"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"

Monday, March 7, 2011

HARIMAU JAWA HANYA TINGGAL KENANGAN

   Harimau Jawa masih ada? Harimau Jawa atau Javan Tiger dengan nama latin Panthera Tigris Sondaica atau disebut juga Panthera Tigris Javanica. Disebut Panthera Tigris Sondaica karena populasi terbanyak adalah di wilayah Jawa Barat atau di wilayah Sunda. Harimau loreng yang keberadaannya masih misterius ini telah beberapa kali dinyatakan punah. Pertama pada tahun 1972 dinyatakan punah, kemudian tahun 1980 dinyatakan punah yang kedua kalinya, penyebab kepunahan diperkirakan akibat perburuan dan hilangnya habitat.
Harimau Jawa Di Kebun Binatang London Zoo, Inggris
  Situs resmi departemen kehutanan RI tidak mencatat tentang spesifikasi untuk ukuran harimau Jawa. Beberapa laporan lain  mencatat data yang berbeda-beda untuk ukuran tubuh harimau Jawa, ada yang mengatakan bahwa harimau Jawa memiliki ukuran tubuh lebih besar dari harimau Sumatera dan Bali. Namun ada juga yang mencatat bahwa ukuran harimau Jawa adalah yang terkecil di antara subspesies harimau lainnya yang ada di Asia. Semua laporan tentang spesifikasi ukuran untuk harimau Jawa masih dipertanyakan. Menurut sebuah teori hukum tentang harimau, bahwa semakin menjauhi garis kathulistiwa maka ukuran harimau semakin besar. Namun teori ini juga masih dipertanyakan.
  Pada mulanya di akhir abad ke 19 harimau Jawa masih banyak berkeliaran di hutan-hutan di seluruh pulau Jawa, dimana pada waktu itu harimau loreng ini dapat dengan mudah menemukan mangsanya karena habitat mereka belum terusik oleh manusia. Namun menjelang tahun 1940 harimau jawa hanya ditemukan di hutan-hutan terpencil saja, diperkirakan mereka terusir karena habitatnya banyak yang dijadikan sebagai lahan pertanian.
Harimau Jawa Yang ditangkap di Malang, Jawa Timur
   Selanjutnya diadakan upaya untuk menyelamatkan mereka dengan membuka taman nasional, namun tempat tersebut hanya mampu menyediakan sedikit mangsa hingga akhirnya populasi harimau Jawa semakin menyusut. Akhirnya pada tahun 1950 jumlah harimau Jawa yang masih tersisa diperkirakan hanya ada sekitar 25 ekor hewan saja.
  Kemudian pada tahun 1972 ada sinyalemen bahwa harimau Jawa muncul lagi. Ketika berlangsungnya pembangunan waduk Ir. Sutami di Karangkates, beberapa pekerja mengaku telah menjumpai beberapa ekor harimau Jawa di area pengambilan batu di hutan lereng gunung kendeng di Malang selatan. Terkadang beberapa pengemudi kendaraan pengangkut material proyek waduk melihat sekeluarga harimau loreng menyeberangi jalan raya pada malam hari. Belum lagi pengakuan-pengakuan warga di daerah-daerah lain di jawa yang menemukan bahwa harimau Jawa masih hidup. Akan tetapi pengakuan-pengakuan semacam ini tidak bisa diverifikasi.
Harimau Jawa Yang Dibunuh Di Banyuwangi, Jawa Timur
  Namun, pada tahun 1980 buku mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di sekolah dasar menerangkan bahwa harimau Jawa yang tersisa di pulau Jawa masih ada sekitar 2 ekor. Ini berarti tidak ada pihak yang berani menyatakan bahwa harimau Jawa sudah punah, dan kemungkinan harimau Jawa masih ada walau tinggal sedikit.
   Sebuah temuan baru menemukan adanya jejak, guratan pohon, kotoran yang diyakini milik harimau Jawa. Dalam penelitian secara mikroskopis, struktur morfologi rambut harimau Jawa dapat dibedakan dengan rambut macan tutul. Oleh karena itu pada tahun 1998 diadakan seminar nasional harimau Jawa yang dilaksanakan di UC UGM dan menyepakati akan dilakukan “Peninjauan Kembali” untuk melakukan pembuktian eksisitensi atas keberadaan harimau loreng penyandang status punah ini, karena kemungkinan kecil satwa ini belum punah.
Pertunjukan Rampogan di Blitar, Mempercepat punahnya Harimau Jawa
