"SELAMAT DATANG DI BLOG GEOGRAFI LINGKUNGAN""(EKOGEO)"
Showing posts with label ASTRONOMI. Show all posts
Showing posts with label ASTRONOMI. Show all posts

Friday, July 27, 2018

GERHANA BULAN TOTAL 28 JULI 2018 TERLAMA DI ABAD KE 21

   Peristiwa gerhana, baik itu gerhana bulan ataupun gerhana matahari, sebenarnya merupakan peristiwa langit yang tergolong biasa saja dalam astronomi. Tidak ada yang spesial, melainkan hanya ditutupinya matahari oleh bulan atau bulan oleh bayangan bumi. Namun, di era modern seperti sekarang ini, rupanya masih banyak masyarakat kita yang berpikiran bahwa peristiwa gerhana adalah peristiwa yang tidak biasa. Hal ini pula yang mungkin membuat sebagian dari kita bertanya-tanya; mengapa sekarang sering terjadi gerhana? Apakah ini tanda kiamat?
    Perlu diketahui, peristiwa gerhana bukan termasuk dalam peristiwa langka. Di tahun 2018 ini saja, setidaknya ada lima kali gerhana yang terjadi, dua gerhana bulan dan tiga gerhana matahari. Namun, tidak semuanya teramati di Indonesia. 

Apa Itu Gerhana? 
   
Gerhana Bulan (Supermoon)
    Dalam astronomi, gerhana adalah peristiwa yang terjadi ketika sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Di Bumi, peristiwa ini terjadi pada dua benda terdekat planet kita, yakni matahari dan bulan, dan hanya dapat terjadi ketika mereka hampir berada dalam garis lurus, atau yang dikenal sebagai posisi syzygy.
    Gerhana matahari misalnya, hanya bisa terjadi ketika bulan, dalam mengelilingi bumi, melintasi persimpangan antara matahari dan bumi. Sementara gerhana bulan hanya bisa terjadi ketika bumi secara tepat melintasi persimpangan antara matahari dan bulan. 
   Gerhana matahari bisa terjadi di fase bulan baru, sementara gerhana bulan hanya terjadi di fase bulan purnama. Penyebab tidak adanya gerhana matahari tiap fase bulan baru dan tidak adanya gerhana bulan tiap fase bulan purnama adalah; bidang orbit bulan miring sekitar lima derajat terhadap ekliptika bumi.

Seberapa Sering Gerhana Terjadi?
Terjadinya Gerhana Matahari
   
Gerhana Matahari
    Ada sebuah kesalahpahaman yang populer di masyarakat yang menganggap bahwa fenomena gerhana matahari adalah kejadian langka. Faktanya, justru sebaliknya. Sekitar sekali setiap 18 bulan (rata-rata), gerhana matahari total selalu terjadi dan bisa terlihat dari beberapa tempat di permukaan Bumi. Mungkin, gerhana matahari dianggap langka karena tidak sering terjadi di Indonesia. Terakhir kali terjadi pada 9 Maret 2016, gerhana matahari baru terjadi lagi di Indonesia pada 26 Desember 2019. Tapi, jarangnya peristiwa gerhana matahari di Indonesia bukan berarti tidak terjadi gerhana matahari di tempat lain. 
    Pada 13 Juli 2018 beberapa hari yang lalu, gerhana matahari terjadi. Peristiwa gerhana matahari parsial tersebut bisa teramati di pesisir selatan Australia, Selandia Baru, hingga Antartika. Indonesia? Tidak kebagian. Bahkan informasi gerhana tersebut saja tidak tersebar layaknya hoaks bumi datar, atau hoaks aphelion yang membuat suhu mendingin. 

Bagaimana dengan gerhana bulan?
    Menurut perhitungan yang dilakukan oleh ahli matematika astronomi, Jean Meeus dan Fred Espenak, dalam periode 5.000 tahun antara tahun 2000 SM hingga 3000 M, akan ada 12.064 kali gerhana bulan. Dari jumlah ini, 3.479 di antaranya merupakan gerhana bulan total, dan sisanya akan menjadi gerhana bulan parsial atau gerhana bulan penumbra. Bila dihitung lagi, rata-rata akan terjadi 2 sampai 3 gerhana bulan per tahun! Dengan kata lain, akan terjadi peristiwa gerhana bulan yang bisa terlihat di sisi malam Bumi sekitar sekali setiap 17 bulan atau lebih. 
   
Gambaran terjadinya tabrakan Benda-benda Langit
    Tapi, mengapa gerhana bulan juga dianggap langka? Saya rasa alasannya sama: gerhana bulan tidak sering terjadi di Indonesia, sehingga kita cenderung menganggap gerhana yang belakangan terjadi ini merupakan sebuah keanehan. Padahal, gerhana hanyalah peristiwa biasa. Jadi, tidak perlu panik dengan gerhana yang sering terjadi sekarang ini, karena memang gerhana adalah peristiwa yang tergolong sering terjadi, kita saja yang kurang wawasan dan gemar mengaitkan gerhana terhadap suatu hal yang mistis. Kecuali apabila lintasan bumi dan Bulan tiba-tiba berubah dan menjadi satu arah yang berakibat terjadinya tabrakan antar Bumi dan Bulan, yang tentunya prediksi ini akan menyebabkan kehancuran pada keduanya dan memusnahkan segala kehidupan di planet Bumi. Hanya Allah, Tuhan yang maha tahu yang dapat merubah skenario pergerakan benda-benda langit yang berakibat terjadinya kiamat, akhir dari kehidupan !

Gerhana Bulan Total 28 Juli 2018
    Pada Tahun 2018 ini, di Indonesia mengalami dua kali Gerhana Bulan Total, yaitu pada 31 Januari 2018 yang lalu dan malam nanti tanggal 28 Juli 2018. Namun ada dua perbedaan pada dua kejadian gejala alam langka di Indonesia ini. Perbedaan pertama antara gerhana Bulan 31 Januari dengan 28 Juli 2018 adalah, waktu kejadiannya. Gerhana Bulan 31 Januari 2018 6 bulan lalu terjadi di awal malam, bahkan mulai dari senja. Sementara gerhana Bulan 28 Juli terjadi selepas tengah malam. Dengan begitu, kita harus begadang untuk mengamatinya. Perbedaan kedua mungkin adalah jarak Bulan dengan Bumi. Pada gerhana Bulan 31 Januari 2018, Bulan berada di terdekat dengan Bumi, atau yang dalam astronomi dikenal sebagai lunar perigee. Sementara untuk gerhana Bulan 28 Juli 2018, Bulan akan berada di jarak terjauhnya dari Bumi, yang mana dikenal sebagai lunar apogee.
    Apa dampaknya? Diameter sudut Bulan akan lebih kecil. Walau begitu, durasi totalitasnya akan lebih panjang, yakni 1 jam 43 menit. Durasi ini merupakan durasi totalitas gerhana Bulan terpanjang di abad ke-21. Durasi yang panjang ini disebabkan karena Bulan akan melintasi bagian tengah bayangan umbra Bumi, sehingga Bulan akan butuh waktu yang lebih lama untuk meninggalkan umbra.

