"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"

Thursday, April 14, 2011

PROFIL PROVINSI DKI JAKARTA


11. PROVINSI DKI JAKARTA

(UU NO.1 TAHUN 1961)
Berdiri
: 10 Februari 1965
Ibukota
: Jakarta
Luas Wilayah
: 740,29  Km2
Letak Astronomis
: 6o30LS' -7o LS dan 107oBT  - 108o BT
Terdiri dari
: 1 Kabupaten, 5 Kotamadya, 44 Kecamatan dan 267 Kelurahan
Jumlah Penduduk
: 9.111.651 jiwa
Identitas daerah
: Flora : Hutan Bakau
: Fauna :  -
Komoditas Utama
: Tekstil, Elektronik
Bahan Galian
: Pasir Bangunan
Industri
: Tekstil, otomotif, Elektronik
Pembagian Wilayah Kabupaten dan Kota
No
Nama Kabupaten/Kota
Ibukota
Luas Wilayah
Jumlah Penduduk
Jumlah
Jumlah
(Km2)
Sensus 2005
Kecamatan
Desa
1
Kepulauan Seribu
Pulau Pramuka
8,69
21.197
2
 -
2
Jakarta Pusat
Tanah Abang
50,56
912.29
8
 -
3
Jakarta Utara
Tanjung Priuk
162,95
1.478.729
6
 -
4
Jakarta Barat
Grogol Petamburan
212,39
2.146.324
8
 -
5
Jakarta Selatan
Kebayoran Baru
122,46
1.943.473
10
 -
6
Jakarta Timur
Cakung
183,24
2.609.638
10
 -
Ragam Budaya
Bahasa Daerah
: Betawi
Lagu Daerah
: Jali-Jali,Kicir-kicir,Surelang
Alat Musik
: Tanjidor, Tahyan, Rebana
Tarian
: Tari Topeng, Ondel-Ondel
Makanan Khas
: Kerak Telor, Gado-gado
Senjata Tradisonal
: Golok
Suku
: Sunda, Betawi, Jawa, Cina
Rumah adat
: Rumah Joglo
Lapangan Udara
:  Halim Perdana Kusumah
Pelabuhan Laut
:  Tanjung Priok
Universitas
:  Universitas Indonesia, UNJ
Cerita Rakyat
:  Sipitung, Sijampang Jago Betawi
Agama
:  85% Islam, sisanya Kristen, Hindu dan Budha
Pahlawan
:  Muh.Husni Thamrin
Taman  Nasional 
:  CA. Pulau rambut
Fauna dilindungi
:  Lumba-lumba, Burung Belibis
Gunung tertinggi
:  -
Sungai Terpanjang
:  Sungai Ciliwung
Danau Terluas
:  Waduk Sunter
Pulau Terbesar
:  Pulau Untung Jawa
Kotamadya terluas
:  Jakarta Barat

Wednesday, April 6, 2011

HARIMAU JAWA BELUM PUNAH, BENARKAH ?

    Spesies harimau di seluruh dunia ada 8 jenis, dan 3 subspesies diantaranya dinyatakan sudah punah, yaitu harimau Kaspia (Panthera Tigris Virgata) punah pada tahun 1950, binatang tersebut hidup di Iran, Afghanistan, Turki, Mongolia, Rusia dan harimau Bali (Panthera Tigris Balica) punah pada tahun 1937, hewan tersebut hidup di hutan-hutan di pulau Bali Indonesia, kemudian disusul harimau Jawa atau Javan Tiger (Panthera Tigris Javanica/Sondaica) yang hidup di pulau Jawa Indonesia.
  Namun klaim atas punahnya harimau Jawa masih banyak dibantah oleh beberapa saksi yang pernah melihat bahwa harimau Jawa masih ada walaupun mereka tidak berhasil menunjukkan bukti yang bisa diverifikasi. Menurut seorang mantan pekerja Taman Nasional Alas Purwo di Banyuwangi yang bernama Lukman, pada tahun 2000 mereka pernah melihat seekor harimau Jawa di hutan tersebut. Oleh karena itu jika mendengar bunyi tembakan, para petugas penjaga hutan taman nasional alas purwo akan langsung mencari sumber suara tembakan tersebut sampai ketemu untuk menjaga keselamatan harimau Jawa yang menurut mereka masih ada disitu.
   Hal ini berbeda dengan pendapat seorang petugas Kebun Binatang Surabaya (tidak disebutkan namanya) yang pernah bertugas dibagian Burung Jalak Bali di KBS Surabaya, dimana dia juga mengetahui tentang asal-usul berbagai satwa langka di Indonesia. Dia mengatakan bahwa harimau loreng yang dilihat oleh para petugas taman nasional alas purwo tersebut bukanlah harimau Jawa yang sebenarnya, melainkan harimau Sumatera yang kerdil, karena Belanda pernah mendatangkan beberapa ekor harimau Sumatera pada tahun 1939 dan dipelihara di tempat karantina di Alas Purwo untuk selanjutnya dilepas dialam bebas.