   Situs resmi departemen kehutanan Taman Nasional Meru Betiri menerangkan bahwa habitat terakhir harimau Jawa berada di taman nasional Meru Betiri  yang terletak di perbatasan kabupaten Jember dan Banyuwangi. Mereka tidak pernah menyatakan secara resmi bahwa harimau Jawa sudah punah, namum mereka hanya memperkirakan bahwa kemungkinan harimau loreng ini sekarang sudah punah. Bahkan situs resmi Balai Taman Nasional Meru Betiri menerangkan berdasarkan penuturan warga bahwa perjumpaan warga lokal permanen hasil hutan dengan harimau jawa masih sering terjadi hingga era 2010.
  Pada sekitar tahun 1850, Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) masih banyak ditemukan di seluruh pelosok Pulau Jawa. Bagi penduduk lokal yang tinggal di daerah pinggiran pedesaan dan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, Harimau Jawa dianggap sebagai hama karena seringkali mencuri dan memangsa hewan ternak  seperti kambing dan domba. 
Harimau Jawa Yang mati Dibunuh di Jawa Tengah
  Pembukaan lahan pertanian akibat pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan ruang hidup Harimau Jawa semakin terdesak. Akibatnya timbul konflik antara penduduk lokal dengan Harimau. Sejak saat itu nasib Harimau Jawa kian tak pasti dan hingga kini masih menjadi misteri.
  Sebagian ahli satwa liar meyakini Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur sebagai habitat terakhir bagi Harimau Jawa. Setidaknya hingga tahun 1980-an, 3 ekor Harimau Jawa diperkirakan masih hidup di sana.
   Pada awal 1990-an, TN Meru Betiri yang didukung oleh WWF Indonesia berinisiatif memasang kamera jebak (camera trap) untuk memastikan Harimau Jawa yang masih tersisa. Kamera Jebak pun di pasang di 19 titik yang diduga menjadi daerah perlintasan harimau Jawa. 
Nasib Tragis Harimau Jawa di Gunung Kidul, Yogyakarta
  Pemantauan dilakukan selama setahun penuh dari Maret 1993 hingga Maret 1994. Survei juga dilakukan terhadap jejak dan kotoran (faeces) yang ditinggalkan Harimau Jawa. Hasil pemantauan selama setahun tersebut, tak satu pun foto dan jejak Harimau Jawa berhasil ditemukan. Bahkan, berdasarkan hasil survei tersebut, IUCN (1996) secara resmi menyatakan bahwa Harimau Jawa telah punah dari muka bumi untuk selamanya.  
  Namun ada pengakuan dari penduduk desa dekat hutan, para pendaki gunung, pecinta Alam maupun kesaksian peneliti dan pegiat alam bebas yang masih menyaksikan penampakan Harimau Jawa. Kesaksian itu antara lain :
  1.  Sejumlah peneliti yang melakukan penelusuran dan perburuan ke kawasan hutan di Jember, Jawa Timur, terakhir berhasil menemukan Harimau Jawa masih dalam keadaan hidup pada 1976. 
    Harimau Jawa Di G.Ciremai
  2. Beberapa pendaki gunung di tahun 90an hingga awal 2000, bercerita pernah berjumpa atau didatangi harimau jawa ketika sedang beristirahat, berkemah atau sedang membuat api unggun.
  3. Seorang pendaki di gunung Semeru, ketika sedang tidur merebahkan diri di atas rumput ternyata ada seekor harimau yang juga tertidur di sampingnya.
  4. Di gunung Ciremai pendaki yang bermalam ketika membuka tenda dikagetkan oleh seekor harimau yang berdiri di depan tenda.
  5. Di gunung Lawu awal tahun 2000an beberapa pendaki mendengarkan auman harimau yang bergema sangat keras.
  6. Di gunung Arjuna-Welirang ketika sedang membuka jalur, beberapa penambang belerang yang sedang beristirahat didatangi seekor harimau yang mematikan api unggun mereka dengan ekornya.
  7. Penelitian oleh sekelompok Pecinta Alam pada tahun 2005 di gunung ungaran juga mendapatkan bukti berupa gua sarang harimau di lereng terjal yang penuh dengan goresan cakar harimau pada batu di dasar pintu masuk gua.
  8. Pada musim kemarau yang panjang di daerah Gunung Kidul, satwa yang satu ini dipercaya sering "turun gunung" dalam arti yang sebenarnya di malam hari untuk mencari air. Banyak penduduk Gunungkidul yang mengaku bertemu dengan harimau loreng.  

