"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"
Showing posts with label HARIMAU JAWA. Show all posts
Showing posts with label HARIMAU JAWA. Show all posts

Wednesday, September 20, 2017

HARIMAU JAWA MUNCUL KEMBALI DI UJUNG KULON , BENARKAH ?

    Berita mengejutkan dilansir oleh Laman Inilah.Com dan dipublish juga melalui chanel Youtube tentang munculnya kembali Harimau Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Berita yang dilansir berdasarkan pengakuan Petugas Jagawana TN Ujung Kulon Muhammad Ganda Putra yang mengaku melihat sosok kucing besar loreng mirip Harimau ketika sedang bertugas mendata populasi Banteng Jawa pada tanggal 25 Agustus 2017 hampir sebulan lalu. Ia baru berani menceritakan kesaksiannya pada pers tanggal 13 September lalu, setelah yakin yang dilihatnya benar-benar kucing besar mirip Harimau Jawa.
Admin Blog menduga itu Pasti Macan Tutul, bukan Harimau Jawa seperti Gif diatas
    Seperti kita ketahui Harimau Jawa sudah dinyatakan punah oleh WWF sejak tahun 1980-an dan diperkuat oleh pernyataan punah oleh lembaga Konservasi Dunia IUCN pada tahun 1990-an dan CITES pada tahun 1996. Namun Pemerintah Indonesia sendiri sampai saat ini belum memberikan pernyataan punah resmi terhadap satwa kharismatik dari Tanah Jawa ini, kecuali LIPI pada tahun 1989. Pernyataan punah baru dinyatakan oleh pihak konservasi asing, sedangkan dari pihak indonesia sendiri masih meyakini keberadaan subspecies Harimau terbesar yang dimiliki Indonesia ini berdasarkan pengakuan masyarakat sekitar hutan, pecinta alam, petugas kehutanan, maupun petugas konservasi lainnya bahwa Panthera Tigris Sondaicus ini masih eksis walaupun bukti fisik berupa foto tidak pernah ditemukan.
  Dari beberapa monitoring dan penjelajahan di hutan-hutan tempat Harimau Jawa terlihat terakhir seperti di TN Meru Betiri, Gunung Slamet, Alas Purwo oleh para peneliti anak negeri seperti yang dilakukan Bapak Didik Haryono dan Eko masih dijumpai bekas cakaran di pohon, maupun fases yang setelah diteliti milik Harimau Jawa bukan Macan Tutul. Demikian pula bekas bulu yang menempel dan air seni di dedaunan yang menjadi bukti daerah homerange atau teritorinya juga masih ditemukan oleh Tim Peduli Karnivor Jawa, namun sayang bukti fisik foto yang diharapkan dari beberapa kamera Trap yang dipasang tidak satupun yang berhasil mengambil gambar sosok Harimau Jawa ini.
   Berikut ini kutipan pengakuan petugas Jagawana yang admin kutip dari Inilah.Com
 Inilah Cerita Penemuan Terduga "Harimau Jawa"
14 Sep. 2017 13:52

