"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"

Thursday, February 16, 2017

LAPISAN-LAPISAN ATMOSFER BUMI

Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.

"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, 2:29)

"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." (Al Qur'an, 41:11-12)

Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.

Strata susunan lapisan atmosfer bumi

Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:

Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)

Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.

1. Troposfer

2. Stratosfer

3. Ozonosfer

4. Mesosfer

5. Termosfer

6. Ionosfer

7. Eksosfer
Lapisan Atmosfer

Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.

Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:

Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir. 
(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html)

Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur'an.

JENIS-JENIS GAJAH DI DUNIA YANG MASIH HIDUP

    Gajah adalah mamalia besar dari familia Elephantidae dan ordo Proboscidea. Secara tradisional, terdapat dua spesies yang diakui, yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus), walaupun beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah semak afrika dan gajah hutan afrika merupakan spesies yang berbeda (L. africana dan L. cyclotis). Gajah tersebar di seluruh Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Elephantidae adalah satu-satunya familia dari ordo Proboscidea yang masih lain; familia lain yang kini sudah punah termasuk mammoth dan mastodon. Gajah afrika jantan merupakan hewan darat terbesar dengan tinggi yang dapat mencapai 4 m (13 ft) dan massa yang kurang lebih 7.000 kg (15.000 lb). Gajah memiliki ciri-ciri khusus, dengan yang paling mencolok adalah belalai atau proboscis yang digunakan untuk banyak hal, terutama untuk bernapas, menghisap air, dan mengambil benda. Gigi serinya tumbuh menjadi taring yang dapat digunakan sebagai senjata dan alat untuk memindahkan benda atau menggali. Daun telinganya yang besar membantu mengatur suhu tubuh mereka. Gajah afrika memiliki telinga yang lebih besar dan punggung yang cekung, sementara telinga gajah asia lebih kecil dan punggungnya cembung.
   Gajah merupakan hewan herbivora yang dapat ditemui di berbagai habitat, seperti sabana, hutan, gurun, dan rawa-rawa. Mereka cenderung berada di dekat air. Gajah dianggap sebagai spesies kunci karena dampaknya terhadap lingkungan. Hewan-hewan lain cenderung menjaga jarak dari gajah, dan predator-predator seperti singa, harimau. hyena, dan anjing liar biasanya hanya menyerang gajah muda. Gajah betina cenderung hidup dalam kelompok keluarga, yang terdiri dari satu betina dengan anak-anaknya atau beberapa betina yang berhubungan dengan anak-anak mereka. Kelompok ini dipimpin oleh individu gajah yang disebut matriark, yang biasanya merupakan betina tertua. Gajah memiliki struktur kelompok fisi-fusi, yaitu ketika kelompok-kelompok keluarga bertemu untuk bersosialisasi. Gajah jantan meninggalkan kelompok keluarganya ketika telah mencapai masa pubertas, dan akan tinggal sendiri atau bersama jantan lainnya. Jantan dewasa biasanya berinteraksi dengan kelompok keluarga ketika sedang mencari pasangan dan memasuki tahap peningkatan testosteron dan agresi yang disebut musth, yang membantu mereka mencapai dominasi dan keberhasilan reproduktif. Anak gajah merupakan pusat perhatian kelompok keluarga dan bergantung pada induknya selama kurang lebih tiga tahun. Gajah dapat hidup selama 70 tahun di alam bebas. Mereka berkomunikasi melalui sentuhan, penglihatan, penciuman, dan suara; gajah menggunakan infrasuara dan komunikasi seismik untuk jarak jauh. Kecerdasan gajah telah dibandingkan dengan kecerdasan primata dan cetacea. Mereka tampaknya memiliki kesadaran diri dan menunjukkan empati kepada gajah lain yang hampir atau sudah mati.
    Gajah afrika digolongkan sebagai spesies yang rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), sementara gajah asia diklasifikasikan sebagai spesies terancam. Salah satu ancaman utama bagi gajah adalah perdagangan gading yang memicu perburuan liar. Ancaman lain adalah kehancuran habitat dan konflik dengan penduduk lokal. Gajah digunakan sebagai hewan pekerja di Asia. Dulu mereka pernah digunakan untuk perang; kini, gajah seringkali dipertontonkan di kebun binatang dan sirkus. Gajah dapat dengan mudah dikenali dan telah digambarkan dalam seni, cerita rakyat, agama, sastra, dan budaya populer.Gajah tergolong dalam familia Elephantidae, satu-satunya familia dalam ordo Proboscidea yang masih ada. Kerabat terdekat yang masih ada meliputi sirenia (dugong dan lembu laut) dan