Sumber Referensi : Juragan Cipir.Com

Wednesday, March 2, 2011

PROFIL PROVINSI SUMATERA SELATAN


7. PROVINSI SUMATERA SELATAN

(UU NO.3 TAHUN 1950)
Berdiri
: 14 Agustus 1960
Ibukota
: Palembang
Luas Wilayah
: 60.302,54  Km2 (5,40% luas Indonesia)
Letak Astronomis
: 1o30' LS - 4o LS dan 102oBT - 103o BT
Terdiri dari
: 10 Kabupaten, 4 Kota, 149 Kecamatan dan 2.428 Desa
Jumlah Penduduk
: 6.798.189 jiwa
Identitas daerah
: Flora : Pohon Duku  
: Fauna : Ikan Belida
Komoditas Utama
: Kayu, Kopi, Lada, Kelapa
Bahan Galian
: Minyak Bumi, Timah, Batubara, Marmer
Industri
: Pupuk, Semen, Kayu Lapis
Pembagian Wilayah Kabupaten dan Kota
No
Nama Kabupaten/Kota
Ibukota
Luas Wilayah
Jumlah Penduduk
Jumlah
Jumlah
(Km2)
Sensus 2005
Kecamatan
Desa
1
Ogan Komering Ulu
Batu Raja
390,53
262.097
9
133
2
Ogan Komering Ilir
Kayu Agung
1.903,55
656.828
12
269
3
Muara Enim
Muara Enim
1.004,72
641.204
19
262
4
Lahat
Lahat
6.528,70
570.557
19
512
5
Musi Rawas
Lubuk Linggau
21.456,58
477.598
17
231
6
Musi Banyuasin
Sekayu
14.265,96
474.212
9
188
7
Banyu Asin
Pangkalan Balai
11.833,30
681.088
11
239
8
Ogan Komering Timur
Martapura
334,04
562.189
10
189
9
Ogan Komering Selatan
Muara Dua
545,40
329.055
10
175
10
Ogan Ilir
Indralaya
266,61
356.983
6
152
11
Kota Palembang
Palembang
369,22
1.357.866
14
 -
12
Kota Pagar Alam
Pagar Alam
633,66
117.268
5
78
13
Kota Lubuk Linggau
Lubuk Linggau
690,95
176.032
4
 -
14
Kota Prabumulih
Prabumulih
79,32
135.212
4
 -
Ragam Budaya
Bahasa Daerah
: Palembang
Lagu Daerah
: Kembanglah Bungo, Dek Sangka
Alat Musik
: Accordion
Tarian
: Tari Tanggal, Gending Sriwijaya, Kipas
Makanan Khas
: Mpek-Mpek
Senjata Tradisonal
: Keris, Trisula, Siwar
Suku
: Komering, Ogan, Pasemah, Palembang
Rumah adat
: Rumah Limas, Rumah Rakit
Lapangan Udara
: Sultan Badaruddin II, Palembang
Pelabuhan Laut
: Palembang
Universitas
: Universitas Sriwijaya, Palembang
Cerita Rakyat
: Sipahit Lidah
Agama
: 96% Islam, sisanya Kristen, Hindu dan Budha
Pahlawan
: Sultan Mahmud Badaruddin II
Taman  Nasional 
: TN Bukit Barisan Selatan, CA Alangantang
Fauna dilindungi
: Harimau Sumatera, Beruang Madu, gajah sumatra
Gunung Tertinggi
: Gunung Dempo (3.159 m)
Sungai Terpanjang
: Sungai Musi
Danau Terluas
: Danau Jembawan
Pulau Terbesar
:  Pulau Alangantang
Kabupaten Terlua
:  Musi Rawas