INILAHCOM, Ujung Kulon - Harimau Jawa yang telah dinyatakan punah oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1989 silam diduga kembali ditemukan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Pegawai Balai TNUK, Muhammad Ganda Putra adalah yang pertama kali menemukan seekor 'kucing besar' yang diduga adalah harimau Jawa yang telah dinyatakan punah tersebut. Ssaat dia tengah melakukan inventarisasi Banteng pada 25 Agustus 2017.
"Waktu itu jam 11 siang saya liat ada kucing besar, tapi ada lorengnya bukan kaya macan tutul. Tapi saya nggak bawa kamera dan agak takut-takut jadi nggak dideketin," kata Ganda di Ujung Kulon kemarin, Rabu (13/9/2017).
Dari ciri-ciri yang dia amati saat itu, Ganda menambahkan, ciri yang dimiliki itu sangat cocok dengan harimu Jawa yang sudah tidak ditemukan lagi sejak 28 tahun yang lalu. Ditambah lagi dengan ukuran tubuhnya yang lumayan besar sehingga lorengnya terlihat jelas.
Berselang beberapa jam kemudian tepatnya pukul 17.20, beruntung Ganda kembali melihat jenis yang sama saat tengah berada di padang penggembalaan Cidahu. "Ada satu ekor, tapi lebih kecil dari yang siang, lagi makan bangkai banteng. Kali ini saya semakin yakin kalau bukan macan karena keliatan banget ekornya melingkar dan loreng di badannya," jelas dia.
Dugaan ini diperkuat lagi oleh Ganda ketika ia dan timnya mendengar suara auman yang lumayan keras mirip suara harimau.
Kepala Balai TNUK, Mamat Rahmat membenarkan apa disampaikan oleh timnya ini. Dia menambahkan bahwa dugaan ini semakin kuat karena beberapa kali ada masyarkat yang melaporkan melihat sesosok kucing mirip harimau.
"Iya sempat ada beberapa kali masyarakat yang lagi ziarah lapor kalau liat kucing besar. Cuma saya masih belum berani bilang kalau itu harimau Jawa," kata Rahmat.
Rahmat mengatakan bahwa pihaknya akan membentuk tim ekspedisi Harimau Jawa untuk membuktikan apa yang telah disampaikan oleh tim ini dan pernyataan masyarakat ini.
Foto terduga Harimau Jawa di TN Ujung Kulon
  Membaca berita kemunculan Harimau Jawa mengingatkan kembali Admin Blog ini ketika melakukan observasi dan penjelajahan lokasi di desa Darmasari, Lebak Banten yang berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 1990, dimana saat itu Tim mendapat pengakuan kesaksian dari warga bahwa mereka masih melihat sosok Harimau Jawa ini di hutan Lindung yang menjadi koridor lintas satwa dari TN Ujung Kulon dengan TN Halimun Salak. Namun kemunculan Harimau loreng yang diduga Harimau Jawa itu jarang terjadi hanya saat tertentu terutama pada musim kemarau. Menurut warga selain Macan tutul,Sosok yang diduga Harimau Jawa ini ikut turun mencari sumber air dekat pedesaan. Saat itu konsentrasi admin adalah mencari lokasi KKL dengan sasaran Sosial Budaya Masyarakat yang masih berkerabat dengan suku badui bukan meneliti kondisi flora faunanya dan sebagai bagian salah satu persyaratan pemenuhan kuliah di jurusan Pend.Geografi IKIP Jakarta.
 Persepsi yang sering keliru Macan Tutul disamakan dengan Harimau Jawa
   Oleh karena itu kesaksian masyarakat kita abaikan, karena selama ini yang sering admin alami adalah persepsi yang keliru dari masyarakat dengan menyamakan Macan Tutul Jawa dengan Harimau Jawa. Yang mereka lihat sebenarnya adalah Macan Tutul namun diakui sebagai Harimau Jawa, dan ini juga yang admin rasakan dengan kesaksian para pendaki gunung yang katanya melihat Harimau Jawa namun sebenarnya yang mereka lihat adalah Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas). Namun Admin ragu apakah dari sekian banyak kesaksian adalah salah persepsi ? Apakah Mahasiswa yang berpendidikan tinggi tidak bisa membedakan Macan tutul dengan Harimau Jawa ? Jawabannya Iya. Seorang guru Biologi yang jelas berlatar belakang sciene alam saja masih tidak bisa membedakan macan Tutul dengan Macan Loreng.Ini dialami admin di sekolah yang harus berdebat dengan guru biologi hanya disebabkan peryataan admin bahwa Macan tutul Jawa masih banyak ditemukan di Gunung Salak dibantah beliau dengan mengatakan tidak mungkin ada Macan Tutul di gunung Salak, karena daerah jelajahnya terlalu sempit. Kalaupun ada Macan Tutul itu di kebun binatang termasuk harimau Jawa masih ada di kebun-kebun binatang termasuk Taman Safari... begitu alasan beliau. 
    Bayangkan, seorang guru Biologi menganggap harimau Jawa masih ada dan banyak dipelihara di kebun binatang ? Aneh !! Akhirnya saya menjelaskan : Bu, Harimau Jawa sudah lama punah , yang di Kebun binatang dan Taman Safari itu adalah Sub spesies Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae). Benar Home range atau daerah jelajah Harimau Jawa itu luas paling tidak membutuhkan 20 Km2 per ekor, jadi sulit buat Harimau Jawa bertahan di pulau yang begitu padat dan hutannya sudah terfermantasi menjadi petak-petak kecil. Namun Macan Tutul Jawa masih ada dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya dengan baik terutama di hutan-hutan pegunungan Jawa. Dengan mata kepala saya sendiri melihat beberapa kali berpapasan dengan Macan Tutul Jawa ini ketika masih aktif mendaki gunung dulu. Macan tutul dan Macan Kumbang itu sama satu subspesies dengan nama latin Panthera Pardus Melas, perbedaan warna dan corak tutul dan hitam hanyalah variasi genetika tapi mereka masih satu jenis dan sering saya lihat Macan tutul dan Macan kumbang bersama-sama istirahat atau bermain.
Dari ukurannya, sebenarnya jelas yang difoto adalah Macan Tutul seperti ini
   Saya menjelaskan, Harimau Jawa sudah dinyatakan punah oleh IUCN dan WWF dan rasanya kalaupun ada beberapa populasi kecil Harimau Jawa yang tersisa di Taman Nasional Meru Betiri tahun 1980-an, rasanya sulit berkembang biak. Harimau yang terisolasi di sebuah habitat Hutan sempit akan mengalami kesulitan berkembang biak. Akan rawan terjadi kasus Inbreeding dimana perkembangbiakan mereka terbatas pada populasi sisa yang masih satu darah, dan ini akan menyebabkan kegagalan perkembangbiakan karena mereka kawin dalam satu gen.
   Ternyata pendidikan tidak menjamin mereka memahami dan menguasai pengetahuan tentang fauna, dan ini juga yang saya ragukan dengan pernyataan Petugas Jagawana TN Ujung Kulon. Benarkah yang dia lihat adalah sosok Harimau Jawa ? Jangan-jangan yang dilihat adalah Macan Tutul. Namun melihat pengakuan yang dirilis di berita online Inilah.com dan Youtube bahwa dia sudah lama mengontrol dan patroli TN Ujung Kulon dan bisa membedakan Macan Tutul dan Macan Loreng keraguan saya sedikit hilang, namun apakah pengakuan ini bisa dipercaya ? Apakah petugas ini berbohong ? Atau berita ini Hoax belaka ? Mudah-mudahan ini berita benar sehingga penantian panjang tentang kepastian masih eksisnya Harimau Jawa bisa terjawab.
Nah ini baru Harimau Jawa melintas di Taman Nasional Ujung Kulon Tahun 1938
   TN Ujung Kulon adalah tempat perlindungan terakhir bagi Badak Jawa, dan potret terakhir Harimau Jawa yang masih hidup juga didapat di Taman Nasional ini. Pengakuan warga masyarakat sekitar Taman Nasional Ujung Kulon yang melihat sosok kucing besar mirip Harimau Jawa setahun terakhir juga bisa menjadi pegangan terutama Kepala BKSDA Banten dan Ujung Kulon untuk segera menindak lanjuti laporan ini tentunya dengan melakukan ekpedisi pembuktian keberadaan Harimau Jawa dengan memasang Kamera Trap di lokasi yang menjadi kesaksian terakhir Bpk.Muh.Ganda melihat sosok harimau loreng ini. Dan tentunya ini akan menjadi berita besar buat dunia bukan hanya Indonesia tentang kembalinya lagi Harimau Jawa Sub spesies Panthera Tigris yang sudah dinyatakan punah . Kita berharap keajaiban ini benar-benar terjadi bukan berita hoax memalukan yang membuat malu Indonesia di dunia Internasional.
  Penasehat senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Profesor San Afri Awang mengatakan harimau Jawa disebut punah salah satunya karena sudah jarang ditemui secara langsung. Besar kemungkinan foto yang diduga harimau Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) adalah harimau Jawa.
   "Kalau di hutan hewan itu secara umum kalau populasinya sudah sedikit kan susah untuk diketahui. Kalau populasinya banyak, nah sering dijumpai orang. Tapi harimau Jawa itu sudah jarang dijumpai, tidak berarti yang kita sebut punah itu punah betul," ujar San Afri kepada detikcom, Rabu (13/9/2017).
    Menurut Afri perlu suatu metode untuk membuktikan bahwa harimau Jawa masih ada di kawasan TNUK. Salah satunya dengan menggunakan kamera jebakan (trap) yang biasa dipakai untuk mendeteksi berbagai jenis hewan di alam bebas.
     "Dengan kamera trap itu biasanya ketangkap hewan-hewan yang aneh, yang lewat, yang langkah, nah itu kan dianalisis. Sehingga dari hasil analisis itu kriterianya atau karakternya bisa jadi mendekati karaker Harimau Jawa yang dianggap punah itu. Kan kemungkinan-kemungkinan tetap ada, bahwa yang tertangkap kamera trap itu Harimau Jawa, ada kemungkinan," kata mantan Kepala Balitbang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI ini.
Bila Foto dari jarak dekat jelas Terduga Harimau Jawa adalah sosok Macan Tutul Seperti ini
     Peneliti harus menunggu peredaran dan pergerakan dari hewan yang diduga harimau Jawa itu jika ingin membuktikan eksistensi kucing besar loreng itu. Butuh waktu yang lama dan sabar untuk menunggunya.
    "Kalau wildlife itu susah, ada cara kalau kita mau betul yakin kita pakai pembiusan, ditembak bius. Tapi itu kita harus tunggu betul, misalnya setiap tiga hari sekali dia lewat di kamera trap, ya sudah tiga hari kita tunggu. Setelah dibius, dari karakter luar saja kita sudah tahu. Kan kita sudah tahu Harimau Jawa itu seperti apa, tampak luarnya seperti apa, cukup dengan begitu (tampak luarnya) saja kita akan katakan ini harimau Jawa," jelasnya.
    Afri mengatakan daerah jelajah (home range) dari harimau Jawa bisa mencapai 100 kilometer. Ada dugaan harimau itu berasal dari wilayah lain yang ada di pulau Jawa.
     "Kalau dugaan saya dia nggak soliter (sendiri), mesti ada temannya. Kalau kita mendengar cerita harimau Jawa ini kan di Merapi kita masih dengar cerita dia masih dijumpai, kemudian cerita di Gunung Wilis, Jawa Timur itu juga masih dijumpai masyarakat, kemudian di Gunung Lawu juga ada cerita yang sama, bisa saja ini home range semakin jauh, tetapi pasti dia nggak sendirian," ungkapnya.
     Selain itu, daya tahan hidup harimau Jawa bisa mencapai 40 tahun. "Jadi kalau kita bilang punah setelah 10 tahun ya itu karena ketidaktahuan kita saja. Cuma populasinya sudah terlalu kecil sehingga kamera trap tidak bisa lagi menangkap," sebutnya.
     Harus ada upaya melestarikan kembali harimau Jawa yang diduga di Ujung Kulon jika terbukti benar. Salah satu yang dilakukan adalah mempelajari home range dari hewan tersebut. Namun KLHK terlebih dahulu akan membuktikan dan memastikan kebenaran spesies harimau Jawa di TNUK.
 I'am Leopard, No Tiger Profesor !!
    "Yang pertama habitat dia jangan diganggu, ruang hidup dia itu kan hutan, pakan dia tentu harus tersedia. Itu yang kita usahakan untuk tetap ada," jelas mantan Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan ini.   
Panthera tigris sondaica, demikian nama ilmiah harimau endemik Pulau Jawa, sudah dinyatakan punah. The Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam situs resminya menjelaskan harimau Jawa sudah dinyatakan punah sejak dekade 1970-an. Penyebab kepunahan adalah perburuan, kehilangan hutan sebagai habitat, dan kehilangan mangsa.
    Harimau Jawa juga dipastikan punah lewat rapat Convention on International Trade in Endangered Species di Florida, Amerika Seerikat, pada 1996. Akankah temuan di Taman Nasional Ujung Kulon bisa mematahkan status kepunahan harimau Jawa?
Sumber Referensi : Detik.Com, Inilah Com