hyrax; mereka berada dalam klad yang sama, yaitu klad Paenungulata dalam superordo Afrotheria. Gajah dan sirenia juga dikelompokan dalam klad Tethytheria. Secara tradisional, terdapat dua spesies gajah yang diakui, yaitu gajah afrika (Loxodonta africana) dan gajah asia (Elephas maximus). Gajah afrika memiliki telinga yang besar, punggung yang cekung, kulit yang lebih berkerut, daerah perut yang miring, dan dua perpanjangan yang seperti jari di ujung belalai. Telinga gajah asia lebih kecil, punggungnya cembung, kulitnya lebih halus, daerah perutnya horizontal dan kadang-kadang melengkung di tengah, dan ujung belalainya hanya memiliki satu perpanjangan. Bubungan di gigi geraham gajah asia lebih sempit bila dibandingkan dengan geraham gajah afrika yang berbentuk seperti permata. 
    Gajah asia juga memiliki benjolan di bagian dorsal kepalanya dan tanda depigmentasi di kulitnya. Secara umum, gajah afrika lebih besar dari gajah asia. Zoolog Swedia Carl Linnaeus pertama kali mendeskripsikan genus Elephas dan seekor gajah dari Sri Lanka dengan nama binomial Elephas maximus pada tahun 1758. Kemudian, pada tahun 1798, Georges Cuvier mengklasifikasikan gajah india dengan nama binomial Elephas indicus. Zoolog Belanda Coenraad Jacob Temminck mendeskripsikan gajah sumatra pada tahun 1847 dengan nama binomial Elephas sumatranus, sementara zoolog Inggris Frederick Nutter Chasen mengklasifikasikan ketiganya sebagai subspesies gajah asia pada tahun 1940. Subspesies gajah asia memiliki perbedaan warna dan kadar depigmentasi. Gajah sri lanka (Elephas maximus maximus) menghuni Sri Lanka, gajah india (E. m. indicus) berasal dari daratan asia (di anak benua India dan Indochina), dan gajah sumatra (E. m. sumatranus) dapat ditemui di pulau Sumatra. Salah satu subspesies yang diperdebatkan, yaitu gajah borneo, tinggal di Borneo utara dan lebih kecil dari subspesies lain. Gajah ini juga memiliki telinga yang lebih besar, ekor yang lebih panjang, dan taring yang lebih lurus dari gajah biasa. Zoolog Sri Lanka Paules Edward Pieris Deraniyagala pada tahun 1950 mendeskripsikannya dengan nama trinomial Elephas maximus borneensis, dengan menjadikan ilustrasi di National Geographic sebagai spesimen tipenya. Gajah ini kemudian digolongkan sebagai E. m. indicus atau E. m. sumatranus. Analisis genetik pada tahun 2003 menunjukkan bahwa nenek moyang gajah borneo terpisah dari populasi di daratan Asia sekitar 300.000 tahun yang lalu. Namun, penelitian pada tahun 2008 mengindikasikan bahwa gajah borneo tidak berasal dari pulau tersebut, namun dibawa oleh Sultan Sulu dari Jawa sebelum tahun 1521.
    Gajah afrika pertama kali dinamai oleh naturalis Jerman Johann Friedrich Blumenbach pada tahun 1797 dengan nama binomial Elephas africana. Genus Loxodonta diyakini dinamai oleh Georges Cuvier pada tahun 1825. Cuvier mengejanya Loxodonte dan seorang penulis anonim meromanisasi ejaan tersebut menjadi Loxodonta; International Code of Zoological Nomenclature telah mengakui perubahan ini. Pada tahun 1942, 18 subspesies gajah afrika telah diakui oleh Henry Fairfield Osborn, namun data morfologis telah mengurangi jumlah subspesies yang terklasifikasi, dan pada tahun 1990-an hanya terdapat dua subspesies yang diakui, yaitu gajah semak afrika (L. a. africana) dan gajah hutan afrika (L. a. cyclotis); telinga gajah hutan afrika lebih kecil dan bundar, belalaiNya lebih kurus dan lurus, dan habitatnya terbatas pada wilayah berhutan di Afrika Barat dan Tengah. Jurnal yang diterbitkan pada tahun 2000 memberikan argumen agar kedua subspesies tersebut diangkat menjadi spesies L. africana dan L. cyclotis berdasarkan morfologi tengkorak.
    Penelitian DNA yang diterbitkan pada tahun 2001 dan 2007 juga menunjukkan bahwa mereka adalah spesies yang berbeda, sementara penelitian pada tahun 2002 dan 2005 menyimpulkan bahwa keduanya adalah spesies yang sama. Akan tetapi, hasil penelitian yang diterbitkan pada tahun 2010 mendukung pengubahan status menjadi spesies. Hingga tahun 2011, penamaan gajah afrika dalam taksonomi masih diperdebatkan. Edisi ketiga Mammal Species of the World menggolongkan gajah semak afrika dan gajah hutan afrika sebagai spesies yang terpisah, dan tidak memasukkan subspesies untuk Loxodonta africana. Pendekatan ini tidak diikuti oleh World Conservation Monitoring Centre atau IUCN, yang menganggap L. cyclotis sebagai sinonim dari L. africana. Beberapa bukti menunjukkan bahwa gajah di Afrika Barat adalah spesies yang terpisah, walaupun hal ini masih diperdebatkan. Gajah kerdil di Cekungan Kongo yang diduga merupakan spesies terpisah (Loxodonta pumilio) kemungkinan merupakan gajah hutan yang memiliki ukuran kecil dan/atau kematangan awal karena keadaan lingkungan.