    Gerhana Bulan ini tidak hanya teramati di Indonesia, melainkan juga di seluruh sisi malam Bumi, yakni seluruh Asia, Australia, Eropa, dan Afrika. Sementara untuk Benua Amerika, untuk gerhana kedua ini kurang beruntung, mereka tidak kebagian. Selain menjadi gerhana dengan durasi totalitas terpanjang abad ini, ia juga akan terjadi di awal musim kemarau. Dengan begitu, cuaca berpotensi lebih cerah ketimbang cuaca saat pengamatan gerhana Bulan total 31 Januari 2018 yang lalu.
   Kita bisa mulai mengamatinya mulai pukul 00.14 WIB, saat Bulan purnama mulai memasuki bayangan penumbra Bumi. Selanjutnya, gerhana parsial/sebagian bisa diamati mulai pukul 01.24 WIB. Sekitar satu jam kemudian, atau tepatnya pukul 02.30 WIB, gerhana total akan dimulai. Bulan akan sepenuhnya masuk bayangan umbra Bumi pada pukul 03.21 WIB, yang mana ini merupakan puncak gerhana total, Bulan sedang merah-merahnya. Gerhana total akan terus berlangsung hingga pukul 04.31 WIB, menyisakan gerhana parsial yang akan berlangsung hingga 05.19 WIB. Kita akan melihat gerhana mulai dari ketika Bulan masih berada di langit sekitar atas kepala hingga Bulan akan terbenam. Dengan begitu, pengamatan disarankan dari lokasi yang pandangan ke arah baratnya luas. Tidak dibutuhkan alat bantu pengamatan untuk melihatnya. Mengamati dengan mata telanjang pun bisa-bisa saja. Namun, penggunaan teleskop akan jauh lebih baik. Anda bisa melihat perubahan yang menakjubkan pada wajah Bulan saat gerhana berlangsung.
    Keistimewaan lain dari gerhana Bulan total 28 Juli 2018 ini adalah, gerhana akan berlangsung berbarengan dengan peristiwa hujan meteor Delta Akuarid dan peristiwa oposisi Mars. Hujan meteor sendiri merupakan peristiwa masuknya puing-puing yang ditinggalkan oleh sebuah komet ke atmosfer Bumi. Ketika komet mendekati Matahari, ia akan menguap, meninggalkan sisa-sisa penguapannya sebagai puing-puing meteoroid kecil di angkasa. Dalam waktu-waktu tertentu, Bumi kita melintasi jalur bekas orbit komet ini, sehingga puing-puing yang berjumlah cukup banyak tadi akan menyala di atmosfer bagaikan hujan meteor.

    Nah, hujan meteor Delta Akuarid sendiri berasal dari Komet 96P Machholz. Bumi akan melintasi jalur bekas orbit komet ini pada 27-28 Juli 2018. Walaupun cahaya Bulan yang terang akan meredupkan meteor-meteor kecil, bukan berarti kita tidak bisa mengamatinya. Meteor-meteor diprediksi sesekali akan melesat di langit saat kita sedang kagum mengamati gerhana. Peristiwa lainnya adalah oposisi Mars. Dalam astronomi, oposisi memiliki arti "berlawanan". Dengan kata lain, Mars akan berada pada titik yang berlawanan dari Matahari di langit Bumi. Hal ini terjadi karena Matahari-Bumi-Mars berada segaris lurus di bidang edar tata surya.
    Oposisi Mars adalah peristiwa di mana Planet Merah akan berada di jarak terdekatnya dengan Bumi, sehingga ia akan tampak lebih terang dari biasanya (tidak, Mars tidak akan muncul sebesar Bulan!). Peristiwa oposisi Mars sendiri terjadi pada tanggal 27 Juli 2018, satu hari sebelum gerhana Bulan total, di mana saat itu jarak antara Mars dan Bumi mencapai 57,6 juta kilometer saja. Sementara itu, Mars baru akan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi pada 31 Juli 2018, yakni pada jarak 57,4 juta kilometer. Mars tidak mencapai jarak terdekat dengan Bumi saat oposisi karena orbitnya yang berbentuk elips. Puncak terangnya Mars bisa dinikmati lima hari dari 27-31 Juli 2018. Yang menarik, pada momen gerhana Bulan total, planet Mars akan berada di samping selatan Bulan persis seperti ilustrasi di bawah ini:

    Jangan lewatkan gerhana Bulan total pada 28 Juli 2018. Sebab bila anda melewatkannya, kita di Indonesia harus menunggu setidaknya tiga tahun lagi untuk melihat peristiwa yang sama.

Gerhana Bulan Total Tahun 2019
    Tepatnya pada 26 Mei 2021, peristiwa gerhana Bulan total akan teramati lagi di Indonesia setelah gerhana Bulan 28 Juli 2018. Sungguh akan jadi penantian yang sangat panjang bila anda sengaja melewatkan gerhana malam ini. 
   Memang, pada 21 Januari 2019 nanti, gerhana Bulan total akan terjadi juga, tapi sayangnya Indonesia tidak kebagian. Negara kita berada di sisi siang hari Bumi sehingga tidak berkesempatan melihat gerhana Bulan karena Bulan ada di nadir.
Berikut infografik gerhana Bulan total 21 Januari 2019:

   Dari infografik di atas, kita bisa melihat bahwa peta Indonesia diarsir hitam. Itu tandanya, kita masuk ke area yang tidak kebagian gerhana Bulan total 21 Januari 2019. Hanya Benua Amerika, Afrika, Eropa, Asia Barat, dan Timur Tengah saja yang berkesempatan mengamatinya. Pada saat gerhana Bulan total 21 Januari 2019 dimulai (yakni saat kontak pertama Bulan memasuki bayangan umbra), Indonesia sudah pagi menjelang siang hari, tepatnya pukul 10:33 WIB, yang mana saat itu Bulan sudah tidak ada lagi di langit, terbenam sejak Matahari terbit. Alhasil, kita hanya bisa "mengamatinya" lewat siaran langsung daring dari negara-negara yang berkesempatan melihatnya.

Gerhana Bulan Total Tahun 2021
Lalu, bagaimana dengan gerhana Bulan total 26 Mei 2021?