Sunday, May 8, 2011

KISAH TERAKHIR HARIMAU JAWA YANG TERSISA DI GUNUNG KIDUL

     Harimau Jawa (Phantera Tigris Sondaicus) sudah dinyatakan punah sejak tahun 1980-an, walaupun masih ada kesaksian penduduk sekitar hutan, Peneliti alam liar, Pencinta alam maupun pendaki gunung yang berpapasan dengan legenda Pulau Jawa yang sangat terkenal ini. Harimau Jawa adalah spesies Harimau terbesar yang pernah dimiliki Indonesia mengalahkan Harimau Bali yang juga sudah punah, Harimau Malaya, Harimau Sumatra dan Harimau Kaspia (juga sudah punah). Sayang Harimau Jawa kini hanya tinggal kenangan , generasi muda kita tidak mungkin lagi melihat sosok berkarisma yang biasa disebut Macan Gembong atau Mbah di Jawa Tengah dan Yogyakarta ini.
   Saya sangat sedih melihat kenyataan punahnya Harimau Jawa, walaupun masih berharap ada keajaiban kembalinya raja Hutan Pulau Jawa ini. Tulisan Peneliti Bpk.Didik Raharyono tentang keberadaan Harimau Jawa yang masih eksis dengan dikirimnya 2 Foto ke email beliau sungguh merupakan kabar gembira dan mengejutkan. Mudah-mudahan Foto ini benar Harimau Jawa dan bukan Foto editan atau malah sosok Harimau Sumatera yang sengaja dikirim untuk membuat sensasi.
Namun kepedulian Bapak Didik Raharyono dalam meneliti keberadaan Harimau jawa yang begitu gigih sungguh luar biasa, dan kita sangat berharap berita gembira dari beliau.
    Masa kecil Saya yang kebetulan lama di Gunung Kidul masih ingat dengan kisah dan cerita dari Eyang kakung dan saudara-saudara lain yang tinggal di wilayah Karang Mojo dan Ponjong tentang kehadiran dan sepak terjang Harimau Jawa pada masa itu . Stigma negatif yang terlanjur melekat pada raja hutan ini tidak membuat saya membenci Harimau Jawa ini tapi justru merasa kehilangan. Karena saya paham mengapa harimau jawa mengamuk atau memangsa ternak karena habitatnya sudah makin menyempit dan luas hutan yang tersisa semakin sedikit. Jadi jangan menyalahkan Harimau Jawa tapi coba koreksi dan mawas diri apa yang dilakukan penduduk sehingga beberapa peristiwa tragis akibat amukan harimau Jawa ini terjadi. 
    Peristiwa amukan Harimau Jawa terjadi sekitar tahun 1960-an dan 1970-an di daerah kampung halaman orangtua saya di Gunung Kidul, Yogyakarta. Saya hanya pendengar apakah cerita ini benar atau kisah nyata saya belum membuktikannya. Ketika remaja dan tergabung dalam Club Pencinta Alam saya selalu mencoba menjelajah lokasi-lokasi yang pernah diceritakan orang tua saya dan Eyang , terutama wilayah ponjong yang berbatasan dengan kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dan juga Pebukitan Watu perahu dan Gunung Gajah di wilayah perbatasan Bayat, Klaten Jawa Tengah dengan Semin, Gunung Kidul. Namun dari lokasi yang saya datangi tahun 1985, dan 1986 di Gua Macan, Ponjong tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Harimau Jawa. Kecuali yang saya lihat saat itu adalah Jejak , Feses dan bekas Cakaran Macan Tutul di batang pohon sekitar gua Macan. Ya saat itu masih ada Macan Tutul dan Macan Kumbang tapi tidak dengan Harimau Jawa. Namun warga seringkali menyalah artikan Harimau Jawa , padahal yang dilihat adalah Macan Tutul. Walau penasaran akhirnya saya menyerah mungkin benar Harimau Jawa hanya tinggal mitos dan legenda.
    Eyang kakung sendiri mungkin menyalah artikan kedua spesies Kucing besar Jawa ini dengan sebutan Mbah. Waktu saya kecil diawal tahun 1970 memang saya pernah dibangunkan Eyang untuk melihat kehadiran Harimau Jawa yang mengendap-endap di dekat kandang Kambing milik Eyang sehingga menimbulkan suara gaduh dari ringkikan Kambing yang ketakutan dan suara auman Harimau ini, yang saya lihat,karena gelap samar-samar sosok Harimau berkulit loreng-loreng. Betulkah itu Harimau Jawa ? Saat itu Saya masih berusia 2 tahun-an dan tidak bisa menyimpulkan sosok ini. Namun beberapa minggu kemudian ada kabar di kampung saya ini Harimau Jawa yang selama ini memangsa ternak berhasil diperangkap warga. Karena warga sangat emosi dan marah Harimau ini dihujani dengan tombak, lembing, batu dan benda-benda lainnya. Petugas PHPA yang datang agak terlambat sempat menyelamatkan Harimau ini dan dibawa ke kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta untuk dirawat akibat luka-lukanya yang parah. Namun karena Infeksi akibat luka-lukanya , akhirnya Harimau Jawa ini hanya bertahan beberapa hari dan akhirnya mati dengan sangat menyedihkan.