1. Gajah India (Elephas maximus Indicus)
Gajah india adalah salah satu subspesies gajah asia. Gajah ini dapat ditemui di India, Nepal, Bangladesh, Bhutan, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, Laos, Tiongkok, Kamboja dan Vietnam. Bukti arkeologi menunjukkan bahawa gajah India telah dijinakkan di lembah sungai Indus sekitar 4.000 tahun dahulu. Menjinakkan tidak serupa dengan domestikasi. Gajah sulit didomestikasi akibat perangai bengisnya, makanannya yang mahal dan pertumbuhan yang terlalu lama (15 tahun untuk menjadi dewasa). Gajah india dijinakkan untuk pertanian. Pengunaan gajah perang dalam militer bermula sekitar 1100 SM dan disebut dalam beberapa kitab suci berbahasa Sansekerta.
Semenjak tahun 1986, Elephas maximus tergolong sebagai spesies yang terancam punah dan populasinya telah berkurang sebanyak 50% dalam tiga generasi. Gajah asia terancam oleh kehancuran, degradasi dan fragmentasi habitat.

2. Gajah Srilangka(Elephas maximus maximus)
Gajah sri lanka (Elephas maximus maximus) adalah salah satu dari tiga subspesies gajah asia. Subspesies ini hidup di pulau Sri Lanka. Semenjak tahun 1986, Elephas maximus telah diklasifikasikan sebagai spesies yang terancam punah oleh IUCN karena populasinya mengalami penurunan sebesar 50% dalam tiga generasi (diperkirakan 60-75 tahun). Gajah ini terutama terancam oleh kehancuan dan fragmentasi habitat.Elephas maximus maximus adalah subspesies tipe gajah asia yang pertama kali dideskripsikan oleh Carl Linnaeus dengan nama binominal Elephas maximus pada tahun 1758.Populasi gajah sri lanka saat ini terbatas di wilayah kering di utara, timur, dan tenggara Sri Lanka. Gajah ini dapat ditemui di Taman Nasional Udawalawe, Taman Nasional Yala, Taman Nasional Lunugamvehera, Taman Nasional Wilpattu dan Taman Nasional Minneriya, tetapi mereka juga tinggal di luar wilayah yang dilindungi. Diperkirakan populasi gajah sri lanka merupakan populasi gajah terpadat di Asia. Konflik antara manusia dengan gajah semakin memanas akibat konversi habitat gajah menjadi permukiman dan lahan pertanian.

3. Gajah Sumatera (Elaphas maximus sumatranus)
Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari gajah asia yang hanya berhabitat di pulau Sumatera. Gajah sumatera berpostur lebih kecil daripada subspesies gajah india. Populasinya semakin menurun dan menjadi spesies yang sangat terancam. Sekitar 2000 sampai 2700 ekor gajah sumatera yang tersisa di alam liar berdasarkan survei pada tahun 2000. Sebanyak 65% populasi gajah sumatera lenyap akibat dibunuh manusia, dan 30% kemungkinan dibunuh dengan cara diracuni oleh manusia. Sekitar 83% habitat gajah sumatera telah menjadi wilayah perkebunan akibat perambahan yang agresif.
Gajah sumatera adalah mamalia terbesar di Indonesia, beratnya mencapai 6 ton dan tumbuh setinggi 3,5 meter pada bahu. Periode kehamilan untuk bayi gajah sumatera adalah 22 bulan dengan umur rata-rata sampai 70 tahun. Herbivora raksasa ini sangat cerdas dan memiliki otak yang lebih besar dibandingkan dengan mamalia darat lain. Telinga yang cukup besar membantu gajah mendengar dengan baik dan membantu mengurangi panas tubuh. Belalainya digunakan untuk mendapatkan makanan dan air dengan cara memegang atau menggenggam bagian ujungnya yang digunakan seperti jari untuk meraup.

4. Gajah kalimantan (Elephas maximus borneensis) 
Gajah Kalimantan adalah subspesies dari gajah asia dan dapat ditemukan di Kalimantan Utara dan Sabah. Asal usul gajah kalimantan masih merupakan kontroversi. Terdapat hipotesis bahwa mereka dibawa ke pulau Kalimantan. Pada tahun 2003, penelitian DNA mitokondria menemukan bahwa leluhurnya terpisah dari populasi daratan selama pleistosen, ketika jembatan darat yang menghubungkan Kalimantan dengan kepulauan Sunda menghilang 18.000 tahun yang lalu.Spesies ini kini berstatus kritis akibat hilangnya sumber makanan, perusakan rute migrasi dan hilangnya habitat mereka. Dilaporkan pada tahun 2007 hanya terdapat sekitar 1.000 gajah.