Thursday, February 24, 2011

SERANGGA : SPESIES HEWAN TERBANYAK DI MUKA BUMI

    Serangga merupakan golongan hewan yang paling sering dijumpai oleh manusia. Anggota filum Arthropoda dari kelas Insecta ini mempunyai sekitar 750.000 spesies di alam. Serangga mempunyai banyak keistimewaan dibandingkan dengan hewan lain, diantaranya tubuh serangga relatif kecil namun memiliki kemampuan terbang, daya adaptasi yang besar terhadap lingkungan, dan siklus hidup yang pendek.
 Kupu-Kupu, Serangga yang paling indah
    Tubuh serangga umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala (caput) dada (toraks) dan perut (abdomen). Kepala serangga dilengkapi dengan antena, mata majemuk dan mulut. Antena memiliki indra pembau berupa kemoreseptor. Mata majemuk tersusun dari ommatidia dan mata tunggal yang disebut ocellus. Adapun bagian mulut dilengkapi dengan indra pengecap. Bagian dada mempunyai tiga pasang kaki yang beruas-ruas. Selain itu, dada serangga dilengkapi dengan sepasang atau dua pasang sayap, atau bahkan tidak mempunyai sayap. Perut serangga terbagi atas 10-11 segmen. Bagian ini merupakan tempat bagi organ pencernaan, reproduksi, respirasi, sekresi dan jantung.

 Capung, Serangga yang Metamorfosisnya tiadak sempurna
 Ganglion
    Selain mulut, sistem pencernaan serangga juga didukung oleh kelenjar ludah. Jantung hewan ini memiliki aorta, tetapi tidak memiliki kapiler dan vena. Respirasi serangga berlangsung dengan sistem trakea yang terdiri dari saluran-saluran halus. Alat ekskresi hewan ini tersusun dalam badan Malpighi. Adapun sistem sarafnya terdiri atas gunglion atau serabut-serabut saraf.

Metamorfosis Serangga
    Dalam proses pertumbuhannya, serangga mengalami perubahan bentuk yang dikenal sebagai metamorfosis. Perubahan ini dibedakan menjadi metamorfosis sempurna dan metamorfosis tidak sempurna. Metamorfosis sempurna dialami oleh beberapa serangga seperti kupu-kupu, ngengat, kumbang, lebah dan lalat. Kelompok serangga tersebut melewati empat tahap perubahan bentuk, yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Beberapa serangga seperti belalang, capung, dan jangkrik mengalami metamorfosis tidak sempurna. Setelah menetas, kelompok serangga ini akan muncul menjadi nimfa (serangga muda). Nimfa pada serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna memiliki struktur tubuh yang hampir sama dengan serangga dewasa.