PENELITIAN ILMUWAN ASING

   Dr. John Seidensticker Ph.D.seorang ahli konservasi biologi dan kepala pusat konservasi ekologi dari Smithsonian’s National Zoological Park di Amerika Serikat yang dampingi rekannya Ir. Suyono dari direktorat perlindungan dan pengawetan alam Indonesia melakukan penelitian secara khusus pada tahun 1970 dan berhasil mendapatkan beberapa foto harimau. Namun karena foto tersebut terlalu buram, akhirnya mereka tidak bisa memastikan bahwa itu benar-benar foto harimau Jawa. 
  Selama tahun 1998-1999, yayasan The Tiger Foundation yang berpusat di Amerika Serikat terus menerima laporan dari penjaga taman nasional di Jawa Timur yang melaporkan bahwa sering terjadi penampakan harimau Jawa di dalam taman nasional dan di hutan-hutan sekitar taman nasional di Jawa Timur. Mereka juga memberikan bukti berupa foto jejak kaki, guratan pohon, bulu dan kotoran harimau, dan diteliti dilaboratorium di Amerika Serikat.
  The Tiger Foundation segera memberikan dukungan kepada departemen kehutanan Indonesia dengan memasang kamera pengintai di hutan yang di duga ada harimau Jawa. Mereka berhasil mendapatkan foto-foto satwa liar, namun tidak menemukan adanya bukti foto harimau Jawa, kecuali hanya macan tutul.
   Mereka menyimpulkan bahwa bukti-bukti  foto yang telah dicurigai sebagai milik harimau Jawa tersebut adalah kotoran macan tutul, dan bulu serta foto guratan pohon tersebut ternyata milik macan tutul. Dan mereka sangat meyakini dan sudah tidak meragukan lagi bahwa harimau Jawa telah benar-benar punah.

PENAMPAKAN TERAKHIR HARIMAU JAWA DI ABAD XXI

Berdasarkan keterangan situs resmi Balai Taman Nasional Meru Betiri, warga lokal permanen hasil hutan TN Meru Betiri mengaku bahwa mereka masih terkadang melihat penampakan harimau loreng (harimau jawa) hingga era 2010. Namun ini hanyalah sebuah pengakuan saja yang tidak disertai bukti otentik seperti foto atau tanda-tanda kuat lain milik harimau jawa. Benarkah harimau Jawa yang sangat melegenda itu telah lenyap dari muka bumi? Bisakah putra putri Indonesia membuktikan bahwa harimau Jawa masih ada? Atau menyetujui klaim bahwa harimau loreng ini telah benar-benar punah? 
  Selama ini dugaan terhadap keberadaan harimau jawa hanya terfokus di TN Meru Betiri. Bukankah masih banyak hutan-hutan terpencil lainnya di Pulau Jawa yang masih menyediakan mangsa walaupun sedikit. Bukankah masih ada hutan yang terletak di gunung-gunung di jawa yang hampir tidak terjamah manusia. Berdasarkan penuturan penduduk lokal Pulau Jawa (para orang-orang tua) dimana mereka benar-benar memahami sifat-sifat harimau jawa. Harimau jawa tidak takut bertemu manusia. Pada jaman dahulu jika terjadi pertemuan antara manusia dengan harimau jawa (macan gembong), harimau jawa hanya memalingkan muka saja dan tidak lari. Ini bisa dijadikan alasan mengapa beberapa warga sekitar TM Meru Betiri mengklaim bisa melihat harimau loreng. Walaupun salah satu sifat harimau ini adalah suka menyembunyikan diri agar tidak terlihat oleh mangsa.
   Tapi kenapa jika mereka pernah melihat harimau jawa tapi tidak ada yang bisa memotretnya? Perlu kita ketahui bahwa orang-orang yang mengaku melihat harimau jawa tersebut bukanlah para peneliti yang dilengkapi dengan fasilitas kamera, melainkan para pekerja ladang atau petani, dan sejenisnya. Sudah tentu mereka tidak mungkin memotretnya karena tidak membawa kamera, kecuali hanya membawa peralatan bertani dan berkebun.
  Mungkinkah akan ada foto harimau jawa terbaru? Semoga anak negeri bisa menemukan bukti foto agar dunia yakin bahwa harimau Jawa masih ada, sebelum peneliti asing yang mencintai satwa liar berhasil mengungkap fakta tentang keberadaan harimau Jawa. Jika selama ini tidak ada orang yang bisa menunjukkan bukti foto harimau jawa terbaru, boleh dipercaya bahwa harimau jawa memang benar-benar telah punah. Tapi apa yang terjadi pada tahun 2013?