    Stigma negatif Harimau Jawa di kampung orang tua saya ini dulu begitu melekat, sampai-sampai apabila ada warga yang meninggal dunia makamnya yang masih merah harus ditunggu berhari-hari secara bergantian siang dan malam agar jenajahnya tidak diambil dan dimangsa Harimau Jawa. Memang sering warga melihat aksi si raja hutan ini mengais-ngais kuburan yang masih baru dan kemudian menarik mayatnya kedalam hutan untuk dimangsa. Terlebih jenis batuan dan tanah di Gunung Kidul yang dominan tanah karst dan sebagian gersang/tandus sehingga bau bangkai mayat orang yang baru dikubur akan mudah tercium oleh Si Raja Hutan walaupun jaraknya cukup jauh dari hutan tempat habitat Harimau Jawa ini bermukim. Mengapa Harimau Jawa memangsa mayat manusia dan juga ternak warga ? Mungkin Harimau Jawa yang saat itu mengamuk hanya tinggal satu-satunya dan sudah berusia tua. Karena beberapa bulan sebelumnya ditahun 1969 ada berita Harimau Jawa betina yang tertabrak truk di jalan menuju pantai Selatan Jawa di Gunung Kidul, sehingga Harimau Jantan Tua yang sudah tidak mampu lagi berburu mencari mangsa yang lebih mudah di dekat pemukiman warga disamping mungkin mengamuk karena kehilangan pasangannya.
Peta Sejarah Penyebaran Harimau Jawa

    Hampir semua tetangga Eyang di Ponjong pernah melihat sosok Harimau Jawa ini, sehingga kalau ingin mencari kayu bakar kehutan harus berhati-hati. Jenis tumbuhan di kawasan kars ponjong yang dominan semak belukar sering menjadi jebakan maut yang digunakan Harimau Jawa untuk memangsa buruannya termasuk manusia yang tanpa sengaja masuk dalam daerah jelajah Harimau Jawa. Pernah ada kasus petani yang sedang mencari buah Duwet/Jamblang di pinggiran hutan ponjong tak menyadari kehadiran Harimau Jawa di dekatnya ketika beristirahat. Bulu Harimau Jawa yang loreng-loreng tersamar dengan semak belukar yang berwarna kuning kecoklatan. Harimau Jawa yang posisinya juga sedang tidur menjadi terbangun ketika petani ini tak sengaja rebahan di punggungnya dan akhirnya fatal Harimau Jawa ini berbalik menyerang dan memanggsa petani ini dan membawanya kedalam hutan (Warga menyebut Gua Macan sebagai sarangnya).
   Eyang yang selalu menjadi tumpuan saya bertanya memberitahukan bahwa kalau mau melihat sosok Harimau Jawa datanglah berlibur di musim kemarau antara bulan Juni s/d Oktober. Karena pada saat itu sumber air di hutan dan di gunung hampir habis. Maka kata Eyang Harimau Jawa ini akan turun dan mendatangi telaga/Embung yang sengaja dibuat warga gunung Kidul untuk menyimpan cadangan air di musim kemarau. Saya yang saat itu masih duduk dibangku SMA dan kuliah di tahun pertama mencoba datang berlibur di bulan itu untuk bisa melihat impian sosok Harimau Jawa yang katanya masih ada. (Tahun 1984-1988). Namun saya kecewa karena berkali-kali saya menunggu kehadiran Harimau Jawa ini tidak pernah terwujud.

Foto Harimau Jawa yang dibunuh di Malingping, Lebak Banten tahun 1941
   Hobi saya semasa muda yang sering mendaki gunung juga diperkuat keinginan mencari Sosok Harimau Jawa ini. Sosok yang selalu diceritakan Eyang dan Bapak saya dengan sebutan Mbah dan Macan Gembong. Namun rangkaian perjalanan saya mendaki gunung-gunung di Jawa Barat dan Jawa Tengah gagal menemukan sosok dan jejak kakinya. Hanya sekali ketika mencoba mendaki Gunung Slamet lewat jalur Utara (Guci) suara Auman keras yang menggema di lereng gunung Slamet tahun 1986 memberi sedikit harapan keberadaan Harimau Jawa. Demikian pula dalam dua pendakian ke Gunung Ciremai tahun 1989 dan 1990 yang dulunya merupakan habitat Hewan ini juga tidak menemukan jejak dan sosoknya. Namun warga sekitar Gunung Ciremai yang saya jumpai masih sering melihat Harimau Jawa ini sering turun Gunung di musim kemarau atau kalau terjadi gempa vulkanik di gunung ini.
    Saya berharap foto yang dikirim ke Mas Didik  tahun 2014 yang lalu benar-benar Foto Harimau Jawa, sehingga penantian panjang dan keragu-raguan tentang masih eksisnya Hewan ini bisa segera terjawab. Semoga Harimau Jawa masih ada dan tetap dapat mempertahankan kelestariannya dari ancaman kemajuan jaman dan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Wednesday, April 6, 2011

HARIMAU JAWA BELUM PUNAH, BENARKAH ?

    Spesies harimau di seluruh dunia ada 8 jenis, dan 3 subspesies diantaranya dinyatakan sudah punah, yaitu harimau Kaspia (Panthera Tigris Virgata) punah pada tahun 1950, binatang tersebut hidup di Iran, Afghanistan, Turki, Mongolia, Rusia dan harimau Bali (Panthera Tigris Balica) punah pada tahun 1937, hewan tersebut hidup di hutan-hutan di pulau Bali Indonesia, kemudian disusul harimau Jawa atau Javan Tiger (Panthera Tigris Javanica/Sondaica) yang hidup di pulau Jawa Indonesia.
  Namun klaim atas punahnya harimau Jawa masih banyak dibantah oleh beberapa saksi yang pernah melihat bahwa harimau Jawa masih ada walaupun mereka tidak berhasil menunjukkan bukti yang bisa diverifikasi. Menurut seorang mantan pekerja Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi yang bernama Lukman, pada tahun 2000 mereka pernah melihat seekor harimau Jawa di hutan tersebut. Oleh karena itu jika mendengar bunyi tembakan, para petugas penjaga hutan taman nasional alas purwo akan langsung mencari sumber suara tembakan tersebut sampai ketemu untuk menjaga keselamatan harimau Jawa yang menurut mereka masih ada disitu.
   Hal ini berbeda dengan pendapat seorang petugas Kebun Binatang Surabaya (tidak disebutkan namanya) yang pernah bertugas dibagian Burung Jalak Bali di KBS Surabaya, dimana dia juga mengetahui tentang asal-usul berbagai satwa langka di Indonesia. Dia mengatakan bahwa harimau loreng yang dilihat oleh para petugas taman nasional alas purwo tersebut bukanlah harimau Jawa yang sebenarnya, melainkan harimau Sumatera yang kerdil, karena Belanda pernah mendatangkan beberapa ekor harimau Sumatera pada tahun 1939 dan dipelihara di tempat karantina di Alas Purwo untuk selanjutnya dilepas dialam bebas.