5. Gajah Semak Afrika  (Loxodonta africana)
Gajah afrika adalah spesies hewan dari genus Loxodonta, 1 dari 2 genus yang masih hidup dalam Elephantidae. Meskipun umum dipercaya bahwa genus dinamai oleh Georges Cuvier pada tahun 1825, Cuvier mengejanya Loxodonte. Seorang penulis tak dikenal meromanisasikan ejaan itu menjadi Loxodonta dan diakui oleh ICZN. Fosil Loxodonta hanya ditemukan di Afrika, tempat mereka berkembang biak dari pertengahan Pliosen. Gajah afrika berukuran lebih besar dari gajah asia termasuk yang terbesar di dunia, dengan berat badan mencapai 6.000 kg
Gajah semak afrika atau gajah sabana afrika (Loxodonta africana) adalah yang terbesar dari dua spesies gajah afrika. Gajah ini dan gajah hutan afrika telah diklasifikasikan sebagai spesies tunggal, dikenal sebagai gajah afrika. Beberapa otoritas masih menganggap bukti-bukti yang kini tersedia tidak cukup untuk memecah gajah afrika menajdi dua spesies yang berbeda. Hewan ini juga dikenal sebagai gajah semak.

6. Gajah hutan afrika (Loxodonta cyclotis)
Gajah hutan afrika (Loxodonta cyclotis) adalah spesies gajah yang tinggal di hutan di Cekungan Kongo. Gajah ini merupakan spesies gajah terkecil, tetapi merupakan hewan darat terbesar ketiga. Gajah hutan afrika dan gajah semak afrika dianggap sebagai satu spesies hingga penelitian genetik menunjukkan bahwa perbedaan genetik mereka cukup besar.
Gajah hutan afrika memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan warna yang lebih gelap bila dibandingkan dengan gajah semak afrika, dan mereka juga memiliki telinga yang lebih kecil dan bundar.

Konservasi
 Gajah afrika didaftarkan sebagai spesies yang rentan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2008, sementara status dua subspesies gajah afrika tidak dinilai secara independen. Pada tahun 1979, terdapat kurang lebih 1,3 juta gajah di Afrika, dan batasan populasi sebesar 3,0 juta. Sementara itu, populasi pada tahun 1989 diperkirakan sebesar 609.000, dengan 277.000 di Afrika Tengah, 110.000 di Afrika Timur, 204.000 di Afrika Selatan, dan 19.000 di Afrika Barat. Diperkirakan sekitar 214.000 gajah hidup di hutan hujan, yang lebih rendah dari yang diduga sebelumnya. Dari tahun 1977 hingga 1989, populasi gajah berkurang sebanyak 74% di Afrika Timur. Setelah tahun 1987, penurunan populasi gajah semakin cepat, dan populasi gajah di sabana dari Kamerun hingga Somalia jatuh sebesar 80%. Gajah hutan afrika mengalami penurunan sebesar 43%. Di sisi lain, tren populasi di Afrika Selatan bermacam-macam: di beberapa tempat di Zambia, Mozambik, dan Angola, jumlah populasi mengalami penurunan, sementara di Botswana dan Zimbabwe, populasi gajah bertambah, dan di Afrika Selatan populasinya stabil. Namun, penelitian pada tahun 2005 dan 2007 menunjukkan bahwa populasi di Afrika Timur dan Selatan mengalami peningkatan sebesar 4,0% setiap tahunnya. Akibat luasnya persebaran gajah, populasi gajah afrika masih sulit diperkirakan dan terdapat unsur tebakan. IUCN memperkirakan terdapat sekitar 440.000 individu pada tahun 2012.
   Gajah afrika memperoleh perlindungan secara hukum di negara habitat mereka, tetapi 70% persebarannya berada di luar wilayah yang dilindung. Upaya konservasi yang berhasil di beberapa wilayah menghasilkan kepadatan populasi yang tinggi. Pada tahun 2008, jumlah lokal dikontrol melalui kontrasepsi atau translokasi. Pembantaian berdasarkan kriteria tertentu (culling) berakhir pada tahun 1988 setelah Zimbabwe menghentikan praktik tersebut. Pada tahun 1989, gajah afrika dimasukan dalam Apendiks I oleh Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), sehingga perdagangan gajah afrika menjadi ilegal. Status Apendiks II (yang memperbolehkan perdagangan terbatas) diberikan kepada gajah di Botswana, Namibia, dan Zimbabwe pada tahun 1997, dan Afrika Selatan pada tahun 2000. Di beberapa negara, perburuan gajah untuk memperoleh trofi diperbolehkan; Afrika Selatan, Botswana, Gabon, Kamerun, Mozambik, Namibia, Tanzania, Zambia, dan Zimbabwe menetapkan kuota ekspor CITES untuk trofi gajah.
   Pada tahun 2008, IUCN mendaftarkan gajah asia sebagai spesies terancam karena penurunan populasi sebesar 50% dalam 60–75 tahun terakhir, sementara CITES memasukannya ke dalam Apendiks I. Gajah asia pernah tersebar dari Suriah dan Irak (subspesies Elephas maximus asurus) hingga Tiongkok (hingga Sungai Kuning) dan Jawa. Gajah asia kini telah punah di wilayah-wilayah tersebut, dan persebarannya saat ini sangat terpecah. Jumlah populasi gajah asia diperkirakan sebesar 40.000–50.000, walaupun perkiraan ini merupakan perkiraan kasar. Meskipun jumlah gajah asia secara keseluruhan mengalami penurunan (terutama di Asia Tenggara), populasi di Ghat Barat tampaknya mengalami peningkatan.