    Dilihat dari infografik di atas, Indonesia masuk dalam wilayah arsiran putih hingga abu-abu muda. Itu artinya, kita berkesempatan melihat gerhana ini dari awal malam. Tapi, berbeda dengan gerhana Bulan total 28 Juli 2018 yang bisa diamati dari awal fase gerhana hingga gerhana berakhir, gerhana 26 Mei 2021 ini hanya bisa diamati mulai fase gerhana parsial untuk Indonesia timur dan mulai fase gerhana total untuk Indonesia bagian tengah dan barat.
    Gerhana Bulan total 26 Mei 2021 terjadi saat Bulan baru saja terbit di Indonesia. Jadi, pandangan ke arah timur harus terbebas dari bangunan tinggi atau pengunungan. Gerhana ini dimulai pukul 16:44 WIB, yaitu saat Bulan masuk ke bayangan umbra. Puncak gerhana Bulan 26 Mei 2021 akan terjadi pukul 18:18 WIB, lalu gerhana akan berakhir saat Bulan meninggalkan bayangan penumbra Bumi pada pukul 20:49 WIB.

Selain Gerhana Total
    Bila gerhana Bulan total baru akan terjadi lagi tiga tahun dari sekarang, Indonesia masih kebagian gerhana Bulan parsial dan gerhana Bulan penumbral sambil menunggu gerhana 26 Mei 2021 terjadi.Gerhana-gerhana tersebut terjadi pada 17 Juli 2019 (gerhana parsial), 11 Januari 2020 (gerhana penumbral), 6 Juni 2020 (gerhana penumbral), dan 30 November 2020 (gerhana penumbral). Namun tentu saja gerhana-gerhana ini terasa kurang spesial dibandingkan gerhana Bulan total. 
    Maka dari itu, saya hanya mengingatkan sekali lagi, jangan lewatkan gerhana Bulan total 28 Juli 2018 malam ini atau anda hanya bisa menyesal nantinya.

Sumber Referensi : Www.Infoastronomi.Com

Wednesday, January 31, 2018

GERHANA BULAN TOTAL 31 JANUARI 2018

Supermoon (Blood Moon Lunar Eclipse)
   Malam ini, Rabu 31 Januari 2018, sebuah peristiwa gerhana Bulan total bakal teramati di langit seluruh penjuru Indonesia. Indonesia menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mengamati peristiwa yang satu ini. Mulai dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote, semua masyarakat Indonesia berkesempatan untuk melihat peristiwa langka yang terjadi pada satu-satunya satelit alami milik Bumi kita ini.
    Sekadar untuk mengingat kembali, gerhana Bulan total terjadi saat keseluruhan wajah Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Itu terjadi bila Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai Bulan karena terhalangi oleh Bumi. Dengan kata lain, gerhana Bulan total terjadi saat fase Bulan purnama. Tetapi, tidak setiap Bulan purnama akan terjadi gerhana Bulan total. Hal ini disebabkan karena orbit Bulan miring 5 derajat saat mengelilingi Matahari.
Terjadinya Gerhana Bulan
      Pada 31 Januari 2018 malam ini, bidang orbit Bulan berpotongan langsung dengan ekliptika Bumi, membuatnya akan masuk bayangan umbra Bumi sehingga Bulan akan tergerhanai dalam peristiwa gerhana Bulan total. Menariknya, gerhana Bulan total 31 Januari 2018 ini memiliki banyak keistimewaan.

Terjadi Saat Supermoon

Posisi Bulan pada saat gerhana Bulan total 31 Januari 2018 akan bertepatan pada momen ia mencapai titik perigee, atau jarak terdekat dengan Bumi. Hal ini jelas akan membuat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang di langit malam. Para astronom menyebutnya sebagai Bulan purnama perigee, namun tampaknya kini lebih akrab disebut sebagai Supermoon. Ya, gerhana Bulan total 31 Januari 2018 ini akan bertepatan dengan peristiwa Supermoon!
     Supermoon 31 Januari 2018 akan membawa Bulan berada pada jarak sekitar 360.000 kilometer jauhnya dari Bumi. Hal itu akan membuat Bulan tampak dengan diameter sudut sebesar 33'09", cukup besar bila dibandingkan Bulan purnama yang terjadi pada biasanya. Supermoon sendiri bisa terjadi karena jalur orbit Bulan saat mengelilingi Bumi tak melingkar sempurna, melainkan lonjong. Itu artinya, Bulan bisa saja berada ada jarak terdekat dan terjauh dengan Bumi. Bila itik terdekat Bulan dengan Bumi disebut perigee, maka titik terjauhnya disebut apogee.

Terjadi Saat "Blue Moon"

  Bulan tidak akan tampak berwarna biru. Blue Moon atau Bulan Biru hanyalah istilah untuk menyebut Bulan purnama kedua yang terjadi pada satu bulan kalender masehi. Pada Januari 2018 ini, fase Bulan purnama akan terjadi dua kali, yang pertama tanggal 2 Januari, dan yang kedua pada 31 Januari. Bulan purnama kedua tersebut bertepatan dengan peristiwa gerhana Bulan total! Secara astronomis, Bulan Biru terjadi pada pukul 20:27 WIB, saat puncak gerhana Bulan total terjadi. 

Bulan Biru yang Semerah Darah

    Bukannya berwarna biru, pada puncak gerhana Bulan total terjadi justru ia akan muncul dalam rona kemerahan, yang kadang disebut semerah darah. Tapi, tahukah Anda mengapa gerhana Bulan total justru membuat Bulan tampak merah? Bukankah seharusnya gelap karena cahaya Matahari yang menyinarinya terhalang oleh Bumi kita? Bumi memang menghalangi Bulan dari Matahari, tapi walaupun cahaya Matahari yang seharusnya menyiari Bulan telah tertutup oleh Bumi saat puncak gerhana total terjadi, ternyata atmosfer Bumi lah yang berperan dalam membiaskan cahaya merah dari Matahari, sehingga Bulan tidak tampak gelap total, melainkan merah.
Blue Moon
     Jika Bumi tidak memiliki atmosfer, maka saat Bulan berada sepenuhnya di dalam bayangan Bumi saat gerhana total terjadi, Bulan akan tampak gelap dan bahkan mungkin tak terlihat. Namun berkat atmosfer Bumi, kenampakan Bulan pun akan jauh lebih indah. Atmosfer Bumi sendiri meluas sekitar 80 kilometer di atas permukaan Bumi. Selama gerhana Bulan total, saat Bulan masuk dalam bayangan umbra Bumi, ada lingkaran yang melingkar di sekitar Bumi bila kita melihatnya dari permukaan Bulan, yang tidak lain merupakan cincin atmosfer kita. Sinar Matahari terdiri dari berbagai frekuensi. Saat sinar Matahari menerobos atmosfer kita, cahaya berfrekuensi tinggi seperti hijau, biru, dan ungu lebih mudah dihamburkan molekul atmosfer Bumi dibandingkan cahaya berfrekuensi rendah seperti cahaya kuning, oranye dan merah. Penghamburan cahaya berfrekuensi tinggi ini menyebabkan langit berwarna biru di kala siang.     Dengan begitu, cahaya kuning, oranye, dan merah akan dengan mudah melewati atmosfer dengan jalur yang lurus dan hampir tidak akan memantul jika berinteraksi dengan molekul gas di atmosfer. Pembiasan atmosfer akan mengubah arah cahaya tersebut ke arah umbra Bumi, atau bayangan gelap Bumi.   Jika ada objek langit di umbra, seperti Bulan saat gerhana total misalnya, maka cahaya yang terbiaskan akan menyinari Bulan dan dipantulkan menuju sisi malam Bumi (lokasi pengamatan kita). Ketika kita mengamatinya, kita akan melihat warna merah pada Bulan.   Apa yang lebih istimewa selain peristiwa gerhana Bulan total yang bertepatan dengan Supermoon dan Blue Moon sekaligus? Sayangnya, Super-Red-Blue-Moon ini terjadi saat musim hujan sedang berlangsung di Indonesia. Dengan begitu, pengamatan peristiwa langka ini terancam terhalang awan atau bahkan lokasi pengamatan Anda sedang diguyur hujan. 

