"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"

Saturday, February 12, 2011

TAMAN NASIONAL DI MALUKU DAN PAPUA

    Keberadaan Taman Nasional di Maluku dan Papua adalah khas, karena kedua wilayah ini jenis Flora dan Faunanya memiliki ciri Australia, walaupun untuk tumbuhan prosentase ciri Asia masih dominan namun jenis Faunanya lebih dominan Australis. Kecuali Untuk Maluku terutama Maluku Utara masih ditemukan fauna berciri peralihan dan endemik misalnya Babi rusa dan Anoa. Namun untuk Maluku Selatan dan Papua lebih banyak ditemukan fauna berciri Australis misalnya Kanguru Pohon, Walabi, Burung Cendrawasih, Kuskus, Tikus berkantung dan lain sebagainya. Garis pemisah Zoogeografis Wallace, Weber dan Leddeker dibuat untuk membedakan penyebaran Fauna Asia, peralihan dan Australia.
    Papua merupakan wilayah zoogeografis Indonesia yang dulu pernah menyatu dengan benua Australia, oleh karena itu ada kesamaan fauna diantara kedua wilayah ini. Perbedaan mendasarnya setelah keduanya terpisah pada zaman es jutaan tahun yang lalu, Australia masih merupakan sebuah massa benua sedangkan Papua merupakan pulau terpisah yang tercatat sebagai Pulau Paling besar dan terluas di dunia. Namun Australia yang memiliki wilayah cukup luas , bentang daratannya relatif rendah dan tidak memiliki gunung-gunung yang tinggi. Puncak gunung tertinggi di benua ini adalah Gunung Konsciosko yang tinginya hanya 2211 m diatas permukaan laut. Bandingkan dengan Papua yang memiliki Gunung-gunung tinggi diatas 4000 m, misalnya Puncak Jaya (5030 m), Puncak Trikora (4750 m), Puncak Mandala (4700 m) Puncak Yamin (4550 m) dan puluhan gunung lainnya setinggi lebih dari 3500 m.
   Keberadaan gunung-gunung tinggi di Papua yang terletak di daerah Tropis menyebabkan beberapa puncaknya tertutup Salju. Sebelum tahun 1970, Tiga puncak gunung di Papua berselimutkan salju abadi yaitu Puncak Jaya, Puncak Trikora dan Puncak Mandala, namun kini yang tersisa hanya Puncak Jaya saja. Semakin berkurangnya salju di Puncak Jaya sangat mengkuatirkan, karena Indonesia tidak akan lagi memiliki titik yang berselimutkan salju abadi. Pemanasan Global dan kerusakan lingkungan di bagian kaki pegunungan Jaya Wijaya diduga menjadi penyebabnya. Aktifitas penambangan Tembaga yang dilakukan Freefort di punggung pegunungan ini menyebabkan es di puncaknya terus mencair dari tahun ke tahun. Oleh karena itu pemerintah perlu mempertimbangkan lagi perpanjangan kontrak penambangan Tembaga di tempat ini kalau memang terbukti benar sebagai penyebanya.