Ancaman
   
Perburuan untuk mengambil gading, daging, dan kulit merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keberlangsungan gajah. Dalam sejarah, beberapa peradaban membuat ornamen dan karya seni lain dari gading gajah, dan penggunaannya menyaingi emas. Perdagangan gading menjadi salah satu penyebab penurunan populasi gajah afrika pada abad ke-20. Hal ini memicu larangan impor gading yang dimulai oleh Amerika Serikat pada Juni 1989, yang kemudian diikuti oleh negara-negara Amerika Utara, Eropa Barat, dan Jepang. Sementara itu, Kenya menghancurkan semua persediaan gadingnya. CITES memberlakukan larangan perdagangan gading pada Januari 1990. Setelah larangan tersebut ditetapkan, jumlah pengangguran meningkat di India dan Cina, karena secara ekonomi industri gading merupakan industri yang penting. Di sisi lain, Jepang dan Hong Kong, yang juga merupakan bagian dari industri, mampu beradaptasi dan tidak terkena dampak buruk. Zimbabwe, Botswana, Namibia, Zambia, dan Malawi ingin melanjutkan perdagangan gading dan hal tersebut diperbolehkan, tetapi hanya jika gajah tersebut mati secara alami atau merupakan hasil culling.
   Berkat larangan ini, populasi gajah di Afrika mulai pulih. Pada Januari 2012, ratusan gajah di Taman Nasional Bouba Njida, Kamerun, dibunuh oleh penyerang dari Chad. Peristiwa ini disebut-sebut sebagai "salah satu pembunuhan terkonsentrasi terburuk" semenjak diberlakukannya larangan perdagangan gading. Sementara itu, gajah asia tidak terlalu rentan terhadap perdagangan gading karena gajah betina umumnya tidak memiliki taring. Namun, sejumlah gajah telah dibunuh untuk diambil gadingnya di beberapa wilayah, seperti di Taman Nasional Periyar di India. 
   Ancaman lain terhadap gajah adalah kehancuran dan fragmentasi habitat. Gajah asia hidup di wilayah yang sangat padat. Karena mereka membutuhkan lebih banyak wilayah dibanding hewan darat simpatrik lainnya, merekalah yang pertama kali merasakan dampak keberadaan manusia. Bahkan dalam beberapa kasus yang ekstrem, habitat gajah terbatas pada hutan kecil yang dikelilingi oleh wilayah yang didominasi oleh manusia. Gajah tidak dapat hidup berdampingan dengan manusia di wilayah pertanian karena besar tubuh dan kebutuhan makanan mereka. Pada umumnya gajah merusak dan memakan tanaman petani, sehingga memicu konflik dengan manusia, dan akibatnya ratusan gajah dan manusia telah mati. Mitigasi konflik merupakan salah satu unsur penting dalam konservasi. Salah satu usulan yang diajukan adalah penyediaan ‘koridor urban’ yang memungkinkan gajah mengakses wilayah penting.

Serangan
  Gajah dapat menunjukkan perilaku agresif dan melancarkan tindakan yang destruktif terhadap manusia. Di Afrika, kelompok gajah remaja menghancurkan rumah-rumah di desa-desa setelah dilakukannya pembantaian gajah pada tahun 1970-an dan 1980-an. Serangan ini diyakini merupakan pembalasan dendam. Di India, gajah jantan seringkali memasuki desa pada malam hari, sehingga menghancurkan rumah-rumah dan membunuh beberapa warga. Antara tahun 2000 hingga 2004, gajah menewaskan sekitar 300 orang di Jharkhand, sementara dari tahun 2001 hingga 2006, 239 orang di Assam dibunuh oleh gajah.Penduduk setempat melaporkan bahwa beberapa gajah tampak mabuk selama terjadinya serangan, walaupun para pejabat meragukan hal ini. Gajah yang diduga mabuk menyerang sebuah desa di India untuk kedua kalinya pada Desember 2002, sehingga menewaskan enam orang, yang kemudian dibalas oleh warga dengan membunuh 200 gajah.