Proses Terjadinya Gerhana Bulan  
 Proses Terjadinya Gerhana Bulan .Gerhana Bulan total 31 Januari 2018 cukup menarik karena terjadi berbarengan dengan peristiwa lunar perigee, atau jarak terdekat Bulan dengan Bumi kita. Hal ini akan berdampak pada sedikit lebih besarnya ukuran diameter sudut Bulan saat gerhana nanti.Di Indonesia, gerhana Bulan total ini bisa diamati dari awal hingga akhir. Negara kita menjadi salah satu wilayah terbaik untuk mengamatinya karena berada di sisi malam Bumi saat gerhana ini terjadi.

Peta Garis Lintasan Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018
    Gerhana terjadi saat Bulan baru terbit di Indonesia, yang diawali dengan masuknya Bulan ke bayangan penumbra (bayangan terang) Bumi pada pukul 17.51 WIB (18.51 WITA, 19.51 WIT). Arahkan pandangan Anda ke langit timur, dan temukan sisi bawah Bulan yang mulai tampak gelap sedikit di fase awal ini.     Namun, karena Bulan nantinya belum terbit dan langit juga masih terang karena Matahari belum terbenam untuk wilayah Indonesia Barat, maka baru wilayah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur saja yang bisa melihat proses gerhana Bulan penumbra ini.    Selanjutnya, Bulan akan terus bergerak semu melintasi bayangan Bumi. Hingga pada pukul 18.48 WIB (19.48 WITA, 20.48 WIT), kontak pertama Bulan dengan bayangan umbra (bayangan gelap) Bulan akan terjadi. Pada fase kedua ini, Bulan akan tampak "tergigit".   Bulan juga sudah terbit untuk wilayah Indonesia Barat saat memasuki fase kedua ini, sehingga kini seluruh Indonesia sudah bisa menyaksikannya bersama-sama."Gigitan" pada wajah Bulan akibat terhalang bayangan Bumi ini akan membesar. Posisi Bulan juga akan meninggi dari cakrawala timur daerah Anda. Anda akan melihat Bulan purnama yang tidak biasanya hingga pukul 19.51 WIB (20.51 WITA, 21.51 WIT).      Pada saat itu, Bulan yang tadinya gelap akan berubah warna menjadi merah. Ya, fase awal totalitas gerhana Bulan telah terjadi. Bulan tampak merah karena cahaya berfrekuensi rendah dari Matahari dibiaskan oleh atmosfer Bumi ke bagian tengah bayangan umbranya. Karena Bulan berada di tengah umbra saat puncak gerhana total, maka merahlah wajah Bulan. Fase totalitas gerhana Bulan total 31 Januari 2018 ini akan berlangsung selama 1 jam 16 menit. Dengan puncak totalitas akan terjadi pada pukul 20.29 WIB (21.29 WITA, 22.29 WIT). Puncak totalitas itulah fase terbaik bila Anda ingin memotretnya karena Bulan sedang merah-merahnya.  
Fase dan Tahapan Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018
Warna merah Bulan bisa berbeda-beda di berbagai wilayah. Hal ini tergantung seberapa bersih kondisi atmosfer di wilayah pengamatan. Bila atmosfer kotor atau berdebu akibat letusan gunung berapi, warna merah Bulan bisa lebih pekat dibanding warna merah Bulan di lokasi dengan kondisi atmosfer yang bagus dan cuaca cerah.Merahnya wajah Bulan ini akan terus bertahan hingga pukul 21.07 WIB (22.07 WITA, 23.07 WIT), di mana pada saat itu fase totalitas gerhana akan berakhir.      Fase totalitas yang berlangsung cukup lama ini disebabkan karena bayangan Bumi yang besar. Berbeda dengan peristiwa gerhana Matahari total, yang mana Bulan lah yang bertindak dalam menghalangi wajah Matahari, sehingga paling lama berlangsung hanya 7 menit saja akibat Bulan yang diameternya kecil.    Saat fase totalitas berakhir, kita bisa melihat bagian bawah Bulan yang akan terang lagi berwarna putih keabu-abuan.Sampai di sini, gerhana Bulan masih belum berakhir. Kita masih akan melihat gerhana Bulan parsial/sebagian yang akan berlangsung hingga pukul 22.11 WIB (23.11 WITA, 00.11 WIT [1 Februari 2018]).     Di fase ini, kita akan melihat "gigitan" pada wajah Bulan yang tadinya besar lama kelamaan akan mengecil seiring keluarnya Bulan dari bayangan umbra Bumi.Akhirnya, gerhana pun hanya tinggal gerhana Bulan penumbra, fase di mana Bulan masih berada di bayangan penumbra Bumi. Bulan akan benar-benar keluar dari bayangan penumbra Bumi pada pukul 23.08 WIB (00.08 WITA, 01.08 WIT 1 Februari 2018).     Pada waktu itu, Bulan akan kembali seperti sedia kala, dan kita bersiap untuk istirahat setelah lebih dari tiga jam menikmati gerhana.Nah, itulah dia bagaimana proses terjadinya gerhana Bulan total 31 Januari 2018. Seluruh fase gerhana ini bisa kita amati selama cuaca cerah. Bisa pula diamati baik dengan menggunakan teleskop maupun dengan mata telanjang saja. UNDUH:Sebagai panduan pengamatan dua gerhana Bulan total yang terjadi pada 31 Januari dan 28 Juli 2018, silakan unduh buku elektronik panduan gratisnya disini DOWNLOAD