    Walaupun Papua merupakan Pulau yang luas dan memiliki tingkat kepadatan penduduk yang rendah dengan populasi yang sedikit, tetap penetapan Taman Nasional wajib dilakukan untuk menjaga dan melindungi wilayah Papua yang kaya akan keanekaragaman hayati. Keberadaan Taman Nasional ini akan bermanfaat untuk kelestarian dan kelangsungan kehidupan Flora dan Fauna di Pulau paling Timur Indonesia ini. Berikut ini adalah daftar nama Taman Nasional yang ada di Maluku dan Papua.
1. Taman Nasional Manusela
  • Letak geografis : berada di Pulau Seram, Provinsi Maluku
  • Luas : 189.000 Ha, terdiri dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah, hutan sub pegunungan, dan hutan pegunungan
  • Flora : Tancang, Bakau, Api-api, Meranti, Kayu raja
  • Fauna : Biawak, Soa-soa, Ikan Duyung dan Penyu 
2. Taman Nasional Teluk Cendrawasih
  • Letak geografis : berada di wilayah perairan Teluk Cendrawasih, Provinsi Papua
  • Luas : 1.453.500 Ha merupakan tipe ekosistem pantai dan perairan laut yang terdiri dari terumbu karang
  • Flora : Rumput laut
  • Fauna : Penyu, Kima, Ikan Hiu Paus (Geger Lintang) 
3. Taman Nasional Wasur
  • Letak Geografis : berada di kabupaten Merauke, Provinsi Papua
  • Luas : 308.000 Ha terdiri dari hutan rawa, hutan musim, hutan pantai dan padang rumput
  • Flora : Tancang, Bakau, Api-api, Meranti dan Kayu raja
  • Fauna : Kanguru, Walabi, Burung dara mahkota dan Kasuari 
4. Taman Nasional Lorenz
  • Letak Geografis : berada di Pegunungan Jayawijaya, Provinsi Papua
  • Luas : 2.505.600 Ha, merupakan kawasan perlindungan yang paling efektif di dunia karena sifatnya yang unik dan keindahan alamnya yang mempesona dan terdapat salju abadi
  • Flora : memiliki kekayaan flora yang beragam dan unik
  • Fauna : Burung Cendrawasih, Burung kakatua, Kanguru Pohon, Kasuari dan Burung Dara Mahkota 
5. Taman Nasional Akatajawe Lolobata
  • Letak Geografis : terletak di Pulau Halmahera, Provinsi Maluku Utara
  • Luas : 167.300 Ha merupakan ekosistem hutan pegunungan rendah
  • Flora : mangrove
  • Fauna : Kuskus, Bidadari Halmahera
Taman Nasional Lorenz , Papua yang sangat Indah
Salju di Puncak Pegunungan Jayawijaya
 Ikan Hiu Geger Lintang di Taman Nasional Teluk Cendrawsih
 Seekor Penyu berenang di perairan laut Taman Nasional Manusela
Kawanan Kanguru di Taman Nasional Wasur Merauke, Papua