PENELITIAN ILMUWAN ASING

   Dr. John Seidensticker Ph.D.seorang ahli konservasi biologi dan kepala pusat konservasi ekologi dari Smithsonian’s National Zoological Park di Amerika Serikat yang dampingi rekannya Ir. Suyono dari direktorat perlindungan dan pengawetan alam Indonesia melakukan penelitian secara khusus pada tahun 1970 dan berhasil mendapatkan beberapa foto harimau. Namun karena foto tersebut terlalu buram, akhirnya mereka tidak bisa memastikan bahwa itu benar-benar foto harimau Jawa. 
  Selama tahun 1998-1999, yayasan The Tiger Foundation yang berpusat di Amerika Serikat terus menerima laporan dari penjaga taman nasional di Jawa Timur yang melaporkan bahwa sering terjadi penampakan harimau Jawa di dalam taman nasional dan di hutan-hutan sekitar taman nasional di Jawa Timur. Mereka juga memberikan bukti berupa foto jejak kaki, guratan pohon, bulu dan kotoran harimau, dan diteliti dilaboratorium di Amerika Serikat.
  The Tiger Foundation segera memberikan dukungan kepada departemen kehutanan Indonesia dengan memasang kamera pengintai di hutan yang di duga ada harimau Jawa. Mereka berhasil mendapatkan foto-foto satwa liar, namun tidak menemukan adanya bukti foto harimau Jawa, kecuali hanya macan tutul.
   Mereka menyimpulkan bahwa bukti-bukti  foto yang telah dicurigai sebagai milik harimau Jawa tersebut adalah kotoran macan tutul, dan bulu serta foto guratan pohon tersebut ternyata milik macan tutul. Dan mereka sangat meyakini dan sudah tidak meragukan lagi bahwa harimau Jawa telah benar-benar punah.

PENAMPAKAN TERAKHIR HARIMAU JAWA DI ABAD XXI

Berdasarkan keterangan situs resmi Balai Taman Nasional Meru Betiri, warga lokal permanen hasil hutan TN Meru Betiri mengaku bahwa mereka masih terkadang melihat penampakan harimau loreng (harimau jawa) hingga era 2010. Namun ini hanyalah sebuah pengakuan saja yang tidak disertai bukti otentik seperti foto atau tanda-tanda kuat lain milik harimau jawa. Benarkah harimau Jawa yang sangat melegenda itu telah lenyap dari muka bumi? Bisakah putra putri Indonesia membuktikan bahwa harimau Jawa masih ada? Atau menyetujui klaim bahwa harimau loreng ini telah benar-benar punah? 
  Selama ini dugaan terhadap keberadaan harimau jawa hanya terfokus di TN Meru Betiri. Bukankah masih banyak hutan-hutan terpencil lainnya di Pulau Jawa yang masih menyediakan mangsa walaupun sedikit. Bukankah masih ada hutan yang terletak di gunung-gunung di jawa yang hampir tidak terjamah manusia. Berdasarkan penuturan penduduk lokal Pulau Jawa (para orang-orang tua) dimana mereka benar-benar memahami sifat-sifat harimau jawa. Harimau jawa tidak takut bertemu manusia. Pada jaman dahulu jika terjadi pertemuan antara manusia dengan harimau jawa (macan gembong), harimau jawa hanya memalingkan muka saja dan tidak lari. Ini bisa dijadikan alasan mengapa beberapa warga sekitar TM Meru Betiri mengklaim bisa melihat harimau loreng. Walaupun salah satu sifat harimau ini adalah suka menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh mangsa.
   Tapi kenapa jika mereka pernah melihat harimau jawa tapi tidak ada yang bisa memotretnya? Perlu kita ketahui bahwa orang-orang yang mengaku melihat harimau jawa tersebut bukanlah para peneliti yang dilengkapi dengan fasilitas kamera, melainkan para pekerja ladang atau petani, dan sejenisnya. Sudah tentu mereka tidak mungkin memotretnya karena tidak membawa kamera, kecuali hanya membawa peralatan bertani dan berkebun.
  Mungkinkah akan ada foto harimau jawa terbaru? Semoga anak negeri bisa menemukan bukti foto agar dunia yakin bahwa harimau Jawa masih ada, sebelum peneliti asing yang mencintai satwa liar berhasil mengungkap fakta tentang keberadaan harimau Jawa. Jika selama ini tidak ada orang yang bisa menunjukkan bukti foto harimau jawa terbaru, boleh dipercaya bahwa harimau jawa memang benar-benar telah punah. Tapi apa yang terjadi pada tahun 2013?

HARIMAU JAWA MUNCUL LAGI DI TAHUN 2013

   Ternyata tanda-tanda keberadaan harimau jawa tidak hanya terdapat di Meru Betiri saja. Hutan belantara di pulau jawa masih cukup luas untuk dijelajahi. Mencari hewan sebesar harimau jawa di hutan jawa yang masih luas ini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Pada awal oktober 2013, secara tanpa sengaja ditemukan jejak kaki karnivora besar mirip jejak harimau jawa di danau Ranu Tompe. 
  Setelah ditindaklanjuti, dugaan keberadaan harimau jawa semakin kuat. Tim Ekspedisi Eksplorasi Ekologi Ranu Tompe Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menemukan bekas cakaran (marking) hewan karnivora di pohon pampung atau pohon katesan (Macropanax dispermus), yang ditemukan pada tanggal 9 oktober 2013.
   Hal ini semakin memperkuat harapan bahwa raja hutan pulau jawa ini masih hidup. Berdasarkan literatur, karakter cakaran sebesar itu adalah milik Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Harimau Jawa. Sedangkan ukuran cakaran macan tutul jawa (Panthera pardus melas) hanya kurang dari 13 sentimeter saja.
   Tim ini juga menemukan banyak jejak tapak kaki (foot print), tahi/kotoran (faeces) satwa karnivora berukuran besar. Diameter kotoran itu berukuran antara 3,6 sampai 3,8 cm dengan panjang rata-rata 6 cm. Jika ditinjau dari besarnya kotoran milik karnivora terbesar di pulau jawa saat ini, itu bukanlah kotoran macan tutul atau macan kumbang, melainkan kotoran milik harimau jawa. Selanjutnya pihak BB TNBTS berkonsultasi dengan akademisi Biologi di Universitas Gajah Mada (UGM) tentang temuan baru ini. Hasilnya, mungkin Harimau Jawa masih ada. Namun ini hanya sebatas dugaan dan perlu ditindaklanjuti untuk memastikan apakah dugaan itu benar.
   Direncanakan pada tahun 2014 akan dipasang camera trap di sekitar danau ranu tompe yang saat ini belum pernah dijamah manusia dengan tujuan untuk memastikan apakah harimau jawa benar-benar masih ada.