Sumber Referensi : Info Astronomi.Org

Monday, December 14, 2015

ALAM SEMESTA

    Alam semesta adalah ruang maha luas di jagat raya yang berisikan segala sesuatu yang ada. Benda-benda langit, seperti bumi, matahari, planet, tata surya dan galaksi termasuk bagian dari alam semesta. Alam semesta juga dapat berarti totalitas semua benda yang ada dan mencakup proses berlangsungnya. Akan tetapi, para astronom memberikan batasan pengertian alam semesta (Kosmos) sebagai ruang angkasa luar beserta semua benda langit yang dikandungnya. Tidak ada yang tahu pasti berapa luas ukuran alam semesta. Bumi misalnya, hanya salah satu planet yang mengitari matahari dalam tata surya kita. Mataharipun hanya sebuah bintang dalam Bimasakti. Bimasakti juga hanya sebuah galaksi di alam semesta ini. Alam semesta sendiri terdiri dari miliaran galaksi.
Galaksi di Alam Semesta
Pengamatan Alam Semesta
    Penemuan dan perkembangan teknologi teleskop, spektroskop (alat untuk mengamati cahaya), dan teleskop radio membuat kemajuan besar dalam penelitian alam semesta. Para astronom mengamati alam semesta melalui peralatan-peralatan tersebut untuk meneliti cahaya, gelombang radio, dan radiasi antariksa lain yang sampai ke bumi sehingga alam semesta yang dapat mereka amati menjadi jauh lebih luas daripada yang dapat mereka jangkau dengan hanya menggunakan teropong optik biasa. Penemuan ini membawa kepada teori yang menyatakan bahwa alam semesta terus mengembang dan yang dapat diamati sejauh ini baru sebagian kecil dari alam semesta.

Teori Mengenai Alam Semesta
    Pengamatan terhadap alam semesta dilakukan antara lain untuk memperoleh jawaban mengenai kapan dan bagaimana alam semesta mulai ada dan apakah alam semesta akan berakhir. Akan tetapi, baru sebagian kecil rahasia alam semesta yang terungkap melalui pengamatan. Karena itu, beberapa teori dikemukakan oleh para ilmuwan untuk menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta. Ada dua teori yang terkenal, yaitu teori ledakan dahsyat (Bigbang theory) dan teori keadaan tetap (steady state theory)

  1. Teori ledakan dahsyat (Bigbang Theory)  menyatakan bahwa alam semesta dimulai dengan sebuah ledakan besar sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu. Dari ledakan inilah berasal materi-materi yang terdiri dari partikel zat dan massa gas yang membentuk alam semesta. Setelah terjadinya Bigbang tersebut, massa gas-gas berkumpul bersama atau terpisah. Gaya gravitasi kemudian secara perlahan-lahan memadatkan massa gas-gas itu menjadi galaksi.
  2. Teori Keadaan tetap (steady state theory) menyatakan bahwa alam semesta selalu dalam keadaan tetap, tidak berubah sehingga tidak ada artinya menanyakan kapan alam semesta lahir. Ketika galaksi-galaksi bergerak dan bertabrakan, materi pecahan tersebut membentuk galaksi-galaksi yang baru dan begitu seterusnya. Maka, alam semesta selalu tetap, keadaannya tampak sama miliaran tahun yang lau, sekarang maupun miliaran tahun yang akan datang. Alam semesta juga tidak akan pernah berakhir.
    Teori ledakan dahsyat juga meramalkan bahwa alam semesta ini akan berakhir jauh di masa depan. Ini ditandai oleh semakin pudarnya bintang-bintang. Jutaan tahun lagi, bintang-bintang akan mengempis menjadi benda langit yang mampat dan dingin. Pada saat inilah alam semesta berakhir. Meskipun begitu, tidak ada yang mengetahui pasti teori mana yang benar dan apakah alam semesta akan berakhir. Masih diperlukan banyak data dan pengamatan untuk mengenal alam semesta ini lebih luas lagi.

Kuasar
    Di antara benda-benda langit paling jauh yang pernah diamati adalah obyek sangat terang yang disebut Kuasar. Sebuah kuasar mencapai 1.000 kali lebih terang daripada galaksi Bimasakti. Tidak ada yang tahu struktur kuasar, tetapi kuasar tampaknya mengandung sebuah lubang hitam besar pada pusatnya.
 Teori Ledakan dahsyat (Bigbang theory) terbentuknya alam semesta
 Foto dimana posisi awal dan pusat alam semesta
Kuasar di alam semesta

Wednesday, June 18, 2014

NEBULA : PARTIKEL DEBU DAN GAS PEMBENTUK TATA SURYA

   Nebula adalah istilah astronomi untuk sekumpulan awan partikel debu dan gas di luar angkasa. Istilah nebula berasal dari bahasa latin yang berarti awan. Para astronom menggunakan istilah tersebut untuk galaksi jauh di luar Bimasakti. Galaksi seperti itu yang disebut nebula ekstragalaksi tampak seperti bercak cahaya kabur di antara bintang-bintang.
Nebula Tersebar dan Nebula Planeter
Para astronom kini menggunakan istilah nebula untuk kumpulan awan debu dan gas di Bimasakti dan di galaksi lain. Massa nebula digolongkan dalam dua jenis umum : nebula tersebar dan nebula planeter. 
    Nebula tersebar dapat berada dekat sebuah bintang cemerlang yang luar biasa panas. Sinar ultraviolet yang terus menerus keluar dari bintang itu memicu atom-atom gas nebula sehingga memancarkan cahaya. Nebula ini disebut nebula emisi. Para astronom yakin bahwa sebagian nebula emisi merupakan tempat bagi terbentuknya bintang-bintang baru. Gravitasi mengakibatkan sebagian dari debu dan gas nebula berkontruksi menjadi massa yang lebih kecil dan lebih padat. Tekanan dan suhu terbentuk dalam massa debu dan gas ketika kontraksi berlanjut selama jutaan tahun. Pada saatnya massa tersebut menjadi cukup panas sehingga bercahaya dan lahirlah bintang baru.
    Nebula tersebar juga dapat berada dekat sebuah bintang yang dingin atau mati. Dalam hal ini sinar ultra violet dari bintang itu terlalu lemah untuk memicu atom gas nebula untuk memancarkan cahaya. Namun partikel debu dalam nebula ini dapat memantulkan cahaya bintang. Para astronom menyebut nebula ini nebula refleksi. Jika sebuah nebula tersebar terdapat di suatu kawasan yang di dekatnya tidak ada bintang, maka nebula tersebut tidak bisa memancarkan atau memantulkan cahaya sehingga terlihat. Pada kenyataannya, partikel debunya bahkan menggelapkan cahaya dari bintang di belakangnya. Para astronom menyebut nebula ini nebula gelap .
 Animasi Nebula di Alam Semesta
    Adapun Nebula planeter merupakan awan debu dan gas mirip bola yang mengelilingi bintang-bintang tertentu. Nebula ini terbentuk ketika sebuah bintang mulai mati dan melontarkan lapisan atmosfernya ke angkasa. Ketika dilihat melalui sebuah teleskop kecil, nebula planeter tampak memiliki permukaan bulat datar seperti permukaan sebuah planet.
Nebula dan Galaksi
Pada penelitian astronomi masa lalu, kawasan buram di luar angkasa dikenal sebagai nebula. Ketika dilihat melalui teleskop, nebula tersebut mirip dengan komet. Orang yang mencoba menemukan komet dapat mengira sebuah nebula sebagai komet. Untuk menghindari kekeliruan ini, astronom Perancis Charles Messier (1730-1817) membuat daftar nebula utama sejak tahun 1750-an hingga tahun 1784. Ktalog Messier ini memuat sebanyak 110 objek yang dikenali dengan nomor Messier. Selanjtnya ditemukan banyak nebula berbentuk spiral.Sedangkan jawaban apa itu nebula spiral baru ada pada tahun 1924, dengan penemuan Edwin Hubble (1889-1953) astronom Amerika Serikat, bahwa nebula spiral berada sangat jauh di luar Bimasakti. Para astronom menyimpulkan nebula spiral tersebut adalah galaksi independent. Nebula dengan nomor Messier M31 misalnya, ternyata adalah galaksi Andromeda.
Hipotesis Nebula oleh Laplace
Pieere Simon Laplace (1749-1827),astronom asal Perancis, menyatakan teori tentang asal mula sistem tata surya pada tahun 1700-an. Menurut Laplace, sistem tata surya berkembang dari sebuah nebula raksasa amat panas yang berputar . Nebula tersebut kemudian menjadi dingin dan berkontraksi, lalu meninggalkan cincin-cincin materi yang berurutan ketika nebula itu mengecil. Cincin tersebut pada gilirannya menjadi dingin dan berkondensasi sehingga terbentuklah planet. Sisa inti pusat nebula tersebut menjadi matahari . Banyak gagasan Laplace sudah dimodifikasi dengan adanya penemuan baru, namun kebanyakan astronom yakin bahwa sistem Tata surya berkembang dari sebuah nebula.
 Nebula Planetry NGC 2818
 Nebula Planetry NGC 5189
 Nebula Spiral
Nebula Tersebar