Tuesday, February 8, 2011

HARIMAU JAWA SOSOK KARNIVORA YANG MISTERIUS

   Harimau Jawa adalah spesies karnivora besar  yang hanya dapat ditemukan di Pulau Jawa (endemik). Harimau ini termasuk salah satu sub-spesies harimau (Panthera tigris) yang secara alami tersebar di Asia, mulai dari danau laut Kaspia, Siberia India, China, daerah kontinen Asia Tenggara hingga Kepulauan Nusantara. Meskipun secara umum, kebiasaan hidup Harimau Jawa sama dengan harimau lainnya. Namun berdasarkan fisiknya, sosok Harimau Jawa memperlihatkan ciri  khas yang jauh ‘berbeda”.
    Bersama dengan singa, macan tutul dan jaguar, Harimau Jawa termasuk keluarga kucing besar (Felidae) yang menduduki posisi puncak dalam rantai makanan. Untuk menjamin tetap tersedianya hewan mangsa, harimau memiliki daerah teritorialnya sendiri. Pejantan umumnya memiliki luas daerah teritorial berukuran 10 x 10 km. Sedangkan betina memiliki daerah jelajah yang lebih kecil.Ukuran tubuh rata-rata harimau Jawa lebih besar dari harimau Sumatera dan harimau Bali, bahkan sedikit lebih besar dari harimau Malaya dengan panjang rata-rata 200-245 cm. Berat jantan berkisar antara 100-140 kg dan betina berkisar antara 75-115 kg (Tabel 1).
   Dibandingkan dengan subspesies lainnya, bentuk tubuh harimau Jawa termasuk yang paling unik dan “sexy”. Berikut ini adalah awetan (taxidermi) utuh dari seekor harimau Jawa yang tersimpan di sebuah museum Eropa .
Harimau Jawa
  Berbeda dengan singa yang hidup dalam kelompok, harimau cenderung hidup soliter dan  lebih suka berburu pada malam hari (nokturnal). Harimau jantan juga sangat intoleran terhadap pejantan lain yang memasuki daerah kekuasaannya. Oleh karena itu, sebagai peringatan, harimau akan menandai batas wilayahnya dengan air seni dan gurat-gurat cakaran pada batang pohon tertentu. Tiap individu harimau memiliki bau air seni yang sangat khas.
   Dari jejak dan kotoran yang ditinggalkan, diketahui bahwa Harimau Jawa tergolong predator yang oportunis.  Harimau Jawa akan memangsa hewan apa saja yang dapat ditemukan selama menjelajahi hutan. Rusa (Muntiacus muntjak) dan Babi hutan (Sus scrofa) adalah makanan favoritnya. Satwa lain seperti: Banteng (Bos javanicus), Kera ekor panjang (Macaca fascicularis), trenggiling (Manis javanica), ular, ayam hutan,  bahkan hingga serangga seperti kumbang badak juga termasuk dalam daftar menunya. 
    Selain harimau, di hutan-hutan dan pegunungan Pulau Jawa juga dapat ditemukan hewan pemangsa (Karnivor) lain yang ukurannya lebih kecil yaitu macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan Ajag,  sejenis anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).
Karakter unik Harimau Jawa
  