Sumber Referensi : Wikipedia Indonesia

Wednesday, February 15, 2017

FAKTA TENTANG LUMBA-LUMBA YANG WAJIB ANDA KETAHUI

     Lumba-lumba adalah mamalia cerdas yang biasa hidup di lautan, walaupun ada sedikit yang hidup di air tawar. Hewan ini dikatakan cerdas karena memiliki otak yang lumayan besar dibandingkan hewan lain. Berikut adalah beberapa fakta menarik tentang lumba-lumba:

1). Saat manusia menarik nafas, mereka hanya menggantikan 15% udara di paru-paru dengan udara yang segar. Saat lumba-lumba menarik nafas, mereka menggantikan 90% udara di paru-paru dengan udara yang segar.

2). Spesies lumba-lumba (Dusky dolphin dan Spinner dolphin) bisa melompat lebih dari 20 kaki di udara.


3). Lumba-lumba tertidur dengan setengah otak yang masih aktif dan satu mata yang terbuka.

4). Lumba-lumba bisa mengenali dirinya sendiri di cermin, dan mereka suka mengagumi diri mereka sendiri.

5). Membunuh lumba-lumba pada zaman Yunani Kuno dianggap sewenang-wenang dan akan dihukum mati. Karena orang Yunani menganggap lumba-lumba adalah ikan yang suci.

6). Ada 40 spesies lumba-lumba di dunia ini.

7). Seekor lumba-lumba berkepala dua pernah ditemukan di Turki bagian barat pada tahun 2014.

8). Lumba-lumba memiliki memori paling panjang dibandingkan hewan lain.

9). Walaupun lumba-lumba hidup di lautan, tetapi mereka sangat alergi terhadap air laut. Jika mereka tidak sengaja meminumnya, maka mereka akan sakit parah.

10). Dengan ekolokasi (sonar yang dimiliki lumba-lumba), lumba-lumba dapat membedakan bola baja berdiameter 2,5 inci dan bola baja yang berdiameter 2,25 inci.

11). Seekor bayi lumba-lumba harus belajar menahan nafas saat menyusui.

12). Lumba-lumba mendapatkan air dari makanan yang mereka makan, sehingga mereka tidak minum.

13). Semakin besar ukuran lumba-lumba, maka semakin lama umurnya.

14). Seekor lumba-lumba menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan menahan nafas.



15). Lumba-lumba dapat menggerakkan setiap matanya ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang, sehingga memberi mereka hampir 360 derajat penglihatan.

16). Seekor lumba-lumba seberat 118 kg dapat makan sekitar 15 kg ikan setiap harinya tanpa menambah berat badan.

17). Menyentuh atau memberi makan lumba-lumba di perairan Amerika Serikat adalah ilegal.

18). Beberapa ilmuwan berpikir bahwa lumba-lumba bisa menggunakan suara bernada tinggi untuk menyetrum atau melumpuhkan ikan saat berburu.

19). Musuh paling berbahaya untuk lumba-lumba adalah manusia.

20). Gigi lumba-lumba digunakan untuk mengenggam, bukan mengunyah. Mereka tidak memiliki otot rahang untuk mengunyah.

21). Pada tahun 2006, Baiji (lumba-lumba Sungai Yangtze) secara sah dikatakan telah punah.


22). Lumba-lumba tidak dapat berenang mundur, yang membuat mereka sulit lolos dari jaring ikan.


23). Lumba-lumba hidung botol adalah jenis lumba-lumba paling umum dan dikenal banyak orang.

24). Lumba-lumba bisa membunuh hiu dengan hidung mereka. Mereka mungkin akan mengelilingi hiu untuk mengkoordinasikan serangan.

25). Lumba-lumba tidak memiliki indera penciuman, tetapi mereka memiliki indera perasa, yang membuatnya bisa membedakan antara rasa manis, pahit, asin, dan asam.

26). Lumba-lumba, pesut, dan paus adalah mamalia yang disebut cetacea, yang berasal dari kata Yunani yang berarti "monster laut".

27). Paus pembunuh atau paus orca bukanlah tergolong dalam keluarga paus. Mereka adalah spesies yang tergolong dalam keluarga lumba-lumba.


28). Lumba-lumba bisa berenang hingga 30 mil (48,3 km) per jam.

29). Lumba-lumba dikenal sebagai penyelam yang hebat. Sebagai makhluk laut, mereka bisa menyelam hingga 1.000 kaki di bawah air.

30). Lumba-lumba memiliki 2 perut. Satu digunakan untuk menyimpan makanan, dan yang satunya lagi digunakan untuk pencernaan.