HARIMAU JAWA MUNCUL LAGI DI TAHUN 2013

   Ternyata tanda-tanda keberadaan harimau jawa tidak hanya terdapat di Meru Betiri saja. Hutan belantara di pulau jawa masih cukup luas untuk dijelajahi. Mencari hewan sebesar harimau jawa di hutan jawa yang masih luas ini ibarat mencari jarum di dalam tumpukan jerami. Pada awal oktober 2013, secara tanpa sengaja ditemukan jejak kaki karnivora besar mirip jejak harimau jawa di danau Ranu Tompe. 
  Setelah ditindaklanjuti, dugaan keberadaan harimau jawa semakin kuat. Tim Ekspedisi Eksplorasi Ekologi Ranu Tompe Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menemukan bekas cakaran (marking) hewan karnivora di pohon pampung atau pohon katesan (Macropanax dispermus), yang ditemukan pada tanggal 9 oktober 2013.
   Hal ini semakin memperkuat harapan bahwa raja hutan pulau jawa ini masih hidup. Berdasarkan literatur, karakter cakaran sebesar itu adalah milik Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Harimau Jawa. Sedangkan ukuran cakaran macan tutul jawa (Panthera pardus melas) hanya kurang dari 13 sentimeter saja.
   Tim ini juga menemukan banyak jejak tapak kaki (foot print), tahi/kotoran (faeces) satwa karnivora berukuran besar. Diameter kotoran itu berukuran antara 3,6 sampai 3,8 cm dengan panjang rata-rata 6 cm. Jika ditinjau dari besarnya kotoran milik karnivora terbesar di pulau jawa saat ini, itu bukanlah kotoran macan tutul atau macan kumbang, melainkan kotoran milik harimau jawa. Selanjutnya pihak BB TNBTS berkonsultasi dengan akademisi Biologi di Universitas Gajah Mada (UGM) tentang temuan baru ini. Hasilnya, mungkin Harimau Jawa masih ada. Namun ini hanya sebatas dugaan dan perlu ditindaklanjuti untuk memastikan apakah dugaan itu benar.
   Direncanakan pada tahun 2014 akan dipasang camera trap di sekitar danau ranu tompe yang saat ini belum pernah dijamah manusia dengan tujuan untuk memastikan apakah harimau jawa benar-benar masih ada.

Sumber Referensi : Juragan Cipir.Com

Sunday, April 3, 2011

PROFIL PROVINSI LAMPUNG


10. PROVINSI LAMPUNG

(UU NO.14 TAHUN 1954)
Berdiri
: 13 Februari 1964
Ibukota
: Bandar Lampung
Luas Wilayah
: 37.735,15  Km2 (1,74% luas Indonesia)
Letak Astronomis
: 3o30' LS-6o LS dan 103oBT - 105o BT
Terdiri dari
: 8 Kabupaten, 2 Kota, 164 Kecamatan dan 1.967 Desa
Jumlah Penduduk
: 7.161.671 jiwa
Identitas daerah
: Flora : Kembang Asakh
: Fauna : gajah Sumatra
Komoditas Utama
: Kayu, Kopi, Lada, Cengkeh
Bahan Galian
: Marmer, Biji besi, Emas
Industri
: Industri Ringan
Pembagian Wilayah Kabupaten dan Kota
No
Nama Kabupaten/Kota
Ibukota
Luas Wilayah
Jumlah Penduduk
Jumlah
Jumlah
(Km2)
Sensus 2005
Kecamatan
Desa
1
Lampung Selatan
Kalianda
5.562,55
1.226.009
20
362
2
Lampung Tengah
Gunung Sugih
3.961,51
1.105.631
26
270
3
Lampung Utara
Kota Bumi
2.724,81
373.253
16
202
4
Lampung Barat
Liwa
4.950,40
397.877
14
169
5
Tulang Bawang
Menggala
7.770,84
758.395
18
224
6
Tanggamus
Kota Agung
3.356,61
834.111
17
317
7
Lampung Timur
Sukadana
5.325,03
927.642
23
227
8
Way Kanan
Blambangan Umpu
3.821,73
375.806
12
196
9
Kota Bandar Lampung
Bandar Lampung
192,93
830.386
13
 -
10
Kota Metro
Metro
68,74
132.563
5
 -
Ragam Budaya
Bahasa Daerah
: Melayu
Lagu Daerah
: Lipang Lipang Dang, Kulintang
Alat Musik
: Bende
Tarian
: Tari Jengget, Malinting, Bendana
Makanan Khas
: Gulai Latuk-latuk, Acar Tulang Bawang
Senjata Tradisonal
: Keris, Badik
Suku
: Melayu, Rawas, Pasemah
Rumah adat
: Rumah Sesat
Lapangan Udara
: Beranti, Bandar Lampung
Pelabuhan Laut
: Panjang
Universitas
: Universitas Lampung (UNILA)
Cerita Rakyat
:  Kesaktian Sultan Domas
Agama
: 95% Islam, sisanya Kristen, Hindu dan Budha
Pahlawan
: Radin Inten II
Taman  Nasional 
: TN Bukit Barisan Selatan, TN Way Kambas
Fauna dilindungi
: Harimau Sumatera, Beruang Madu, gajah sumatra
Gunung Tertinggi
: G. Pesagi (2.230 m)
Sungai Terpanjang
:  Way Tulang Bawang
Danau Terluas
:  Danau Ranau
Pulau Terluas
:  Pulau Tabuan
Kabupaten terluas
:  Tulang Bawang