Kepala Harimau Jawa
Kepala harimau Jawa terlihat kecil untuk ukuran badannya yang agak besar, panjang dan ramping. Bentuk kepala juga lebih pipih dengan hidung yang sempit dan panjang. Warna kepala kuning kemerahan gelap dengan sedikit surai/janggut yang tumbuh di dagu/leher. Pipi di dominasi warna putih dengan 2 garis loreng berwarna kontras yang tebal.  Leher  harimau Jawa terlihat lebih jenjang. Kaki agak panjang dengan ukuran telapak kaki yang sangat besar. Bahkan menurut Wikipedia, garis tengah rata-rata jejak kaki harimau Jawa lebih besar dari diameter jejak kaki Harimau Benggala.
  Pola belang harimau Jawa juga sangat unik. Dibandingkan subspesies lainnya, harimau Jawa memiliki jumlah belang yang paling banyak (dapat mencapai total lebih dari 100 garis belang per ekor). Bentuk belangnya juga sangat tipis dan panjang dengan jarak yang rapat terutama di bagian paha dan sekitarnya. Anehnya lagi, belang harimau Jawa hanya terkonsentrasi di bagian belakang tubuh. Saat mencapai bagian perut, garis belang tampak menghilang secara tiba-tiba. Setengah bagian perut hingga bagian depan pun terlihat lebih polos  dengan jumlah garis belang yang minim. Hal ini terlihat dengan jelas pada foto awetan (taxidermi) harimau Jawa pada Gambar 2 (di atas) dan 4 berikut ini
Perbandingan Harimau Sumatra dan Harimau Jawa
Gambar 4. Perbandingan pola belang pada Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan pola belang harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Belang harimau sumatera terlihat lebih lebar dan tebal (atas). Sedangkan harimau Jawa memiliki pola belang yang tipis, panjang dan sangat rapat (bawah). 
  Dari gambar di samping  terlihat jelas perbedaan fisik Harimau Jawa dengan saudaranya Harimau Sumatera. Perbedaan yang paling menyolok terlihat pada bagian surai (jenggotnya). Perlu diketahui bahwa Harimau Sumatera adalah subspesies harimau yang memiliki surai paling lebat di antara seluruh subspesies harimau di dunia. Jadi, jika anda ingin memastikan suatu harimau tergolong harimau Sumatera atau bukan, lihat saja jenggotnya. 
  Pola belang Harimau Jawa dan Sumatera juga berbeda. Dengan pola belangnya yang tipis memanjang, warna bulu harimau Jawa terlihat lebih cerah.  Belang harimau Sumatera lebih lebar rapat dan hampir merata di sekujur tubuh sehingga warna bulu terlihat lebih gelap. 
   Postur tubuh juga memperlihatkan perbedaan yang jelas. Tubuh Harimau Sumatera sedikit lebih kecil, pendek, gempal namun proporsional.  Sedangkan postur tubuh harimau Jawa terlihat lebih unik, dengan kepalanya yang kecil, tubuh ramping dan telapak kaki yang besar (Gambar 4)
Gambar 5. Perbandingan pola belang antara Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dengan Harimau Benggala (Panthera tigris tigris).
Perbandingan Harimau Jawa Dan Harimau Benggala
Pola belang pada harimau Benggala biasanya dijadikan “standar” untuk menggambarkan sosok harimau, baik dalam film, iklan maupun karya seni lainnya. Hal ini wajar mengingat Harimau Benggala dapat ditemukan hampir di setiap kebun binatang di seluruh dunia. Sebagian besar Harimau putih yang menjadi maskot kebun binatang juga merupakan bagian dari subspesies Harimau Benggala. 
Dari Gambar 5 terlihat jelas perbedaan pola belang dan postur tubuh Harimau Benggala dengan Harimau Jawa. Harimau Benggala memiliki postur yang lebih besar. Warna bulu tubuh sangat cerah dengan warna belang hitam yang kontras. Jumlah belang Harimau Benggala jauh lebih sedikit dibandingkan dengan harimau Jawa. Bentuk belang pun lebih lebar dengan jarak yang lebih renggang.
Gambar 5. Perbandingan pola belang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan harimau Benggala (Panthera tigris tigris).
Perbandingan HarimauSumatra dan Harimau Benggala
   Meskipun berukuran jauh lebih kecil, raut muka Harimau Sumatera cenderung lebih mengintimidasi jika dibandingkan dengan Harimau Benggala. Dengan surai jenggotnya yang lebat, Harimau Sumatera tampak lebih garang dan sangar. Dari Gambar 5 di atas,  terlihat jelas jika Harimau Sumatera memiliki belang yang lebih banyak dan lebih rapat. Sedangkan belang pada Harimau Benggala jumlahnya lebih  sedikit namun lebih lebarGambar 6. Perbandingan pola belang Harimau Bali (Panthera tigris balica) dengan harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). 
  