Sumber : Ensiklopedi Umum Untuk Pelajar dan Pustaka Alam Life Alam Semesta (The Universe)

Monday, May 19, 2014

KOMET : BINTANG BEREKOR DI TATA SURYA

    Komet atau bintang berekor adalah benda langit kecil yang bergerak mengitari matahari dalam orbit elips. Komet terdiri dari inti (nukleus) serta lapisan seperti awan kabut yang menyelimuti inti (koma) dan sering memanjang membentuk ekor karena pengaruh angin matahari. Ketika sebuah komet mendekati matahari, sebagian inti di permukaannya akan menguap menjadi gas karena pengaruh panas matahari dan membentuk koma serta ekor komet.
    Para astronom percaya bahwa komet terbentuk bersamaan dengan terbentuknya planet-planet tata surya kita sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu. Planet terbentuk dari kumpulan gas, es, bebatuan, dan debu. Sebagian besar es dan debu menjadi bagian dariplanet luar seperti Yupiter, Saturnus dan Uranus. Adapun es dan debu yang tersisa menjadi komet. Komet akan kehilangan sebagian es dan debunya pada saat mendekati matahari, bahkan ada beberapa komet yang kehilangan seluruh kandungan esnya. Komet ini kemudian pecah menjadi awan debu atau berubah menjadi obyek mirip Asteroid. Beberapa partikel debu juga masuk kedalam atmosfer bumi. Karena adanya gesekan dengan lapisan atmosfer, komet akan tampak bersinar seperti meteor atau bintang jatuh.
Animasi Komet
Inti Komet
    Inti komet tersusun atas berbagai jenis partikel debu dan bebatuan yang membeku. Sekitar 80% massa komet adalah es dan sisanya terdiri atas karbon monoksida, karbondioksida, metana dan amonia. Adapun Koma terdiri atas gas yang merupakan hasil penguapan bagian luar inti komet ketika komet mendekati matahari.

Orbit Komet
    Komet memiliki orbit ellips dengan waktu edar mengelilingi matahari yang bermacam-macam dari beberapa tahun hingga puluhan ribu tahun. Lintasan orbit sebagian besar komet sangat luas dan panjang sehingga terkadang berbentuk parabola , tetapi para astronom yakin bahwa orbit komet sebenarnya juga berbentuk ellips, dan jangka waktunya mengelilingi matahari dapat mencapai 40.000 tahun bahkan lebih. Komet Hyakutake yang pernah terlihat dari bumi pada tahun 1996 contohnya, diperkirakan memerlukan waktu 10.000 tahun untuk mengelilingi matahari. Para astronom mengklasifikasikan komet menjadi komet periode pendek dan komet periode panjang. Komet periode pendek, mengelilingi matahari kurang dari 200 tahun, sedangkan komet periode panjang mengelilingi matahari lebih dari 200 tahun. Lintasan orbit komet terkadang bersentuhan dengan lintasan orbit planet. Sebagai akibatnya, ada kemungkinan bahwa komet terkadang bertabrakan dengan planet atau satelitnya. Pada tahun 1994 di bulan Juli misalnya, komet Shoemaker Levy 9 bertabrakan dengan planet Yupiter. Sejumlah komet dengan waktu orbit yang berbeda dan berada dalam lintasan orbit yang hampir sama disebut kelompok komet.

Komet Halley
    Komet Halley adalah salah satu komet paling terang yang mengorbit matahari dan dapat dilihat dari bumi setiap 76 tahun sekali. Nama komet ini berasal dari nama astronom Inggris Edmond Halley, yang melakukan pengamatan mengenai pergerakan komet. Halley mengamati bahwa beberapa komet tertentu terlihat pada tahun 1531 dan 1607 identik dengan komet yang pernah diamati pada tahun 1682. Ia menyimpulkan bahwa semua pengamatan itu mengarah pada satu komet yang bergerak dalam orbit tertentu mengelilingi matahari. Halley memprediksikan bahwa komet tersebut akan muncul kembali pada tahun 1758 dan ternyata komet tersebut memang terlihat pada tahun itu. Komet Halley pertama kali terlihat oleh para astronom cina pada tahun 240 SM. Jarak terdekat antara komet Halley dan matahari terjadi pada 9 Februari 1986. Bumi melintasi orbit komet Halley setiap bulan Mei dan Oktober. Partikel debu yang tertinggal oleh komet akan masuk ke atmosfer bumi, terbakar dan menghasilkan hujan Meteor.
 Komet Halley dari jarak terdekat
Pergerakan Komet
Komet Halley dilihat menggunakan teropong