Sumber Referensi : Juragan Cipir.Com

Monday, March 7, 2011

HARIMAU JAWA HANYA TINGGAL KENANGAN

   Harimau Jawa masih ada? Harimau Jawa atau Javan Tiger dengan nama latin Panthera Tigris Sondaica atau disebut juga Panthera Tigris Javanica. Disebut Panthera Tigris Sondaica karena populasi terbanyak adalah di wilayah Jawa Barat atau di wilayah Sunda. Harimau loreng yang keberadaannya masih misterius ini telah beberapa kali dinyatakan punah. Pertama pada tahun 1972 dinyatakan punah, kemudian tahun 1980 dinyatakan punah yang kedua kalinya, penyebab kepunahan diperkirakan akibat perburuan dan hilangnya habitat.
Harimau Jawa Di Kebun Binatang London Zoo, Inggris
  Situs resmi departemen kehutanan RI tidak mencatat tentang spesifikasi untuk ukuran harimau Jawa. Beberapa laporan lain  mencatat data yang berbeda-beda untuk ukuran tubuh harimau Jawa, ada yang mengatakan bahwa harimau Jawa memiliki ukuran tubuh lebih besar dari harimau Sumatera dan Bali. Namun ada juga yang mencatat bahwa ukuran harimau Jawa adalah yang terkecil di antara subspesies harimau lainnya yang ada di Asia. Semua laporan tentang spesifikasi ukuran untuk harimau Jawa masih dipertanyakan. Menurut sebuah teori hukum tentang harimau, bahwa semakin menjauhi garis kathulistiwa maka ukuran harimau semakin besar. Namun teori ini juga masih dipertanyakan.
  Pada mulanya di akhir abad ke 19 harimau Jawa masih banyak berkeliaran di hutan-hutan di seluruh pulau Jawa, dimana pada waktu itu harimau loreng ini dapat dengan mudah menemukan mangsanya karena habitat mereka belum terusik oleh manusia. Namun menjelang tahun 1940 harimau jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil saja, diperkirakan mereka terusir karena habitatnya banyak yang dijadikan sebagai lahan pertanian.
Harimau Jawa Yang ditangkap di Malang, Jawa Timur
   Selanjutnya diadakan upaya untuk menyelamatkan mereka dengan membuka taman nasional, namun tempat tersebut hanya mampu menyediakan sedikit mangsa hingga akhirnya populasi harimau Jawa semakin menyusut. Akhirnya pada tahun 1950 jumlah harimau Jawa yang masih tersisa diperkirakan hanya ada sekitar 25 ekor hewan saja.
  Kemudian pada tahun 1972 ada sinyalemen bahwa harimau Jawa muncul lagi. Ketika berlangsungnya pembangunan waduk Ir. Sutami di Karangkates, beberapa pekerja mengaku telah menjumpai beberapa ekor harimau Jawa di area pengambilan batu di hutan lereng gunung kendeng di Malang selatan. Terkadang beberapa pengemudi kendaraan pengangkut material proyek waduk melihat sekeluarga harimau loreng menyeberangi jalan raya pada malam hari. Belum lagi pengakuan-pengakuan warga di daerah-daerah lain di jawa yang menemukan bahwa harimau Jawa masih hidup. Akan tetapi pengakuan-pengakuan semacam ini tidak bisa diverifikasi.
Harimau Jawa Yang Dibunuh Di Banyuwangi, Jawa Timur
  Namun, pada tahun 1980 buku mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar menerangkan bahwa harimau Jawa yang tersisa di pulau Jawa masih ada sekitar 2 ekor. Ini berarti tidak ada pihak yang berani menyatakan bahwa harimau Jawa sudah punah, dan kemungkinan harimau Jawa masih ada walau tinggal sedikit.
   Sebuah temuan baru menemukan adanya jejak, guratan pohon, kotoran yang diyakini milik harimau Jawa. Dalam penelitian secara mikroskopis, struktur morfologi rambut harimau Jawa dapat dibedakan dengan rambut macan tutul. Oleh karena itu pada tahun 1998 diadakan seminar nasional harimau Jawa yang dilaksanakan di UC UGM dan menyepakati akan dilakukan “Peninjauan Kembali” untuk melakukan pembuktian eksisitensi atas keberadaan harimau loreng penyandang status punah ini, karena kemungkinan kecil satwa ini belum punah.
Pertunjukan Rampogan di Blitar, Mempercepat punahnya Harimau Jawa
   Situs resmi departemen kehutanan Taman Nasional Meru Betiri menerangkan bahwa habitat terakhir harimau Jawa berada di taman nasional Meru Betiri  yang terletak di perbatasan kabupaten Jember dan Banyuwangi. Mereka tidak pernah menyatakan secara resmi bahwa harimau Jawa sudah punah, namum mereka hanya memperkirakan bahwa kemungkinan harimau loreng ini sekarang sudah punah. Bahkan situs resmi Balai Taman Nasional Meru Betiri menerangkan berdasarkan penuturan warga bahwa perjumpaan warga lokal permanen hasil hutan dengan harimau jawa masih sering terjadi hingga era 2010.
  Pada sekitar tahun 1850, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) masih banyak ditemukan di seluruh pelosok Pulau Jawa. Bagi penduduk lokal yang tinggal di daerah pinggiran pedesaan dan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, Harimau Jawa dianggap sebagai hama karena seringkali mencuri dan memangsa hewan ternak  seperti kambing dan domba. 
Harimau Jawa Yang mati Dibunuh di Jawa Tengah
  Pembukaan lahan pertanian akibat pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan ruang hidup Harimau Jawa semakin terdesak. Akibatnya timbul konflik antara penduduk lokal dengan Harimau. Sejak saat itu nasib Harimau Jawa kian tak pasti dan hingga kini masih menjadi misteri.
  Sebagian ahli satwa liar meyakini Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur sebagai habitat terakhir bagi Harimau Jawa. Setidaknya hingga tahun 1980-an, 3 ekor Harimau Jawa diperkirakan masih hidup di sana.
   Pada awal 1990-an, TN Meru Betiri yang didukung oleh WWF Indonesia berinisiatif memasang kamera jebak (camera trap) untuk memastikan Harimau Jawa yang masih tersisa. Kamera Jebak pun di pasang di 19 titik yang diduga menjadi daerah perlintasan harimau Jawa. 
Nasib Tragis Harimau Jawa di Gunung Kidul, Yogyakarta
  Pemantauan dilakukan selama setahun penuh dari Maret 1993 hingga Maret 1994. Survei juga dilakukan terhadap jejak dan kotoran (faeces) yang ditinggalkan Harimau Jawa. Hasil pemantauan selama setahun tersebut, tak satu pun foto dan jejak Harimau Jawa berhasil ditemukan. Bahkan, berdasarkan hasil survei tersebut, IUCN (1996) secara resmi menyatakan bahwa Harimau Jawa telah punah dari muka bumi untuk selamanya.  
  Namun ada pengakuan dari penduduk desa dekat hutan, para pendaki gunung, pecinta Alam maupun kesaksian peneliti dan pegiat alam bebas yang masih menyaksikan penampakan Harimau Jawa. Kesaksian itu antara lain :
  1.  Sejumlah peneliti yang melakukan penelusuran dan perburuan ke kawasan hutan di Jember, Jawa Timur, terakhir berhasil menemukan Harimau Jawa masih dalam keadaan hidup pada 1976. 
    Harimau Jawa Di G.Ciremai
  2. Beberapa pendaki gunung di tahun 90an hingga awal 2000, bercerita pernah berjumpa atau didatangi harimau jawa ketika sedang beristirahat, berkemah atau sedang membuat api unggun.
  3. Seorang pendaki di gunung Semeru, ketika sedang tidur merebahkan diri di atas rumput ternyata ada seekor harimau yang juga tertidur di sampingnya.
  4. Di gunung Ciremai pendaki yang bermalam ketika membuka tenda dikagetkan oleh seekor harimau yang berdiri di depan tenda.
  5. Di gunung Lawu awal tahun 2000an beberapa pendaki mendengarkan auman harimau yang bergema sangat keras.
  6. Di gunung Arjuna-Welirang ketika sedang membuka jalur, beberapa penambang belerang yang sedang beristirahat didatangi seekor harimau yang mematikan api unggun mereka dengan ekornya.
  7. Penelitian oleh sekelompok Pecinta Alam pada tahun 2005 di gunung ungaran juga mendapatkan bukti berupa gua sarang harimau di lereng terjal yang penuh dengan goresan cakar harimau pada batu di dasar pintu masuk gua.
  8. Pada musim kemarau yang panjang di daerah Gunung Kidul, satwa yang satu ini dipercaya sering "turun gunung" dalam arti yang sebenarnya di malam hari untuk mencari air. Banyak penduduk Gunungkidul yang mengaku bertemu dengan harimau loreng.  

