alam (natural rock) adalah tebing batu yang dapat dilakukan sebagai tempat untuk melakukan pemanjatan tebing
  5. Bouldering (jalur-pendek) adalah cara memanjat suatu jalur yang berisi minimal satu titik-fokus kesulitan. Jenis jalur bouldering mempunyai ketinggian maksimum yang aman dilakukan pemanjatan tanpa menggunakan mengaman tali.
  6. Crux adalah titik tersulit pada jalur pemanjatan.
  7. Red-point adalah nilai yang diperoleh seorang pemanjat jika berhasil melakukan pemanjatan tanpa membebankan tali pengaman pada suatu jalur pemanjatan setelah melakukan percobaan pemanjatan lebih dari satu kali.
  8. On-sigth adalah nilai tertinggi yang diperoleh oleh seorang pemanjat jika berhasil melakukan pemanjatan tanpa membebankan tali pengaman dengan satu percobaan dan tanpa melihat pemanjat lain sebelumnya melakukan pemanjatan pada jalur tersebut.
  9. Lead climbing adalah teknik memanjat jalur pemanjatan dimana pemanjat pertama memasang peralatan pengaman dan diamankan oleh seorang pengaman (belayar) dari bawah. Teknik pemanjatan ini cocok untuk pemanjat yang telah mempunyai kemampuan memadai untuk melakukan pemanjatan.
  10. Top-rope climbing adalah teknik memanjat suatu pemanjatan dimana tali pengaman pemanjatan telah terpasang pada titik akhir pemanjatan dan pemanjat tidak perlu memasang sendiri pengamanan selama pemanjatan. Pada pemanjatan ini pemanjat nyaris tidak mungkin jatuh jika gagal melakukan pemanjatan. Teknik ini digunakan untuk pemanjat pemula yang akan melakukan pemanjatan suatu jalur.
  11. Jalur-tersedia adalah jalur pemanjatan telah dibuat oleh pemanjat sebelumnya yang telah diberi pengaman permanen (berupa hanger atau piton) sehingga pemanjat lain tinggal mengaitkan cincin kait untuk mengamankan pemanjatannya.
Sumber Referensi : Wikipedia Org