Tuesday, April 22, 2014

METEOR : BOLA API DI TATA SURYA

    Meteor adalah kilatan cahaya yang melintas cepat di langit. Meteor sering kali disebut bintang jatuh karena tampak seperti bintang yang jatuh dari langit. Orang terkadang juga menyebut meteor yang paling cemerlang sebagai bola api. Meteor berasal dari meteorid. Adapun meteor yang jatuh ke bumi disebut meteorit. Meteor tampak pada ketinggian sekitar 65-120 km di atas bumi dan habis terbakar pada ketinggian sekitar 50-95 km. Akan tetapi, ada juga meteor yang sampai ke permukaan bumi, yang disebut meteorit.
Animasi Meteor
Meteorit
    Berdasarkan materinya, meteorit terbagi atas tiga macam yaitu besi, batu dan campuran batu-besi. Meteorit besi terutama terdiri atas besi dan nikel. Adapun meteorit batu terdiri atas mineral yang kaya silikon dan oksigen, kandungan besi, magnesium, dan unsur lain. Sekelompok meteorit batu yang disebut kondrit , berasal dari serpihan bahan yang sama dengan bahan bentukan planet. Kelompok meteorit batu lain yang disebut akondrit dulunya merupakan bagian dari sebuah asteroid yang cukup besar dan mencair atau terpisah-pisah menjadi obyek yang kaya akan unsur besi dan batuan. Akondrit berasal dari lapisan luarnya , meteorit campuran besi-batu dari lapisan dalamnya, dan meteorit besi dari inti pusatnya yang berunsur logam.
    Ukuran meteorit sangat beragam, kebanyakan berukuran kecil. Meteorit besar yang pernah ditemukan berbobot sekitar 60 ton, yang jatuh di Hoba West, Namibia. Namun obyek yang lebih besar, seperti asteroid dan komet, dapat juga terbentur ke bumi dan menjadi meteorit.
    Meteorit mencapai permukaan bumi karena ukurannya cukup besar ketika melintasi atmosfer bumi. Jika terlalu kecil maka meteor itu akan habis terbakar di Atmosfer. Jika terlalu besar , maka meteor itu dapat meledak sebelum mencapai permukaan bumi.

Meteorid
    Meteorid adalah benda langit berukuran kecil dan bermaterikan logam atau batuan yang bertebaran di ruang angkasa. Meteor terjadi saat sebuah meteorid masuk ke atmosfer bumi. Gesekan dengan atmosfer memanaskan meteorid tersebut sehingga menyala dan menimbulkan sebuah garis cahaya dari gas dan partikel meteorid yang mencair. Gas ini juga mencakup materi meteorid yang menguap dan gas-gas atmosfer yang memanas ketika meteorid tersebut melintasi atmosfer. Setiap hari terjadi jutaan kali meteor di atmosfer bumi. Kebanyakan meteor habis terbakar sebelum mencapai permukaan bumi.

Hujan Meteor
    Terkadang sejumlah meteorid kecil masuk ke atmosfer bumi pada suatu saat tertentu setiap tahun. Pada saat itu, langit tampak dipenuhi dengan hujan cahaya dan kita dapat melihat banyak meteor berjatuhan. Berkas-berkas cahayanya tampak seperti komet. Hal ini terjadi karena bumi melintasi orbit ekor komet atau bekas komet, sehingga sejumlah besar partikel ekor komet tersebut menghujani bumi. Peristiwa ini disebut dengan hujan meteor. Hujan meteor paling cemerlang terjadi pada tanggal 12-13 November 1833. Hujan meteor ini dikenal sebagai hujan Leonid, yang terjadi setiap November dan berasal dari arah konstelasi bintang Leo.

 Hujan Meteor
 Sebuah meteorit yang jatuh meluncur ke bumi
 Meteorit besi
Batu Meteorit

Monday, March 10, 2014

BIMA SAKTI : GALAKSI TEMPAT TATA SURYA KITA BERADA

    Bimasakti atau Milky Way adalah galaksi tempat sistem tata surya kita berada. Galaksi ini memiliki sekitar 100 miliar bintang, termasuk matahari. Selain bintang, Bimasakti juga tersusun atas awan gas dan debu, baik yang berwarna gelap maupun berwarna cemerlang. Para ahli astronomi memperkirakan massa total Bimasakti sekitar 200 milyar kali dari massa matahari.
    Pada malam hari, Bimasakti tampak seperti sabuk bercahaya putih yang samar-samar membentang di langit. Nama Milky Way sendiri berasal dari mitologi Yunani kuno yang mengatakan bahwa sabuk cahaya tersebut berasal dari air susu Hera, istri dari dewa Zeus. Awan gas dan debu yang berukuran besar secara terus menerus membentuk bintang-bintang baru.
    Apabila dilihat dari garis lintang utara agak ke tengah, Bimasakti tampak sangat jelas pada malam yang cerah dan tidak berbulan. Galaksi ini tampak seperti sabuk bercahaya yang mengelilingi langit dari horison Timur laut hingga horison tenggra. Bimasakti terlihat membentang melalui konstelasi Perseus, Cassiopeia dan Cepheus. Bagian paling terang dari Bimasakti terbentang dari Rasi Scutum sampai Scorpio melalui Sagitarius. Pusat Bimasakti terletak pada rasi Sagitarius. Sistem Tata surya kita sebenarnya tidak berada tepat di tengah-tengah Bimasakti, tetapi agak di bagian pinggir dengan jarak sekitar 27.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti (satu tahun cahaya sama dengan 9,46 trilyun km).
Animasi Galaksi Bima Sakti
Galaksi Spiral
    Bimasakti berbentuk seperti cakram pipih dengan bagian pusat yang menonjol. Garis tengah atau diameter galaksi ini adalah sekitar 100.000 tahun cahaya dengan ketebalan tonjolan pada pusatnya mencapai 10.000 tahun cahaya. Semakin ke bagian luar Bimasakti terlihat lebih rata dengan ketebalan hanya beberapa ratus tahun cahaya. Bintang-bintang, awan debu dan gas yang tersebar pada galaksi ini membentuk pola spiral. Oleh sebab itu, para astronom mengklasifikasikan Bimasakti kedalam kelompok galaksi spiral. Letak bintang-bintang di dekat pusat Bimasakti saling berdekatan, sedangkan di bagian lengannya agak berjauhan.  Lengan Bimasakti juga mengandung awan debu dan gas. Awan debu ini tersusun dari unsur hidrogen. Apabila dilihat dari bagian atas, galaksi Bimasakti terlihat seperti roda berputar yang besar.
    Bagian Bimasakti yang agak rata mengandung banyak bintang yang berukuran kecil dan berusia muda. Di bagian ini juga terdapat awan debu dan gas dalam jumlah yang banyak. Adapun bagian tonjolan di pusat galaksi memiliki bintang-bintang yang berusia tua dengan jumlah yang sangat banyak. Tonjolan dan cakram ini dikelilingi oleh lapisan tipis dari bintang-bintang yang disebut sebagai halo.