Sumber Referensi : Juragan Cipir.Com

Tuesday, February 8, 2011

HARIMAU JAWA SOSOK KARNIVORA YANG MISTERIUS

   Harimau Jawa adalah spesies karnivora besar  yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa (endemik). Harimau ini termasuk salah satu sub-spesies harimau (Panthera tigris) yang secara alami tersebar di Asia, mulai dari danau laut Kaspia, Siberia India, China, daerah kontinen Asia Tenggara hingga Kepulauan Nusantara. Meskipun secara umum, kebiasaan hidup Harimau Jawa sama dengan harimau lainnya. Namun berdasarkan fisiknya, sosok Harimau Jawa memperlihatkan ciri  khas yang jauh ‘berbeda”.
    Bersama dengan singa, macan tutul dan jaguar, Harimau Jawa termasuk keluarga kucing besar (Felidae) yang menduduki posisi puncak dalam rantai makanan. Untuk menjamin tetap tersedianya hewan mangsa, harimau memiliki daerah teritorialnya sendiri. Pejantan umumnya memiliki luas daerah teritorial berukuran 10 x 10 km. Sedangkan betina memiliki daerah jelajah yang lebih kecil.Ukuran tubuh rata-rata harimau Jawa lebih besar dari harimau Sumatera dan harimau Bali, bahkan sedikit lebih besar dari harimau Malaya dengan panjang rata-rata 200-245 cm. Berat jantan berkisar antara 100-140 kg dan betina berkisar antara 75-115 kg (Tabel 1).
   Dibandingkan dengan subspesies lainnya, bentuk tubuh harimau Jawa termasuk yang paling unik dan “sexy”. Berikut ini adalah awetan (taxidermi) utuh dari seekor harimau Jawa yang tersimpan di sebuah museum Eropa .
Harimau Jawa
  Berbeda dengan singa yang hidup dalam kelompok, harimau cenderung hidup soliter dan  lebih suka berburu pada malam hari (nokturnal). Harimau jantan juga sangat intoleran terhadap pejantan lain yang memasuki daerah kekuasaannya. Oleh karena itu, sebagai peringatan, harimau akan menandai batas wilayahnya dengan air seni dan gurat-gurat cakaran pada batang pohon tertentu. Tiap individu harimau memiliki bau air seni yang sangat khas.
   Dari jejak dan kotoran yang ditinggalkan, diketahui bahwa Harimau Jawa tergolong predator yang oportunis.  Harimau Jawa akan memangsa hewan apa saja yang dapat ditemukan selama menjelajahi hutan. Rusa (Muntiacus muntjak) dan Babi hutan (Sus scrofa) adalah makanan favoritnya. Satwa lain seperti: Banteng (Bos javanicus), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), trenggiling (Manis javanica), ular, ayam hutan,  bahkan hingga serangga seperti kumbang badak juga termasuk dalam daftar menunya. 
    Selain harimau, di hutan-hutan dan pegunungan Pulau Jawa juga dapat ditemukan hewan pemangsa (Karnivor) lain yang ukurannya lebih kecil yaitu macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan Ajag,  sejenis anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).
Karakter unik Harimau Jawa
  
Kepala Harimau Jawa
Kepala harimau Jawa terlihat kecil untuk ukuran badannya yang agak besar, panjang dan ramping. Bentuk kepala juga lebih pipih dengan hidung yang sempit dan panjang. Warna kepala kuning kemerahan gelap dengan sedikit surai/janggut yang tumbuh di dagu/leher. Pipi di dominasi warna putih dengan 2 garis loreng berwarna kontras yang tebal.  Leher  harimau Jawa terlihat lebih jenjang. Kaki agak panjang dengan ukuran telapak kaki yang sangat besar. Bahkan menurut Wikipedia, garis tengah rata-rata jejak kaki harimau Jawa lebih besar dari diameter jejak kaki Harimau Benggala.
  Pola belang harimau Jawa juga sangat unik. Dibandingkan subspesies lainnya, harimau Jawa memiliki jumlah belang yang paling banyak (dapat mencapai total lebih dari 100 garis belang per ekor). Bentuk belangnya juga sangat tipis dan panjang dengan jarak yang rapat terutama di bagian paha dan sekitarnya. Anehnya lagi, belang harimau Jawa hanya terkonsentrasi di bagian belakang tubuh. Saat mencapai bagian perut, garis belang tampak menghilang secara tiba-tiba. Setengah bagian perut hingga bagian depan pun terlihat lebih polos  dengan jumlah garis belang yang minim. Hal ini terlihat dengan jelas pada foto awetan (taxidermi) harimau Jawa pada Gambar 2 (di atas) dan 4 berikut ini
Perbandingan Harimau Sumatra dan Harimau Jawa
Gambar 4. Perbandingan pola belang pada Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan pola belang harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Belang harimau sumatera terlihat lebih lebar dan tebal (atas). Sedangkan harimau Jawa memiliki pola belang yang tipis, panjang dan sangat rapat (bawah). 
  Dari gambar di samping  terlihat jelas perbedaan fisik Harimau Jawa dengan saudaranya Harimau Sumatera. Perbedaan yang paling menyolok terlihat pada bagian surai (jenggotnya). Perlu diketahui bahwa Harimau Sumatera adalah subspesies harimau yang memiliki surai paling lebat di antara seluruh subspesies harimau di dunia. Jadi, jika anda ingin memastikan suatu harimau tergolong harimau Sumatera atau bukan, lihat saja jenggotnya. 
  Pola belang Harimau Jawa dan Sumatera juga berbeda. Dengan pola belangnya yang tipis memanjang, warna bulu harimau Jawa terlihat lebih cerah.  Belang harimau Sumatera lebih lebar rapat dan hampir merata di sekujur tubuh sehingga warna bulu terlihat lebih gelap. 
   Postur tubuh juga memperlihatkan perbedaan yang jelas. Tubuh Harimau Sumatera sedikit lebih kecil, pendek, gempal namun proporsional.  Sedangkan postur tubuh harimau Jawa terlihat lebih unik, dengan kepalanya yang kecil, tubuh ramping dan telapak kaki yang besar (Gambar 4)
Gambar 5. Perbandingan pola belang antara Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dengan Harimau Benggala (Panthera tigris tigris).
Perbandingan Harimau Jawa Dan Harimau Benggala
Pola belang pada harimau Benggala biasanya dijadikan “standar” untuk menggambarkan sosok harimau, baik dalam film, iklan maupun karya seni lainnya. Hal ini wajar mengingat Harimau Benggala dapat ditemukan hampir di setiap kebun binatang di seluruh dunia. Sebagian besar Harimau putih yang menjadi maskot kebun binatang juga merupakan bagian dari subspesies Harimau Benggala. 
Dari Gambar 5 terlihat jelas perbedaan pola belang dan postur tubuh Harimau Benggala dengan Harimau Jawa. Harimau Benggala memiliki postur yang lebih besar. Warna bulu tubuh sangat cerah dengan warna belang hitam yang kontras. Jumlah belang Harimau Benggala jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harimau Jawa. Bentuk belang pun lebih lebar dengan jarak yang lebih renggang.
Gambar 5. Perbandingan pola belang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan harimau Benggala (Panthera tigris tigris).
Perbandingan HarimauSumatra dan Harimau Benggala
   Meskipun berukuran jauh lebih kecil, raut muka Harimau Sumatera cenderung lebih mengintimidasi jika dibandingkan dengan Harimau Benggala. Dengan surai jenggotnya yang lebat, Harimau Sumatera tampak lebih garang dan sangar. Dari Gambar 5 di atas,  terlihat jelas jika Harimau Sumatera memiliki belang yang lebih banyak dan lebih rapat. Sedangkan belang pada Harimau Benggala jumlahnya lebih  sedikit namun lebih lebarGambar 6. Perbandingan pola belang Harimau Bali (Panthera tigris balica) dengan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). 
  