Perbandingan Harimau Bali dan Harimau Jawa
Berdasarkan ukuran panjang dan berat tubuhnya, Harimau Bali dinyatakan sebagai subspesies harimau terkecil di dunia (Tabel 1). Hal ini kemungkinan merupakan adaptasi terhadap habitat yang  sempit dengan mangsa yang berukuran kecil pula. Pola belang harimau Bali juga unik karena memiliki jumlah loreng yang lebih sedikit dibandingkan dengan Harimau Jawa dan Sumatera. Jarak antar belang pun juga lebih renggang. Bahkan di antara belang terdapat “motif’ tambahan berupa bintik-bintik hitam yang tidak ditemukan pada subspesies harimau lainnya. Dari sampel kulit awetan yang masih tersisa juga diketahui bahwa Harimau Bali memiliki warna kulit/bulu yang lebih gelap dibandingkan dengan harimau lainnya.

Benarkah Harimau Jawa telah Punah ?

Hingga pertengahan abad ke 19 (tahun 1850), Harimau Jawa masih banyak ditemukan di seluruh pelosok Pulau Jawa. Bagi penduduk lokal yang tinggal di daerah pinggiran pedesaan dan pemerintah kolonial Hindia Belanda saat itu, Harimau Jawa dianggap sebagai hama karena seringkali mencuri dan memangsa hewan ternak  seperti kambing dan domba.
Dua Ekor Harimau Jawa di Sebuah KB Batavia
   Pembukaan lahan pertanian yang lebih luas akibat pertambahan penduduk yang pesat menyebabkan ruang hidup bagi harimau jawa semakin menyempit. Akibatnya timbul konflik antara penduduk lokal dengan harimau. Kasus penduduk yang tewas diterkam harimau pun semakin sering terdengar.  Sejak saat itu nasib harimau Jawa kian tak pasti dan hingga kini masih menjadi misteri. Sebagian ahli satwa liar meyakini Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur  sebagai habitat terakhir bagi Harimau Jawa. Setidaknya hingga tahun 1980-an, 3 ekor harimau Jawa diperkirakan masih hidup di daerah tersebut. 
   Di awal tahun 1990-an, TN Meru Betiri yang didukung oleh WWF Indonesia berinisiatif memasang kamera jebak (camera trap) untuk memastikan adanya individu harimau Jawa yang masih tersisa. Kamera Jebak pun di pasang di 19 titik yang diduga menjadi daerah perlintasan harimau Jawa. Pemantauan dilakukan selama setahun penuh dari bulan Maret 1993 hingga Maret 1994. Selain dengan kamera, survei juga dilakukan terhadap jejak dan kotoran (faeces) yang ditinggalkan Harimau Jawa. 
   Hasil pemantauan selama setahun tersebut sungguh menyedihkan. Tak satu pun foto dan jejak harimau Jawa yang berhasil ditemukan. Bahkan, berdasarkan hasil survei tersebut, IUCN (1996) secara resmi menyatakan bahwa Harimau Jawa telah punah dari muka bumi untuk selamanya. Walaupun IUCN telah menetapkan status kepunahan harimau Jawa, sebagian masyarakat melaporkan masih melihat keberadaan kucing besar tersebut di kawasan hutan Meru Betiri. Hal ini juga didukung oleh mahasiswa dan pencinta alam yang menemukan jejak dan kotoran harimau Jawa selama melakukan penjelajahan di  daerah tersebut.
   Atas laporan tersebut, pihak Taman Nasional Meru Betiri pun berinisiatif melakukan survei kembali. Dengan dukungan kamera infra merah dari The Tiger Foundation Kanada, 12 jagawana yang telah dilatih sebelumnya kemudian memasang kamera jebak dan membuat peta observasi. Hasil survei selama setahun tersebut, memperkuat fakta punahnya harimau jawa karena tidak satu foto pun yang berhasil ditemukan. Bahkan, foto satwa yang menjadi makanan harimau pun termasuk jarang. Kekecewaan semakin bertambah lengkap dengan banyaknya foto pemburu yang terjebak kamera Infra merah…!
   No picture, no evidence. Tidak adanya foto terbaru seolah menasbihkan kepunahan harimau Jawa. Namun hal ini dibantah oleh Didik Raharyono, seorang peneliti Harimau Jawa yang berdomisili di Cirebon. Sampel faeces, foto jejak dan bekas cakaran di batang pohon menjadi bukti bahwa harimau Jawa benar-benar masih ada. Penelitiannya selama beberapa tahun yang dikombinasikan dengan informasi dari rekan-rekan pencinta alam menunjukkan bahwa harimau Jawa masih eksis. Populasi harimau Jawa tersebut, umumnya tersebar di daerah hutan terpencil atau daerah pegunungan besar di pulau Jawa.
Taman Nasional Meru Betiri, Rumah Terakhir Harimau Jawa
   Jejak-jejak kaki misterius di dekat kandang ternak yang ditemukan oleh penduduk pasca meletusnya gunung Merapi seolah membuktikan bahwa raja Rimba tersebut memang benar-benar masih ada. Survei yang lebih detail pun perlu dilakukan sebagai langkah awal untuk memastikan keberadaan harimau Jawa.  Informasi dari penduduk yang masih sering melihat harimau di hutan sekitar tempat tinggalnya pun juga tak bisa dipandang sebelah mata. Pemburu harimau Jawa juga harus diajak bekerja sama karena merekalah yang paling mengenal seluk beluk Harimau yang menjadi buruannya. Jika kita semua peduli, kemungkinan punahnya Harimau Jawa masih dapat dicegah sebelum terlambat. Berapa lama lagikah misteri keberadaan Harimau Jawa ini akan terpecahkan ?. Hanya waktu yang bisa menjawabnya...
Sumber Referensi : Dody94Wordpress.Com