Lubang Hitam Bimasakti
    Para astronom menyatakan bahwa pusat Bimasakti memiliki energi dan gaya gravitasi yang sangat besar dan sangat kuat. Selain itu,, sebagian besar astronom juga meyakini bahwa galaksi ini mengandung jutaan lubang hitam (black hole). Sejumlah lubang hitam Bimasakti berada pada bintang biner (ganda) yang memancarkan sinar X. Bintang Biner adalah sepasang bintang yang saling mengorbit satu sama lainnya. Kedua bintang tersebut saling mengorbit dalam jarak yang sangat dekat dengan gerakan yang sangat cepat. Sebagai akibatnya, gas dari bintang tersebut tersedot secara dahsyat ke dalam lubang hitam. Friksi antar atom-atom gas akan memanaskan bintang tersebut sampai temperaturnya mencapai jutaan derajat sehingga energi dari gas itu terpancar dalam bentuk sinar X. Radiasi sinar ini dapat didektesi dengan teleskop sinar X.

 Galaksi Bimasakti
 Posisi Matahari pada Bimasakti
Bagan penampang galaksi Bimasakti

Tuesday, February 18, 2014

BINTANG : BOLA GAS RAKSASA DI ALAM SEMESTA

    Bintang adalah bola gas berukuran besar dan bercahaya di langit. Bintang mengeluarkan cahaya dan energi dalam jumlah sangat besar. Matahari merupakan sebuah bintang yang memberikan cahaya serta energi panas bagi bumi. Matahari adalah bintang yang paling dekat letaknya dengan bumi, sehingga tampak seperti sebuah bola. Adapun bintang-bintang lain sangat jauh dari bumi sehingga hanya terlihat seperti titik cahaya.
    Jika kita melihat langit pada malam cerah, kita akan dapat melihat sekitar 3.000 bintang dengan mata telanjang. Dengan bantuan teropong, kita dapat melihat lebih banyak lagi bintang. Akan tetapi, sesungguhnya jumlah bintang di alam semesta sangat banyak. Bimasakti mengandung sekitar 100 miliar bintang, termasuk matahari. Ada lebih dari 100 milyar galaksi tersebar di alam semesta. Jika setiap galaksi mengandung 100 miliyar bintang, diperkirakan ada lebih dari 10 miliar triliun (1022) bintang di alam semesta.
    Bintang yang letaknya paling dekat matahari adalah Proxima Centauri, termasuk didalamnya bintang Alfa Centauri A dan Alfa Centauri B yang berjarak sekitar 40 trilyun km atau 4,2 tahun cahaya. Bintang memiliki energi berupa atom hidrogen dan bersinar selama hidrogen di intinya masih ada. Sebagian besar bintang adalah bintang dalam tahap pembakaran hidrogen. Karena letaknya sangat jauh, maka kita hanya dapat melihat proses pembakarannya seperti cahaya yang keluar dari bintang.
Matahari sebagai Bintang
Ukuran dan Susunan Bintang
    Ukuran bintang beragam, mulai dari 20 km hingga 1,4 miliar km. Matahari termasuk bintang berukuran sedang dengan diameter mencapai sekitar 1,4 juta km. Beberapa bintang berukuran raksasa mencapai ukuran sekitar 1.000 kali besar matahari. Bintang terkecil adalah bintang neutron yang berdiameter sekitar 20 km. Matahari dan kebanyakan bintang-bintang lainnya tersusun dari gas dan substansi seperti gas panas yang disebut dengan plasma. Akan tetapi bintang kerdil putih dan bintang neutron mengandung atom-atom yang padat atau partikel-partikel subatomik. Karena itu, bintang-bintang ini memiliki massa yang sangat padat.

Kecemerlangan Bintang
    Kecemerlangan sebuah bintang dilihat dari bumi tergantung pada dua faktor kecemerlangan sebenarnya dari bintang tersebut, yakni jumlah energi cahaya yang dipancarkan bintang itu, dan jarak antara bumi dan bintang tersebut. Bintang yang berada dekat bumi dan hanya bercahaya kecil terlihat lebih bercahaya daripada bintang yang terletak sangat jauh dari bumi dan bercahaya sangat terang. Alfa Centauri A, misalnya terlihat jauh lebih terang daripada Rigel. Namun sesungguhnya cahaya yang dipancarkan Alfa Centauri hanya 1/100.000 cahaya Rigel. Tetapi jarak Alfa Centauri dari bumi hanya 1/325 dibandingkan jarak Rigel dari bumi yang berjarak 1.400 tahun cahaya.

Klasifikasi Bintang
    Ada banyak klasifikasi bintang, tetapi yang sering digunakan adalah klasifikasi berdasarkan tingkat kecemerlangannya yaitu :

  1. Bintang Maha Raksasa adalah bintang paling cemerlang dan paling besar yang diketahui. Contohnya adalah Antares yang 9.000 kali lebih terang dan 335 kali lebih besar dari matahari, dan Betelgusa yang 14.000 kali lebih terang dan 800 kali lebih besar daripada matahari. Bintang Maha Raksasa terbesar memiliki kecemerlangan 10.000 kali dan 1.000 kali lebih besar daripada matahari.
  2. Bintang Raksasa dengan tingkat kecemerlangan 100 - 200 kali lebih besar daripada matahari dan berdiameter 10 - 100 kali matahari. Contohnya adalah Aldebaran yang 130 kali lebih terang dan berukuran 35 kali lebih besar dari matahari.
  3. Bintang Deret Utama dengan kecemerlangan dan ukurannya 0,1 - 10 kali lebih besar daripada matahari. Matahari termasuk bintang jenis ini. Di kelompok ini kadang dimasukkan bintang kerdil putih yang berukuran kecil seperti planet namun sangat cemerlang.
Ledakan Bintang Neutron (Supernova) seperti inikah Kiamat ?

Supernova
    Bintang memiliki siklus. Mereka lahir, melalui beberapa fase, dan kemudian mati. Sebagian bintang mati dengan cara meledak mengeluarkan energi besar dan melontarkan awan hidrogen, helium dan atom dari intinya. Sesaat setelah meledak , bintang akan bercahaya luar biasa terang. Jika cahaya ledakan tersebut ribuan kali lebih terang disebut supernova. Supernova di galaksi Bimasakti terjadi pada tahun 1054, lalu pada 1572 seperti dilihat oleh Tycho Brahe dan pada tahun 1604 seperti dilihat oleh Johannes Kepler. Supernova terakhir terjadi pada Februari 1987 di galaksi Awan Magellan Besar. Saat itu, ledakannya dapat dilihat dengan mata telanjang, meskipun jaraknya sangat jauh.
 Posisi Matahari dengan bintang-bintang lain di Bimasakti
 Proxima Ceantury, Beta Centauri dan Alpha Centauri
Alpha dan Beta Centauri, Bintang terdekat dengan matahari