Perbandingan Harimau Bali dan Harimau Jawa
Berdasarkan ukuran panjang dan berat tubuhnya, Harimau Bali dinyatakan sebagai subspesies harimau terkecil di dunia (Tabel 1). Hal ini kemungkinan merupakan adaptasi terhadap habitat yang  sempit dengan mangsa yang berukuran kecil pula. Pola belang harimau Bali juga unik karena memiliki jumlah loreng yang lebih sedikit dibandingkan dengan Harimau Jawa dan Sumatera. Jarak antar belang pun juga lebih renggang. Bahkan di antara belang terdapat “motif’ tambahan berupa bintik-bintik hitam yang tidak ditemukan pada subspesies harimau lainnya. Dari sampel kulit awetan yang masih tersisa juga diketahui bahwa Harimau Bali memiliki warna kulit/bulu yang lebih gelap dibandingkan dengan harimau lainnya.

Benarkah Harimau Jawa telah Punah ?

Hingga pertengahan abad ke 19 (tahun 1850), Harimau Jawa masih banyak ditemukan di seluruh pelosok Pulau Jawa. Bagi penduduk lokal yang tinggal di daerah pinggiran pedesaan dan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, Harimau Jawa dianggap sebagai hama karena seringkali mencuri dan memangsa hewan ternak  seperti kambing dan domba.
Dua Ekor Harimau Jawa di Sebuah KB Batavia
   Pembukaan lahan pertanian yang lebih luas akibat pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan ruang hidup bagi harimau jawa semakin menyempit. Akibatnya timbul konflik antara penduduk lokal dengan harimau. Kasus penduduk yang tewas diterkam harimau pun semakin sering terdengar.  Sejak saat itu nasib harimau Jawa kian tak pasti dan hingga kini masih menjadi misteri. Sebagian ahli satwa liar meyakini Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur  sebagai habitat terakhir bagi Harimau Jawa. Setidaknya hingga tahun 1980-an, 3 ekor harimau Jawa diperkirakan masih hidup di daerah tersebut. 
   Di awal tahun 1990-an, TN Meru Betiri yang didukung oleh WWF Indonesia berinisiatif memasang kamera jebak (camera trap) untuk memastikan adanya individu harimau Jawa yang masih tersisa. Kamera Jebak pun di pasang di 19 titik yang diduga menjadi daerah perlintasan harimau Jawa. Pemantauan dilakukan selama setahun penuh dari bulan Maret 1993 hingga Maret 1994. Selain dengan kamera, survei juga dilakukan terhadap jejak dan kotoran (faeces) yang ditinggalkan Harimau Jawa. 
   Hasil pemantauan selama setahun tersebut sungguh menyedihkan. Tak satu pun foto dan jejak harimau Jawa yang berhasil ditemukan. Bahkan, berdasarkan hasil survei tersebut, IUCN (1996) secara resmi menyatakan bahwa Harimau Jawa telah punah dari muka bumi untuk selamanya. Walaupun IUCN telah menetapkan status kepunahan harimau Jawa, sebagian masyarakat melaporkan masih melihat keberadaan kucing besar tersebut di kawasan hutan Meru Betiri. Hal ini juga didukung oleh mahasiswa dan pencinta alam yang menemukan jejak dan kotoran harimau Jawa selama melakukan penjelajahan di  daerah tersebut.
   Atas laporan tersebut, pihak Taman Nasional Meru Betiri pun berinisiatif melakukan survei kembali. Dengan dukungan kamera infra merah dari The Tiger Foundation Kanada, 12 jagawana yang telah dilatih sebelumnya kemudian memasang kamera jebak dan membuat peta observasi. Hasil survei selama setahun tersebut, memperkuat fakta punahnya harimau jawa karena tidak satu foto pun yang berhasil ditemukan. Bahkan, foto satwa yang menjadi makanan harimau pun termasuk jarang. Kekecewaan semakin bertambah lengkap dengan banyaknya foto pemburu yang terjebak kamera Infra merah…!
   No picture, no evidence. Tidak adanya foto terbaru seolah menasbihkan kepunahan harimau Jawa. Namun hal ini dibantah oleh Didik Raharyono, seorang peneliti Harimau Jawa yang berdomisili di Cirebon. Sampel faeces, foto jejak dan bekas cakaran di batang pohon menjadi bukti bahwa harimau Jawa benar-benar masih ada. Penelitiannya selama beberapa tahun yang dikombinasikan dengan informasi dari rekan-rekan pencinta alam menunjukkan bahwa harimau Jawa masih eksis. Populasi harimau Jawa tersebut, umumnya tersebar di daerah hutan terpencil atau daerah pegunungan besar di pulau Jawa.
Taman Nasional Meru Betiri, Rumah Terakhir Harimau Jawa
   Jejak-jejak kaki misterius di dekat kandang ternak yang ditemukan oleh penduduk pasca meletusnya gunung Merapi seolah membuktikan bahwa raja Rimba tersebut memang benar-benar masih ada. Survei yang lebih detail pun perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan keberadaan harimau Jawa.  Informasi dari penduduk yang masih sering melihat harimau di hutan sekitar tempat tinggalnya pun juga tak bisa dipandang sebelah mata. Pemburu harimau Jawa juga harus diajak bekerja sama karena merekalah yang paling mengenal seluk beluk Harimau yang menjadi buruannya. Jika kita semua peduli, kemungkinan punahnya Harimau Jawa masih dapat dicegah sebelum terlambat. Berapa lama lagikah misteri keberadaan Harimau Jawa ini akan terpecahkan ?. Hanya waktu yang bisa menjawabnya...
Sumber Referensi : Dody94Wordpress.Com