Metamorfosis pada serangga
Telur Serangga
    Organ reproduksi serangga terpisah antara jantan dan betina. Proses pembuahan berlangsung di dalam tubuh betina. Pada umumnya, serangga berkembang biak dengan cara bertelur. Telur serangga dilindungi oleh cangkang yang keras. Serangga umumnya bertelur dalam jumlah yang banyak, misalnya lalat betina yang menghasilkan lebih dari 1.000 telur dalam satu periode. Sebelum bereproduksi,serangga mencari pasangannya untuk kawin. Mereka umumnya berusaha untuk menarik perhatian pasangannya dengan berbagai cara. Jantan pada lalat sehari (Ephemeroptera) menarik perhatian betina dengan cara menari secara berkelompok. Adapun nyamuk betina mengeluarkan suara sambil terbang untuk memikat nyamuk jantan.

Kamuflase
    Dalam hidupnya, serangga perlu berkomunikasi dengan sesamanya terutama untuk mencari makan, mencari pasangan, dan mempertahankan diri. Komunikasi tersebut dilakukan melalui beberapa cara, antara lain pengeluaran senyawa kimia (misalnya feromon), stridulasi (pengeluaran suara), dan gerakan tubuh. Sebagai contoh, lebah madu yang melakukan tarian khusus untuk menunjukkan keberadaan dari sumber makanan.

Belalang Daun melakukan kamuflase
    Serangga umumnya melarikan diri pada saat terancam bahaya. Akan tetapi beberapa serangga memiliki kemampuan khusus untuk mempertahankan dirinya. Kecoa dan kutu busuk dapat mengeluarkan senyawa kimia yang berbau busuk untuk mengusir musuhnya. Lebah memiliki sengat yang dapat melukai atau mematikan predator (pemangsa). Bentuk pertahanan lain yang dijumpai pada serangga adalah kamuflase yaitu kemampuan untuk mengelabui predatornya dengan cara berbaur dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, belalang daun (Phasmidae) sering menyamar sebagai daun karena tubuhnya mirip dengan daun, sedangkan belalang sembah (Mantidae) sering menyamar sebagai ranting pohon karena tubuhnya mirip dengan ranting.

Kumbang Kepik adalah predator alami hama tanaman
Serangga Lak
    Serangga dapat merugikan atau menguntungkan bagi manusia. Meskipun jenis serangga yang merugikan berjumlah sedikit, namun dampak yang ditimbulkan cukup besar. Serangga seperti, nyamuk, lalat, kutu busuk sering menjadi vektor atau perantara penyakit. Jenis serangga seperti belalang dan kumbang penggerek kapas menjadi hama yang mersak tanaman pertanian.
    Serangga yang menguntungkan bagi manusia umumnya berperan dalam proses polinasi atau penyerbukan tanaman. Beberapa serangga seperti lebah madu dan ulat sutera menghasilkan produk yang bernilai ekonomis tinggi. Serangga Lak (Laccifer lacca) dapat menghasilkan lak (shellac), yaitu senyawa resin atau damar yang dimanfaatkan dalam industri kimia sebagai bahan pembuat mika dan asbes. Selain itu, serangga juga dimanfaatkan sebagai predator alami yang memangsa hama tanaman, misalnya kumbang kepik (ladybird beetles) dari suku Coccinellidae digunakan untuk memangsa serangga sisik Icerya purchasi.

Koloni Rayap tanah
Rayap
    Rayap adalah kelompok serangga sosial dari ordo Isoptera. Meskipun sering menimbulkan kerugian karena merusak benda-benda dari kayu, rayap juga bermanfaat sebagai organisme pengurai. Koloni rayap terdiri dari rayap jantan dan betina, rayap tentara serta rayap pekerja. Berbeda dari rayap jantan dan betina yang bersifat fertil, rayap tentara dan pekerja tidak dapat berkembang biak karena bersifat steril. Selain untuk menarik pasangannya, hormon feromon yang disekresikan rayap juga digunakan untuk berkomunikasi dengan cara meninggalkan jejak.

Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar dan Pustaka alam Life Serangga