31). Lumba-lumba adalah salah satu hewan yang bisa menggunakan alat. Mereka menggunakan spons laut yang rusak untuk melindungi hidung mereka saat mencari makanan.

32). Spesies lumba-lumba terbesar adalah paus pembunuh, sedangkan spesies lumba-lumba terkecil adalah Hector dan Maui, yang sampai saat ini hanya tersisa 150.

33). Lumba-lumba dan pesut walaupun hampir sama, tetapi sebenarnya berbeda. Pesut memiliki moncong yang lebih pendek dibandingkan lumba-lumba. Pesut juga memiliki gigi berbentuk sekop, sedangkan lumba-lumba memiliki gigi berbentuk kerucut.



34). Lumba-lumba memiliki kulit yang sangat halus yang membuatnya mudah terluka. Tetapi walau seperti itu, mereka memiliki atribut penyembuhan yang sangat cepat, bahkan luka terdalam pun bisa disembuhkan dalam waktu yang singkat.

35). Lumba-lumba adalah hewan yang altruistik. Mereka diketahui sering membantu lumba-lumba lain yang terluka, bahkan membantu mereka ke permukaan untuk bernafas. Tidak hanya untuk sesamanya saja, ada banyak laporan yang menyatakan tentang lumba-lumba yang membantu manusia dan bahkan paus.

Sumber Referensi : Sekolahbagiilmu.blogspot.com

12 AIR TERJUN TERTINGGI DI INDONESIA

Indonesia juga banyak memilik air terjun yang tersebar hampir di semua Pulau, karena pada dasarnya air terjun terbentuk dengan adanya relief Kountur wilayah Indonesia yang sebagian besar adalah pegunungan. Sumber air terjun adalah sungai yang mengalir dari daerah hulu dengan mata airnya di Puncak-puncak Gunung yang kemudian tumpah menuju ketempat yang lebih rendah dibawahnya.Pada dasarnya jalur-jalur pendakian di gunung-gunung merupakan alur jalannya air dan biasanya pada daerah lereng dan puncak gunung aliran sungai ini dangkal, licin, berlumut dan berbatu-batu besar. Pada beberapa lokasi membentuk jeram-jeram yang curam dan membentuk lembah sungai berbentuk ngarai yang sering disebut Jurang. Jurang orok tempat ditemukan 6 jenajah pendaki gunung Siswa STM Pembangunan tahun 1987 lalu merupakan lembah yang dalam yang terbentuk oleh kikisan sungai. Tidak mengherankan pula ketika terjadi kecelakaan Pesawat Sukhoi di Gunung Salak ini, Badan pesawat yang hancur berkeping-keping ditemukan menyebar di kedalaman jurang lebih dari 400 meter.
  Pada Jurang-jurang yang dalam ini air tumpah dari atas tebing yang kita sebut dengan air terjun, dan disetiap gunung di Pulau Jawa pasti memiliki air terjun. Air terjun yang besar bisa menjadi daya tarik wisatawan yang menyukai keindahan alam, walaupun pada beberapa lokasi air terjun sering terjadi kecelakaan yang memakan korban karena ketidaktahuan pengunjung. Hati-hati disetiap tumpahnya air terjun ke dasar bawahnya pasti menyebabkan cekungan dan pusaran air yang berbahaya, oleh karena itu disarankan jangan coba-coba berenang di genangan telaga yang terbentuk dari air terjun ini. Namun manfaat yang bisa diambil dengan Sumber daya alam abiotik ini sungguh luar biasa, yang terbanyak adalah pemenfaatan curah airnya yang deras dan besar menjadi pembangkit Listrik tenaga Air. Misalnya yang sudah dimanfaatkan pada Air terjun Sigura-gura di Sumatera Utara.
  Jumlah air terjun sangat banyak dan tak terhitung, ada yang sudah populer dan menjadi obyek wisata namun masih banyak pula yang tersembunyi di hutan-hutan pegunungan karena lokasinya sulit dijangkau. Karena banyaknya maka pada postingan ini kami hanya membatasi pada kriteria ketinggian, dan kami tampilkan dengan 12 Air terjun di Indonesia yang memiliki ketinggian lebih dari 80 meter. Berikut ini adalah Air terjun yang dimaksud :
1. Air Terjun Sigura-gura,tinggi 250 m, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara
2. Air Terjun Madakaripura, tinggi 200 m, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur
Sudut lain Air terjun Madakaripra
3. Air Terjun Payakumbuh, tinggi 150 m, Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Barat
4. Air Terjun Sipiso-piso, tinggi 120 m, kabupaten Karo, Sumatera Utara
5. Air Terjun Jarakan, Tinggi 115 m, Kabupaten Magetan, Jawa Timur
6. Air Terjun Sedudo, Tinggi 105 m, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur
7. Air Terjun Curug Citambur, Tinggi 100 m, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat
8. Air Terjun Moramo, tinggi 100 m, Kabupaten Kanuwe Selatan, Sulawesi Tenggara
9. Air Terjun Curup Tenang, Tinggi 99 m, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
10. Air Terjun Curug Cipendog, Tinggi 92 m, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
11. Air Terjun Curug Cimahi, Tinggi 87 m, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat
12. Air Terjun Grojogan Sewu, Tinggi 81 m, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah

Sunday, February 5, 2017

BURUNG VERTEBRATA BERSAYAP PENGUASA UDARA

    Burung merupakan nama umum bagi kelompok vertebrata yang diklasifikasikan ke dalam kelas Aves. Anggota filum Chordata ini berkaki dua, bersayap, berbulu, serta bertulang belakang. Sebagian besar burung memiliki kemampuan terbang, meskipun kelompok burung ratites kehilangan kemampuan terbangnya.
Burung-burung yang terbang bermigrasi
    Selama jutaan tahun, kaki depan burung berevolusi menjadi sayap yang berfungsi untuk terbang, tetapi tidak bisa berfungsi untuk memegang. Oleh sebab itu, paruh dan kakinya beradaptasi sebagai alat pemegang. Sebagai contoh, burung pelatuk mempunyai dua jari untuk memenjat dan mencengkeram pohon, sedangkan paruhnya berguna untuk melubangi pohon. Saat ini lebih dari 8.500 spesies burung hidup di habitat padang pasir, hutan, pantai, kebun, bahkan di kutub.
Burung Manyar Guffon

Sayap Burung
    Kemampuan terbang burung didukung oleh kerangka tubuhnya yang ringan dan otot sayapnya yang kuat. Otot penggerak sayap melekat pada tulang dada. Gaya yang diperlukan untuk menahan tubuh agar tetap berada di udara dihasilkan oleh kepakan sayapnya. Hal ini disebabkan karena sayap burung cembung di atas dan rata di bawah. Udara di permukaan atas akan bergerak lebih cepat sehingga tekanan udara di atas sayap menjadi berkurang. Dengan demikian, udara di bawah sayap akan menekan sayap ke atas dan menahan tubuh burung tetap di udara.
    Selain sayap, kemampuan terbang burung juga didukung oleh paru-paru dan ekor. Paru-paru hewan ini dilengkapi dengan kantong penyimpan udara (saccus pneumaticus) yang berfungsi untuk menurunkan temperatur tubuh pada saat terbang. Bulu ekornya berfungsi sebagai kemudi, rem dan alat keseimbangan ketika hinggap di suatu tempat atau berhenti terbang.

Bunyi Dan Isyarat
    Bunyi dan isyarat merupakan alat komunikasi burung. Beberapa jenis burung, misalnya burung hantu, menngunakan bunyi untuk menarik perhatian pasangannya, menunjukkan adanya bahaya, dan menunjukkan kepemilikan suatu obyek. Isyarat dapat berupa gerakan yang mengandung pesan. Burung camar biasanya memberikan isyarat kepada kelompoknya dengan cara mempertunjukkan tarian yang membentuk angka delapan ketika menemukan sumber makanan.
Sarang burung dan bayi yang baru menetas

Sarang dan Reproduksi
    Burung berkembang biak dengan bertelur. Sebagian besar burung kawin dan bertelur sekali dalam setahun. Sarang biasanya dibangun setiap musim kawin, meskipun burung rajawali menggunakan sarang lama untuk meletakkan telurnya. Kemampuan membuat sarang ini diturunkan dari generasi ke generasi. Setelah diletakkan di sarang, telur dierami secara bergantian antara jantan dan betina.
Migrasi burung
Migrasi
    Burung biasanya bermigrasi dalam kelompok besar. Migrasi bertujuan untuk menghindari paceklik pada musim dingin dan kemudian kembali lagi ke tempat asalnya pada musim semi. Hewan ini memiliki kemampuan untuk menentukan rute perjalanan yang jaraknya mencapai ribuan kilometer tanpa tersesat. Burung diduga menggunakan cahaya matahari dan bintang sebagai penunjuk jalan.
Burung Rhea dan anak-anaknya
Burung Ratites
    Beberapa jenis burung bisa kehilangan kemampuan terbangnya. Jenis burung yang tidak bisa terbang (ratites) hidup di tempat yang memiliki sedikit pesaing untuk mencari makan. Karena tidak perlu terbang untuk mencari makan, maka sayapnya menjadi kecil dan lemah. Sebaliknya, bagian kaki beradaptasi menjadi pelari cepat, misalnya burung unta, burung emu, burung rhea, dan burung kiwi. Selain itu sayap burung ratites juga dapat termodifikasi menjadi alat pendayung ketika berenang di dalam air, misalnya penguin.