Wednesday, February 2, 2011

PROVINSI RIAU


4. PROVINSI RIAU
(UU NO.62 TAHUN 1958)
Berdiri
: 25 Juli 1958
Ibukota
: Pekan Baru
Luas Wilayah
: 87.844,23  Km2
Letak Astronomis
:1o31'LU - 2o25' LS dan 100oBT  - 105o BT
Terdiri dari
: 9 Kabupaten, 2 Kota, 124 Kecamatan dan 1.236 Desa
Jumlah Penduduk
: 4.546.591 jiwa
Identitas daerah
: Flora : Pohon Nibung  
: Fauna : Srindit
Komoditas Utama
: Kelapa sawit , Karet, Kayu
Bahan Galian
: Minyak Bumi, Bauksit, Timah, Granit
Industri
:Plastik, Polywood, Crumb Rubber
Pembagian Wilayah Kabupaten dan Kota
No
Nama Kabupaten/Kota
Ibukota
Luas Wilayah
Jumlah Penduduk
Jumlah
Jumlah
(Km2)
Sensus 2005
Kecamatan
Desa
1
Kampar
Bangkinang
10.983,47
532.236
12
183
2
Indragiri Hulu
Rengat
5.922,37
295.998
9
155
3
Bengkalis
Bengkalis
11.629,70
637.163
13
135
4
Indragiri Hilir
Tembilahan
12.614,78
624.359
17
173
5
Palalawan
Pangkalan Kerinci
10.427,57
220.836
10
93
6
Rokan Hulu
PasirPangarayan
6.283,10
340.701
12
114
7
Rokan Hilir
Ujung Tanjung
11.995,79
440.904
11
90
8
Siak
Siak Sri Indrapura
8.072,77
292.144
11
99
9
Kuantan Senggigi
Teluk Kuantan
7.659,03
243.772
12
193
10
Kota Pekan Baru
Pekan Baru
632,27
702.717
12
2
11
Kota Dumai
Dumai
1.623,38
215.761
5
-
Ragam Budaya dan Alam
Bahasa Daerah
: Melayu
Lagu Daerah
: Soleram, Lancang Kuning
Alat Musik
: Gambus, Saluang, Talempong
Tarian
: Tari Tanduk, Tari Lambak
Makanan Khas
: Roti Jalu
Senjata Tradisonal
: Badik Tumbuk Lada, keris, Pedang
Suku
: Melayu, Hutan Sangkai, Bonai
Rumah adat
: Rumah Selaso, Jatuh Kembar
Lapangan Udara
: Simpang Tiga di Pekan Baru
Pelabuhan Laut
: Dumai
Universitas
: Universitas Riau
Cerita Rakyat
:Raja yang culas
Agama
: 92% Islam, sisanya Kristen, Hindu dan Budha
Pahlawan
: Raja Haji Fisabililah
Taman  Nasional 
: TN Kerumutan, CA Tesso Nilo, TN Bukit Tiga Puluh
Fauna dilindungi
: Harimau Sumatera, Beruang Madu, Macan Dahan
Gunung Tertinggi
: G.Jadi (1.891 m)
Sungai Terpanjang
: Sungai Indragiri
Danau Terluas
: Air Hitam, Siak
Pulau Terbesar
: Pulau.Tebing Tinggi
Kabupaten Terluas
: Indragiri Hilir